Angan yang Perlahan Sirna

1028 Kata
Kio dan Lodi mengantar Meyra dan juga Wanda langsung ke apartemen. Kio menggendong tubuh rapuh itu ala bridal style dan membaringkan di sofa dengan sangat hati-hati. "Makasih banyak kalian udah antar aku sama Meyra pulang," ujar Wanda yang terlihat lesu. "Kamu yakin kita gak perlu bawa dia ke rumah sakit?" tanya Kio cemas. "Gak usah. Mudah-mudahan dia cuma shock." "Langsung kabari kalo ada apa-apa," pesan Kio. "Pasti." Wanda tersenyum. Pandangannya pada Kio hari ini berubah. Tak lagi buruk seperti sebelumnya. Tapi ia masih tak bisa membayangkan bagaimana nasib rencana pernikahan Meyra dan Nathan yang tinggal menghitung hari. "Kalian kenal perempuan itu?" Rasa ingin tahu membuat Wanda bertanya. "Iya. Dia mantan kekasih Nathan saat kuliah. Tapi aku gak semudah itu percaya dengan kata-katanya. Dari dulu, kami tau dia bukan perempuan baik-baik," jawab Lodi. "Tapi, gimana kalo ternyata benar itu anak Nathan?" Suara Wanda kini lebih rendah. Tidak ada yang bisa menjawab. Baik Kio maupun Lodi, mereka juga tak memiliki jawaban. Yang pasti, hanya Meyra dan Nathan yang bisa menentukan hubungan mereka selanjutnya. "Aku pulang ya. Nanti aku telepon," ujar Lodi sembari mengusap pipi Wanda lembut. Ia tahu wanitanya sedang kalut. "Iya, kalian hati-hati di jalan," sahut Wanda. Dua pria itu pun keluar dari unit apartemen tempat Meyra dan Wanda tinggal. Kio terlihat marah, ia berjalan cepat menuju pintu lift dengan Lodi mengekor beberapa langkah di belakangnya. "Lo mau ngapain," tahan Lodi. "Gue mau nemuin Nathan. Apa lagi?" "Jangan gegabah. Biarin mereka selesaikan masalah mereka sendiri." Lodi mengingatkan. "Gue gak bisa diem aja. Bisa-bisanya Nathan berhubungan sejauh itu sama Prita. Sampe hamil juga. Gila!" umpat Kio saat mereka sudah berada di dalam lift. "Lo bisa tenang gak? Gue tau lo suka sama Meyra. Tapi kita cuma orang luar dan gak punya hak untuk ikut campur dalam masalah ini. Kalo lo maksa, yang ada keadaan jadi makin runyam. Lo paham 'kan?" Lodi menepuk bahu sahabatnya. Kio diam. Perkataan Lodi benar tapi ia masih belum bisa tenang. Ia teringat akan kata-kata Wanda tentang Meyra hanya mau operasi setelah menikah dengan Nathan. "Nathan telepon, gue yakin sekarang dia ada di rumah. Lo bisa tahan emosi?" Lodi memastikan. Ia tak ingin kedua sahabatnya baku hantam saat bertemu nanti. "Bisa. Tapi gak janji." Tangan Kio masih mengepal, menandakan kemarahannya belum sirna sepenuhnya. Kio mengendarai mobilnya dan mengantar Lodi pulang. Benar saja, Nathan sudah berada di rumah dengan halaman luas itu. Mondar-mandir di teras sambil menempelkan ponsel pada telinga. "Lo langsung balik aja. Soal Nathan biar gue yang urus. Inget kata-kata gue yang tadi. Oke?" Lodi berkata sebelum turun dari mobil. Kio hanya menggumam. Dan langsung melajukan mobilnya setelah Lodi masuk ke dalam pagar rumahnya. ** Meyra sadar beberapa menit kemudian. Wanda yang dari tadi menemani segera membantu ketika wanita itu akan duduk. "Wanda, kok kita udah ada di apartemen? Tadi bukannya ..." Meyra tercekat, mengingat kejadian di taman tadi. Air matanya luruh. Ia menangis dan Wanda tak tahu harus melakukan apa selain menenangkannya. Ia pun merasa marah pada Nathan. Juga pada wanita bernama Prita itu. "Meyra, udah ya jangan nangis. Tadi Lodi bilang yang tadi itu ada kemungkinan gak bener." "Gak bener gimana? Kalo emang Nathan gak ngerasa itu anaknya, dia gak akan mau ketemu Prita. Dia bahkan masih mau simpan pemantik pemberian mantannya itu." Meyra kembali menitikkan air mata. "Iya, udah, udah. Dokter gak bolehin kamu stress. Tenang ya. Semua masalah pasti ada solusi. Mari kita berharap kalo ini cuma ujian menjelang pernikahan kalian." "Pernikahan?" Meyra tertawa miris. Angannya untuk menjadi istri Nathan perlahan menghilang. Ting. Tong. Bel berbunyi. Wanda bangkit dan menghampiri layar interkom. Ia melihat Nathan di sana. Wanita itu ragu harus membuka pintu atau mengacuhkan saja. Akhirnya ia kembali pada Meyra untuk meminta pendapat. "Meyra, ehm, ada Nathan di depan pintu. Mau dibukain gak?" tanyanya hati-hati pada sepupunya yang masih mematung dengan mata sembap. "Buka aja. Mungkin dia mau jelasin sesuatu." Meyra mengusap air matanya dan merapikan rambut yang sedikit kusut. Apapun yang terjadi, ia ingin terlihat baik-baik saja. Wanda menurut meski sebenarnya khawatir. Ia takut kondisi Meyra makin buruk nanti. Wanita itu menuju pintu dan membukannya. Tak menunggu waktu lama, Nathan langsung masuk. "Mana Meyra?" "Di sofa," sahut Wanda datar. "Sayang ..." Nathan duduk di samping wanita yang terlihat pucat itu dan hendak menggenggam tangannya namun Meyra langsung menghindar. "Kenapa kamu ke sini?" tanya Meyra. Wajahnya tampak tenang, tanpa ekspresi. "Aku mau jelasin semuanya. Tadi Lodi udah cerita kalo kamu dengar percakapanku dengan Prita di taman. Tapi itu semua belum pasti. Tolong, kamu percaya sama aku ..." Nathan memelas. "Aku butuh kejelasan, bukan cuma penjelasan. Kamu laki-laki gentle 'kan? Yang berani berbuat juga berani bertanggung jawab?" "I-iya. Tapi aku sendiri gak yakin Tata itu anak aku," ujar Nathan lagi. Meyra menghela nafas sebelum melanjutkan bicara. Hatinya sakit tapi ia tak ingin membiarkan masalah berlarut-larut. "Kita ambil kemungkinan terburuk. Kalo misalnya, Tata itu benar darah daging kamu, apa yang akan kamu lakuin?" Nathan tak langsung menjawab. Ia justru menatap bola mata Meyra yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Ia takkan rela kehilangan wanita ini sampai kapanpun. "Aku ... aku akan bertanggung jawab atas hidupnya. Memberinya nafkah sesuai kewajibanku sebagai ayah. Tapi aku tetap mau kita nikah." Meyra tersenyum dan menggeleng. Nathan tahu ada yang berbeda pada senyum itu. "Aku baru tau kalo kamu adalah orang yang egois ..." Meyra mengalihkan pandangan. "Sayang, tolong jangan seperti ini. Prita cuma mantanku. Aku sama dia udah gak ada ikatan apapun. Serius. Aku berani bersumpah." "Terus kenapa kamu masih simpan pemantik itu? Kenapa?" Nathan mati kutu. Ia juga tak tahu kenapa hingga sekarang masih menyimpan benda dari Prita. Ia tak pernah menyangka jika pemantik berukuran kecil itu akan ikut andil dalam kehancuran hubungannya dengan Meyra. "Aku mau istirahat." Meyra bangkit, hendak menuju kamarnya namun Nathan menarik tangannya. "Apa yang harus kulakuin?" tanya Nathan dengan mata basah. "Aku juga gak tau. Untuk sekarang, kamu pastiin dulu tentang Tata. Baru setelah itu kita bahas pernikahan kita." Meyra melepaskan tangannya dari genggaman Nathan dan masuk ke kamar. Setelah mengunci pintu, tubuh Meyra merosot dan lemas bak kehilangan tulang belulang. Tangisnya kembali pecah dengan tangan memeluk lutut. Hancur sudah semua mimpinya tentang pernikahan yang indah. Orang yang paling ia harapkan menjadi pelindung, nyatanya menjadi orang yang paling menyakitinya. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN