Wajah-wajah cemas terlihat di kursi tunggu sebuah rumah sakit ternama. Setengah jam yang lalu Meyra langsung mendapat penanganan. Kio mondar-mandir di depan pintu, sesekali ia bersandar di dinding bercat abu muda.
"Si Bianca itu gila apa gimana sih?" Wanda mulai berseloroh dengan nada geram.
"Dia sakit. Cuma itu yang bisa aku bilang."
"Terus kenapa harus Meyra yang jadi korbannya."
"Bianca gak jahat. Yang datang ke apartemen kalian tadi itu Shannon."
"Siapa lagi itu Shannon?"
"Bukan hakku untuk cerita. Barusan aku dapat kabar dari bunda kalo Bianca udah pulang. Secepatnya dia akan dapat perawatan untuk psikisnya," terang Kio.
Wanda duduk dengan netra terarah pada layar ponsel. Ia bimbang, haruskah ia memberitahu kejadian ini pada orang tuanya? Jika hal tersebut ia lakukan, maka semua keluarganya akan mengetahui tentang penyakit Meyra. Sama saja ia akan mengingkari janji pada sepupunya itu.
"Apa orang tua Meyra gak ada yang bisa datang?" tanya Kio tiba-tiba seraya duduk di sampingnya.
"Ibunya sudah meninggal dan ayahnya- ah, aku lagi males bahas orang itu," cibir Wanda tanpa mengalihkan pandangan.
"Orang tuamu?" sambung Kio.
"Orang tuaku ada di kota ini juga tapi nanti mereka akan tau kalo ..." Wanda menggigit bibir usai menggantung kalimatnya.
"Jangan katakan kalo Meyra menyembunyikan penyakitnya dari semua orang." Kio menoleh pada wanita di sampingnya.
"Kamu udah tau? Kok bisa?" Wanda menatap pria itu keheranan.
"Secara gak sengaja. Jadi benar gak ada yang tau selain kamu?"
Kio menghela nafas. Diamnya Wanda adalah jawaban. Ia tak mengerti kenapa Meyra harus memendam semuanya sendirian. Bahkan Nathan tak tahu sama sekali.
Dua orang itu sama-sama diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang tempat Meyra di tangani. Kio yang melihatnya langsung berdiri, diikuti Wanda.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Kio.
"Anda keluarga pasien?" Dokter itu balik bertanya dengan wajah serius.
"Saya saudaranya, Dok." Wanda memajukan posisi.
"Silahkan ikut ke ruangan saya. Ada hal penting yang harus disampaikan mengenai kondisi pasien."
Wanda mengangguk dan mengikuti dokter pria paruh baya itu. Kio pun sudah akan melangkah di belakang ketika Wanda memintanya untuk tinggal.
"Aku aja yang bicara sama dokter. Tolong jaga Meyra sebentar," ujarnya.
Tidak ada suara yang keluar dari bibir pria itu. Kio kembali ke kursi dan menatap pintu yang tertutup. Ia sangat ingin tahu bagaimana kondisi terkini Meyra namun ia juga setuju dengan perkataan Wanda.
Usai menemui dokter, Wanda kembali ke tempat Kio. Tetapi kursi panjang itu kosong. Ia segera masuk ke ruangan Meyra kini dirawat. Benar dugaannya, Kio berada di sana. Namun pemandangan di ruangan itu membuatnya terbelalak.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas Kio sedang duduk di kursi tepat di samping ranjang Meyra yang masih belum sadar. Pria itu menggenggam tangan Meyra, meletakkan dalam pipinya.
Seakan tidak cukup, adegan berikutnya tak kalah membuat Wanda ternganga. Sahabat Nathan itu mengecup kening Meyra, dalam dan lama. Wanda selalu ingat bahkan Meyra tak mengijinkan Nathan melakukan hal itu.
Wanda hendak maju, ia harus menghentikan ini sebelum timbul masalah. Namun getaran ponsel dalam genggaman membuatnya urung bergerak.
'Lodi?'
Wanda memilih keluar, untuk mengangkat panggilan sejenak. Ini telepon kedua dalam tiga puluh menit terakhir.
"Halo, aku udah di lobi."
"Oke, aku ke sana."
Dua orang itu bertemu dan duduk di kursi area lobi. Setelah mendengar kabar tentang Meyra dari Wanda, Lodi juga ikut datang. Keakrabannya dengan Nathan membuat pria itu menganggap Meyra sebagai adik.
"Nathan udah tau?" tanya pria dengan outer biru tua itu.
"Astaga, aku sampe lupa gak ngabarin Nathan," ucap Wanda sambil mengambil ponsel dari kantung dressnya.
Lodi memberi waktu Wanda untuk menelepon Nathan. Percakapan tersebut singkat, tak sampai satu menit. Namun setelah memutus panggilan, wanita itu justru merenung.
"Wanda? Halo?"
"Eh? Sorry ..." Wanda tertawa canggung dan kembali diam.
"Apa kata Nathan?"
"Dia usahakan pulang lebih awal. Paling lambat sampai di sini sebelum jam tujuh malam."
Lodi manggut-manggut namun masih mengamati ekspresi Wanda yang seolah menyimpan sesuatu. Rasa penasaran membuatnya lagi-lagi bertanya.
"Kamu kenapa? Masih kepikiran Meyra?"
"Bukan. Hmm, Kio itu aneh ya?"
"Kio? Dia memang aneh dari dulu. Coba aja kamu suruh dia pilih coklat panas atau duit, pasti dia pilih coklat panas ..." Lodi menyuarakan tawa khasnya.
"Isshh, aku serius ini."
"Kamu mau aku seriusin? Udah siap?" Gurauan Lodi makin menjadi.
"Apa sih." Meski tampak merajuk, nyatanya Wanda harus mengalihkan pandangan agar Lodi tak menyadari pipinya yang memerah.
**
Petang pun tiba. Meyra sudah sadar sejak sore tadi. Wanda masih menemaninya, bahkan wanita itu belum makan apapun dari siang.
Seorang perawat membawakan makan malam itu Meyra berupa menu yang baginya hambar. Perutnya tentu saja lapar namun ia tidak ada selera. Ia justru meminta Wanda untuk segera makan.
"Ayo, Meyra, aku suapin ..." Wanda sudah memangku baki berisi nasi beserta pelengkapnya.
"Nanti, setelah kamu makan." Wanita itu menggeleng pelan.
"Aku makan setelah nyuapin kamu. Ayo, nurut ihh ..."
Lagi, Meyra hanya menggeleng. Kini ia menoleh pada jendela yang menampilkan suasana kota di bawah langit yang menghitam. Wanda tak lagi memaksa, ia meletakkan baki kembali ke atas meja.
"Jangan banyak pikiran ya. Ingat pesan dokter."
"Bianca gimana?" Meyra bertanya sembari menatap mata sepupunya itu.
Wanda mendengus mendengar Meyra menyebut nama itu. Jujur saja ia masih kesal. Terlepas dari perkataan Kio jika sebenarnya Bianca tak pernah berniat menyakiti mereka. Toh kenyataannya Meyra yang menjadi korban.
"Kio bilang dia udah pulang. Yang perlu kamu khawatirin sekarang itu bukan orang lain tapi diri kamu sendiri," jelas Wanda. Wanita dua puluh empat tahun itu hendak berbicara lagi namun suara perutnya yang keroncongan membuat dua mereka menahan tawa.
"Tuh 'kan, perutmu udah teriak-teriak minta. Mending kamu makan dulu." Meyra tertawa
"Bilang aja kamu pengen disuapin Nathan. Hm."
"Gak gitu lho ..." Garis bibir Meyra menurun. Wanda hanya geleng-geleng dibuatnya.
"Kalo gitu aku cari makan dulu ya, sebentar."
"Lama juga gak apa-apa," timpal Meyra diiringi tawa.
Di pintu masuk, Wanda berpapasan dengan dua pria yang tadi sore baru pamit untuk pulang. Kio dan Lodi. Wanda menatap Kio tajam hingga pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Mau ke mana?" tanya Lodi pada wanita itu.
"Makan. Kalian jagain Meyra deh. Nathan bentar lagi juga udah dateng." Wanda sudah akan berpaling ketika Lodi justru mengikutinya.
"Satu orang udah cukup untuk jagain Meyra. Aku juga belum makan," ujar Lodi. Diam-diam ia memberi kode mata pada Kio.
Kio paham. Lodi tidaklah lapar karena sebelum ke rumah sakit, mereka sudah makan di restoran sushi. Pria itu hanya ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama sepupu Meyra.
"Tapi, nanti-" Wanda ingin mengatakan jika ia tak bisa membiarkan Meyra dan Kio hanya berdua saja namun Lodi langsung menarik tangannya.
"Udah, ayo ..."
Kio mengedikkan bahu lalu masuk. Hal yang pertama kali ia lihat adalah Meyra yang kini menggunakan ponsel hanya dengan tangan kiri, sementara telapak tangannya yang kanan dibalut perban. Kio menatap baki berisi makanan yang masih utuh.
"Kamu belum makan?"
Meyra yang tak menyadari ada orang lain di kamarnya seketika menoleh. Seperti biasa, wanita itu hanya tersenyum diikuti gelengan. Kio mendekat dan tanpa basa basi mengambil baki.
"Aku tau kamu kesulitan untuk makan karena kondisi tanganmu. Tapi aku bisa membantu. Ayo, buka mulutmu," ujar pria dengan senyum menawan itu.
"Aku ma-"
Kio berhasil menyuapkan satu sendok pertama. Meyra terkejut namun mau tak mau ia harus mengunyah. Suapan kedua dan selanjutnya, tanpa terasa tersisa setengah porsi. Kio nyatanya mampu membuat Meyra menyantap makan malamnya. Namun seseorang mendadak datang.
"Sayang ..." Nathan masuk tanpa mengetuk bertepatan Kio mengangkat sendok untuk ke sekian kalinya.
***
Bersambung.