Hinaan Zoey

1092 Kata
Taksi yang Meyra tumpangi melaju lurus menuju apartemen. Harinya sakit, bahkan lebih sakit dibandingkan saat ia harus membatalkan pernikahan mereka. Ia tak pernah menyangka Nathan mampu melakukan hal tersebut. "Pak, berhenti di depan ya." Meyra berusaha bersuara meski air matanya nyaris merebak "Iya, Neng." Pria paruh baya menerima uluran lembar lima puluh ribuan. Ia memeriksa tas kecil guna mengambil kembalian namun Meyra telah keluar usai mengucapkan terima kasih. Tanpa menoleh wanita itu naik menuju unitnya. Pemandangan yang tadi ia lihat di ruangan Nathan tak ayal membuatnya sakit. Meyra masuk dan mendapat lirikan Flo yang sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu. Ia langsung pergi ke kamar. Hal yang paling ingin dilakukannya adalah membersihkan kamarnya dari semua barang yang berhubungan dengan Nathan. Selimut, bantal kecil, belasan boneka, foto-foto, dan juga pernak pernik lainnya. "Kenapa Nathan? Kenapa kamu makin membuatku sulit?" Meyra mengusap air mata yang luruh dan membasahi pipi. Ia terduduk di karpet dan meletakkan kepalanya pada tepi ranjang. Kemarin, ia telah berjanji untuk berhenti menangisi kandasnya hubungan mereka. Tapi sikap Nathan sukses menambah luka pada hatinya. Masih dengan terisak, Meyra bangkit dan berjalan menuju cermin. Ia bisa dengan jelas melihat pantulannya. Mata sembap, hidung memerah dan rambut sedikit kusut. Perhatiannya tertuju pada kalung yang ia kenakan belum genap satu bulan. Liontin kalung itu tak lain adalah cincin berlian yang Nathan berikan saat mereka bertunangan. Meyra memang telah melepaskan cincin itu dari jarinya tapi belum bisa menghilangkan nama Nathan dari dalam hatinya. Beberapa saat hanya diam dan tertegun, sayup-sayup terdengar bunyi bel dari arah pintu depan. Tampaknya ada tamu yang mendadak datang. Meyra memastikan tidak air mata di wajahnya sebelum beringsut ke ruang tamu guna melihat siapa yang tampak di layar interkom. Kening wanita itu berkerut saat mendapati Zoey sedang berdiri dengan rambut diikat kuncir kuda. Tak mendapat jawaban, gadis remaja itu kembali memencet bel. Ting. Tong. Meyra menyiapkan senyumnya lalu membuka pintu. Tapi sama seperti sebelumnya, alih-alih membalas senyum, adiknya itu langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan. "Aku lewat jadi sekalian mampir." Gadis itu duduk dan meletakkan tasnya di sofa. "Ohh. Sendirian?" tanya Meyra berbasa-basi. "Tadinya sama temen sih tapi udah pada balik," sahutnya. "Mau minum?" "Gak usah. Kak Meyra gak jadi nikah ya?" tembak Zoey dengan santai. "Iya." Satu kata penuh luka itu meluncur dari bibir Meyra. "Kenapa? Bukannya rencananya udah mateng sampe bikin papa gak bisa nganteerin aku?" "Kakak lagi gak pengen bahas ini, Zoey." "Tau gitu Kakak harusnya bilang lebih awal dong. Moment itu penting banget tahu gak sih?" Zoey terlihat kesal. Meyra menghela nafas. Ia tak ingin menanggapi gadis itu tapi Zoey masih terus berbicara panjang kali lebar. "Makanya Kak, jangan terlalu naif deh jadi cewek. Kak Nathan 'kan ganteng banget, jangan mimpi deh dia bakal setia," cerocosnya asal. "Zoey, kakak masih ada pekerjaan. Kamu kalo perlu apa, ambil sendiri ya." Mood Meyra yang memang sedang tidak baik makin berantakan setelah kedatangan Zoey. Tapi apalah daya ia tak mungkin mengusir remaja itu. Meyra lebih memilih meninggalkannya sendirian di ruang tamu. "Aku tamu lho, Kak. Masa iya mau ditinggal gitu aja. Pantesan Kak Nathan milih nikah sama cewek lain. Attitude-nya Kak Meyra jelek sih ..." ejek Zoey dengan enteng. "Zoey, cukup ya." Meyra yang sudah siap melangkah kembali menatap gadis dengan cardigan pink yang sedang duduk dengan paha kanan menimpa paha kirinya. "Kenapa? Ada kata-kataku yang salah?" Biasanya Meyra dengan mudah menahan diri, tak peduli apapun ejekan dan sindiran yang sering Zoey lontarkan. Namun kali ini ia ingin meluapkan perasaannya. "Kamu gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Jadi lebih baik kamu diem," ucap Meyra dengan tatapan tak seramah biasanya. "Ih, apaan sih. Aku 'kan cuma ngasih tau. Kakak tuh harusnya sadar diri. Baru juga tinggal di apartemen kelas menengah yang sempit aja mimpi punya suami kaya. Jangan tinggi-tinggi halunya ya Kak. Soalnya kalo jatuh bakal sakit banget." Meyra masih menatap lurus si adik. Bibirnya sudah siap untuk memintanya keluar dari unit apartemen namun Zoey tiba-tiba berdiri. "Aku gak bisa lama-lama di sini. Gerah. Bye Kak." Zoey menyambar tasnya dan berjalan menuju pintu yang tadi ia gunakan untuk masuk. Begitu membuka pintu, ia terperanjat. Di depannya telah berdiri sosok pria berpenampilan mature yang mampu membuatnya tak berkedip. Terdapat sedikit memar pada bagian bawah bibirnya. "Hai ..." Zoey memberi sapaan di iringi senyum manis. Pria bernama Kio itu hanya tersenyum tipis dan melihat Meyra yang masih diam di tempat. "Meyra, kenapa kamu gak mengangkat teleponku?" Ia masuk, melewati ZoeyZoey begitu saja dan menghampiri wanita yang ia sukai. "Ponselku di kamar. Ada apa?" Meyra menatapnya heran. Ini masih jam kantor. "Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Kio jujur. Tatapannya yang hangat membuat Meyra tidak nyaman. Sementara itu, Zoey yang masih terjebak dengan pesona Kio menjadi malas beranjak. Ia berdehem, bermaksud memusatkan perhatian pria itu padanya. "Ehem ..." Meyra dan Kio menoleh. "Ini siapa? Temen Kak Meyra ya?" Zoey seakan lupa akan niatnya untuk pulang. Ia justru kembali mendekati sofa. "Iya. Namanya Kio. Kio, kenalin ini adik aku-" "Zoey!" Zoey menyebutkan namanya sendiri dengan semangat, tak lupa ia menjabat tangan Kio yang hanya diam. "Duduk dulu, aku buatin minum," ujar Meyra yang hendak berjalan menuju dapur tapi Kio segera mencegahnya. "Gak perlu. Kamu cukup duduk di sini." "Kak, biarin aja Kak Meyra bikin minum. Mending kita aja yang duduk," sela Zoey. Meyra menggeleng pelan sebelum beranjak ke dapur. Seakan belum cukup Zoey yang datang untuk memancing emosinya. Kini juga ditambah Kio. Mau tak mau ia harus menahan Zoey di sini. Ia tak ingin hanya berdua saja dengan Kio. Dua gelas thay tea di temani cemilan telah mengisi nampan yang akan Meyra bawa ke ruang tamu. Zoey tampak asyik mengajak ngobrol meski respon Kio tak menunjukkan minat. "Kak Meyra cuma nyiapin ini aja? Gak ada buah atau makanan sehat gitu?" "Sini, duduk. Makasih untuk minumannya." Kio tersenyum usai meminun thay tea buatan Meyra. "Cuma gini doang mah, gampang." Zoey terlihat tak suka melihat Kio perhatian pada kakaknya. "Bukan tentang gampang atau sulit. Aku tau kakakmu membuat ini dengan hati, makanya semua cake dan minuman buatannya selalu enak." Ucapan Kio membuat Meyra menoleh. "Kak Kio ini siapanya Kak Meyra sih? Pacar?" tanya Zoey akhirnya. Sekarang wajahnya tak secerah beberapa menit lalu. "Bukan, Zoey," respon Meyra. "Tapi calon ..." Kio tertawa kecil. Apalagi setelah itu Zoey pergi meninggalkan apartemen tanpa meminum thay tea-nya sama sekali. "Zoey, mau ke mana?" Meyra memanggil gadis remaja itu. Tapi percuma, adik berbeda ibu itu benar-benar pergi kali ini. Blam. Pintu apartemen tertutup. Praktis, Meyra dan Kio kini hanya tinggal berdua saja. Suasana canggung mulai menyelimuti keduanya. "Mau makan siang bersama?" tawar Kio setelah hening beberapa saat. Meyra tersenyum dan mengangguk. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN