Meyra Menghilang

1577 Kata
Kio mematut diri di depan cermin kamarnya. Pria tinggi nan tampan itu telah menggunakan setelan semi formal untuk menghadiri acara pernikahan salah satu sahabatnya. Orang tuanya sudah lebih dulu berangkat. Sebenarnya ia tak ingin datang. Lebih baik ia tidur tenggelam dalam mimpi dari pada melihat Meyra menikah dengan pria lain. Meski pria itu adalah Nathan, sahabatnya sendiri. Ia memacu mobil menuju hotel mewah yang telah khusus direservasi untuk acara malam ini. Tadi pagi ia tak bisa menghadiri akad, karena ia harus menemani sang ayah ke luar kota. Tapi sekarang, ia tak bisa menghindar. Seperti yang diduga, resepsi ini digelar besar dan mewah. Mengingat ayah dari Nathan adalah pengusaha sukses. Souvenir yang disiapkan adalah emas dua puluh dua karat bersertifikat. Memasuki ballroom, semua sudut penuh dengan hiasan lily putih. Kio tersenyum kecil, tentu ia tahu jika bunga itu adalah favorit Meyra. Ia terus berjalan masuk, dan melihat area mempelai penuh. Hingga ia tak bisa melihat kedua pengantin. Yang pertama ia cari adalah Lodi. Kio yakin jika Lodi sedang bersama Wanda sekarang. Tebakannya tepat. Dua orang itu sedang duduk di salah satu meja dinner yang telah di sediakan. Kio duduk di samping Lodi yang belum menyadari kedatangannya. "Lalu sekarang di mana Meyra?" tanya Lodi pada Wanda yang malam ini terbalut dress berwarna ungu. Terlihat manis dan anggun. "Meyra bukannya lagi sama Nathan? Di sana?" Kio yang heran justru balik bertanya. Baik Lodi dan Wanda sama terkejutnya. Tak menyadari sejak kapan sosok Kio berada di sana. "Lo baru dateng?" Lodi mengalihkan pertanyaan sahabatnya itu. "Yo'i. Seharian tadi gue sibuk banget. Tadi gimana akad nikahnya. Kalian dateng 'kan?" "Lo gak baca pesan dari gue?" "Pesan? Tunggu." Kio mengeluarkan ponsel mahalnya dan membuka dua pesan dari Lodi tadi pagi. Sejak pagi ia memang tak mengecek benda pipih itu sama sekali. Terdapat dua pesan, satu pesan teks dan satu lagi video. Kio membaca pesan teks yang berisi kata-kata yang membuatnya bingung. [Lo masih punya kesempatan.] "Maksud lo apa? Kesempatan gimana?" tanya Kio pada kawan di sampingnya. "Liat videonya dulu biar lo paham." Kio tak membantah. Ia memutar video di mana saat itu Nathan sedang mengucap ijab dan dikabulkan oleh pria paruh baya. Kening Kio berkerut, ada yang aneh di sini. Ia mengulang sekali lagi, kini sambil memakai ipod yang Lodi ulurkan. 'Saya terima nikah dan kawinnya Prita Kirani Binti Aziz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ...' 'Sah?' 'Sah ...' Terdengar serempak suara beberapa orang. Kio melepas ipod dan meletakkan pada tangan Lodi. Ia menatap tak percaya pada Lodi dan Wanda yang jika diperhatikan terlihat murung. "Di mana Meyra?" tanya Kio cepat. "Aku gak bisa bilang." "Wanda, tolong katakan di mana Meyra sekarang. Tolong ..." Wanda tahu Kio sangat khawatir. Tetapi ini adalah permintaan Meyra sendiri. Sepupunya itu tak ingin bertemu siapapun. Ia butuh menenangkan diri. "Sorry Kio, tapi aku beneran gak bisa. Biarin dia sendiri dulu." "Lo tenang, gue yakin Meyra baik-baik aja." Lodi tersenyum penuh simpati. Kio bangkit dan dengan cepat Lodi menahannya. Ia takut teman dekatnya itu akan mengacaukan acara. "Lo mau ke mana? Diem di sini. Awas aja lo bikin ribut! Gue laporin sama sama bokap lo." "Lepas!" Kio menepis tangan Lodi dan pergi meninggalkan pesta pernikahan begitu saja. Ia hanya ingin menemukan Meyra. Hanya itu. ** Kio menjalankan mobil tanpa arah dan tujuan. Lampu menyinari setiap sudut kota. Keramaian ibukota kedua ini adalah bagian dari hidupnya semenjak ia lahir dan besar di kota ini. Satu jam kemudian, Kio berhenti di sebuah jalan yang memisahkan dua mall. Di sini cukup sepi. Hanya ada satu dua kendaraan dari mall yang masuk atau keluar. Ia mencoba menghubungi nomor Meyra, berharap ada keajaiban akan tersambung. Namun percuma, masih tidak aktif sejak enam hari yang lalu. Kio menatap sekitar, ia melihat sepasang lansia yang makan bersama di sebuah restoran mungil. Mendadak ia teringat sesuatu. Mimpinya. Mungkin tidak logis. Tapi tak ada salahnya dicoba. Ia sampai di taman yang kira-kira mirip atau nyaris sama dengan di dalam mimpinya. Netranya berbinar, saat melihat siluet seseorang sama dengan ciri Meyra dari belakang. Tinggi sedang, ramping, rambut panjang dengan sweater berwarna salem. Kio berjalan cepat, tak ingin menunda waktu untuk memastikan keadaan wanita yang sedang patah hati itu. Hingga jarak mereka tak sampai satu meter, Kio menepuk pundaknya. Sepertinya wanita itu kaget, ia membalikkan badan. Dan kini berganti Kio yang terkejut. "Mas siapa ya?" tanya wanita asing itu. "Maaf, salah orang. Saya kira teman saya." Kio hendak pergi, bersamaan dengan munculnya pria yang tampak lebih tua darinya. "Ini siapa?" tanyanya dengan nada tak bersahabat. "Bukan siapa-siapa. Ayok." Si wanita mengajak pria itu pergi meski tatapannya masih terarah pada Kio. Sendirian, Kio duduk di kursi yang bersebelahan dengan lampu taman yang bersinar redup. Semilir angin malam mulai mengusiknya. Ia merasa konyol benar-benar datang ke tempat ini hanya karena mimpi. Pria itu memutuskan pulang tak lama kemudian. Besok ia akan mencari Meyra lagi. Begitu Kio baru memasuki rumah, ia bertemu kedua orang tuanya yang juga baru sampai. Mereka mengobrol sembari berjalan menuju ruang tengah. "Kok aneh sih, Yah?" Itu suara Nyonya Anggun yang malam ini tampak bersinar dengan long dress silver. "Aneh kenapa lagi? Cheesecake-nya terlalu manis apa es krimnya yang hambar?" celetuk suaminya sambil terkekeh. Ia sudah hafal jika sang istri akan menjadi komentator dadakan setiap pulang dari acara dengan suguhan kue dan semacamnya. "Ayah ini, di ajak bicara serius kok malah bahas makanan." "Lho, memangnya Bunda tadinya mau bahas apa?" "Tadi di acara anaknya Pak Tyo, bunda salah lihat apa memang mempelai wanitanya bukan Meyra?" "Ohh. Ayah gak tau kalo itu. Ayah cuma ngobrol sebentar sama Pak Tyo terus gak sengaja ketemu teman lama. Tanya Kio aja. Bun, buatkan ayah teh ya. Perut kembung ini," ujarnya. "Hm, udah makan enak di sana, di rumah tau-tau minta dibuatin teh ..." "Teh buatan Bunda yang terbaik pokoknya." "Assalamu'alaikum," ujar Kio yang baru muncul. "Waalaikumsalam. Kamu dari mana?" Nyonya Anggun menatap putranya heran. "Resepsinya Nathan," jawab Kio acuh. "Kok tadi bunda gak keliatan? Ya udah, bukan itu yang penting. Kio, tadi itu mempelai wanita bukan Meyra ya?" Nyonya Anggun mulai mengeluarkan jurus super-ingin tahu ala ibu-ibunya. "Bukan, Nda ..." Kio duduk di sofa. Ia telah menyangka orang tuanya terutama sang ibu akan menanyakan hal ini. Tapi apa yang bisa ia katakan. "Ternyata bunda bukan salah lihat. Pantesan kok liat bunda gak ramah. Beda sama Meyra. Tapi kenapa? Ada yang gak beres ini pasti. Kamu telepon Meyra ya, ajak ke sini besok. Bilang aja bunda kangen." Wanita itu melenggang ke dapur tanpa memperhatikan mimik sang putra yang terlihat tak bertenaga. Iseng. Kio mengeluarkan ponsel. Ia mencoba menghubungi nomor Meyra lagi. Terdapat puluhan log panggilan keluar hanya untuk nomor wanita itu dalam satu hari. Ia meletakkan ponsel pada telinga sembari menyandarkan punggung. Tuuuuuttt. Tuuuuuutt. Awalnya ia hanya mengira sedang berdelusi. Kio membetulkan posisi duduk dan mendengarkan nada tunggu dengan lebih seksama. Benar, panggilannya tersambung. "Halo?" Sebuah suara lembut yang sangat ia rindukan akhirnya terdengar. ** Mentari baru saja terbit. Prita menatap wajah Nathan yang masih tertidur pulas. Tampak polos selayaknya bayi. Tadi setelah shalat subuh, pria ynah telah sah menjadi suaminya itu tidur kembali dan menyetel alarm pukul tujuh. Garis bibir Prita terangkat. Rencananya berjalan dengan sangat mudah. Bahkan kedua ornab tua Nathan langsung menerimanya dengan baik. Ia berharap perlahan, Nathan akan mau memberikan hatinya. "Nathan," panggilnya perlahan. "Hmm ..." "Udah jam tujuh, ayo bangun," ucap Prita sembari membelai lembut rambut hitam suaminya. "Sebentar lagi," jawabnya dengan suara serak. Pria itu masih menutup mata. Namun tak lama kemudian langsung beringsut ke kamar mandi. Prita menghampiri Tata yang juga sudah bangun dan sedang bermain dengan bonekanya. "Kamu mau ke mana?" tanya Prita saat melihat Nathan berdandan rapi setengah jam kemudian. "Bukan urusanmu." Prita diam. Ia paham betul Nathan tak sepenuhnya menerima pernikahan ini. Tapi bukankah sudah terjadi? Dan tidak ada pilihan selain menjalani kenyataan yang ada. Hari pertama sebagai menantu di Keluarga Dirga. Adalah awal yang menyenangkan bagi Prita. Ia melangkah menuju dapur untuk membantu ibu mertuanya membuat sarapan. Tata sudah berada dalam dekapan Enggar yang ia ajak ikut serta. "Gak perlu repot di dapur. Sudah ada yang mengurus semuanya. Kamu siapkan kopi untuk Nathan." "Iya, Ma," jawab Prita sembari tersenyum. Nyonya Laras menatap sosok Prita yang langsung melakukan apa yang ia suruh. Dulu Nathan pernah membawanya ke rumah untuk berkenalan. Nyonya Laras tahu Prita adalah wanita yang sopan namun entah mengapa ia merasa ada yang aneh. Mereka sarapan bersama. Suasana sedikit canggung. Tasya yang biasanya suka bercerita meski dengan mulut penuh kini memilih fokus pada nasi goreng keju favoritnya. Di antara wajah-wajah itu, ada satu yang paling terlihat muram. Tentu saja wajah Nathan. Aura kebahagiaan yang seharusnya terpancar dari wajah pengantin baru, sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. "Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?" Nyonya Laras memperhatikan penampilan putranya yang sepertinya ingin keluar. "Ketemu temen." "Prita gak diajak?" "Lain kali aja. Ini urusan pekerjaan, Ma." Nathan mengunyah makanannya tanpa selera. "Papa udah minta kamu cuti seminggu. Tiket untuk ke Maldives juga udah siap. Kenapa kamu justru sibuk?" Nathan meletakkan sendok dan garpunya meski menu pada piring masih lebih dari setengah. Selera makannya benar-benar hilang sudah. Ia melirik Prita lalu berdiri. "Nathan udah selesai." Pria itu meninggalkan rumah. Ia masih belum rela melepaskan Meyra. Malam pernikahan yang manis harusnya ia lewati dengan belahan jiwanya itu. Bulan madu yang telah ia siapkan dengan matang hingga harus bekerja keras di bulan-bulan terakhir juga hanya menghasilkan nol besar. Meski hasil tes itu menyatakan Tata adalah anaknya, Nathan belum bisa menerima kenyataan. Dan sekarang, ia ingin menemui seseorang untuk memastikan hal yang penting. ** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN