Nathan dan Kio menggunakan mobil masing-masing dengan warna yang sama. Hitam. Pikiran dan kecemasan keduanya juga tertuju pada satu nama.
Kio tak bisa meredakan rasa khawatir yang kian menyiksa di benaknya. Di sisi lain, ia yakin jika si peneror psyco itu bukanlah Bianca. Teman masa kecilnya itu terlalu manis dan baik.
Mereka sampai setelah menyusuri jalan perkotaan selama hampir dua puluh menit. Nathan lebih dahulu memasuki parkiran coffeeshop, diikuti mobil Kio.
Pria berpenampilan rapi namun santai itu bergegas masuk tanpa menunggu Kio keluar dari mobil. Ketika sampai di coffeeshop itu, Meyra duduk sendirian, meminum air mineral dari botol berukuran kecil.
"Sayang," panggil Nathan seraya mendekat.
Meyra menoleh dan melambai. Wajah berhias senyum indah itu berganti kaget ketika tiba-tiba Nathan memeluknya sangat erat. Ada apa dengan tunangannya ini?
"Nathan? Ada apa?" bisik Meyra sambil menepuk bahunya. Sikap Nathan tak ayal membuat beberapa pasang mata menatap mereka.
Tepat di depan pintu kaca, Kio melambatkan langkah kaki. Ia paham jika Nathan khawatir. Tapi pemandangan ini membuatnya sesak. Ia ingin marah tanpa tahu apa penyebabnya. Pria itu menatap langit sekilas, menghela nafas lalu mendorong daun pintu pada sisi bertuliskan 'push'.
"Mana Bianca?" tanya Kio setelah Nathan melepas pelukannya pada Meyra.
"Dia baru aja pulang setelah dapat telepon dari mamanya."
Nathan dan Kio kembali bertemu tatap lalu mengangguk. Meyra tak menyadari jika dua pria itu sedang merencanakan sesuatu. Tapi untuk sekarang, keduanya kompak untuk tidak membuat Meyra merasa takut.
Baru saja Kio ingin duduk, dering khas dari ponsel mahalnya berbunyi. Ia tahu itu adalah panggilan dari sekertaris yang ingin mengingatkan tentang meeting dengan klien penting dari Singapura.
"Gue tinggal dulu," ujar pria itu tanpa mengangkat telepon.
"Oke. Thank you Bro," ujar Nathan.
Kio hanya memberi anggukan kecil dilanjutkan dengan senyum simpul untuk Meyra. Kali ini mobilnya melaju lebih kencang. Secepatnya ia
ingin menyelesaikan meeting dan pulang lebih awal.
**
Pukul tiga sore Kio sudah berada di kawasan perumahan elit tempatnya tinggal. Ia bergegas namun tujuan utamanya sekarang adalah rumah Bianca.
"Assalamu'alaikum," ucap pria dengan suara bariton tepat di depan pintu utama rumah bercat kuning gading itu.
"Waalaikumsalam, langsung masuk aja, Den. Nyonya besar ada di dalam." Security yang tak asing dengan Kio muncul dari halaman samping.
"Iya, Pak."
Kio masuk, dan menyadari sudah banyak yang berubah dari rumah besar itu jika dibandingkan dengan ketika ia masih remaja dulu. Langkah kakinya terhenti ketika mendengar sapaan wanita paruh baya yang memiliki hubungan dekat dengan ibunya.
"Kio?"
"Tante, apa Bianca ada di rumah?" tanyanya sopan.
"Bianca ada di kamarnya tapi untuk sementara gak bisa diganggu. Dia sedang kurang sehat."
"Bianca sakit?" Kio merasa ada yang aneh. Bukankah beberapa jam lalu masih bertemu Meyra di luar?
"Cuma sedikit demam, Kio. Apa ada pesan? Nanti biar tante sampaikan kalo Bianca sudah bangun." Wanita lima puluh tahun itu tersenyum.
"Bukan hal yang penting. Kalo gitu Kio permisi, Tante."
"Baiklah."
Kio membalikkan badan, langkah kakinya berjalan pelan menuju pintu keluar yang tadi ia lewati. Dari arah tangga kini ia belakangi, terdengar derap sepatu yang menuruni anak tangga. Kio menahan diri untuk tidak menoleh hingga sampai di pintu masuk. Ia berdiri di balik daun pintu dan mendengarkan.
"Bagaimana keadaannya?" Itu suara Nyonya Sofia, ibunda Bianca.
"Dia tertidur setelah diberi suntikan. Saya sudah meresepkan obat untuk berjaga-jaga jika kejadian tadi terulang. Jangan biarkan dia terlalu banyak pikiran."
"Terima kasih, Dokter."
Kio masih mencuri dengar dari balik pintu dan pindah untuk bersembunyi senjenak di belakang pilar besar. Pria itu membiarkan si dokter wanita berjalan terlebih dahulu menuju mobil yang terparkir tepat di samping mobilnya.
'Jadi Bianca benar-benar sakit? Tapi sakit apa?'
Satu pertanyaan bertambah dalam isi kepala Kio. Teka-teki ini harus segera ia pecahkan. Ia tak ingin ada sesuatu hal buruk terjadi pada Meyra.
**
Malam semakin larut, namun hilir mudik pengunjung club malam di kawasan mall terbesar di Surabaya kala itu makin ramai. Satu per satu mobil memasuki area parkir yang telah disediakan.
Kio masih duduk diam di belakang kemudi mobilnya. Tiga puluh menit sudah sejak ia tiba karena undangan teman lama yang kebetulan hari ini bisa datang ke kota itu. Namun ia sendiri enggan untuk masuk.
Netranya menangkap sepasang pengunjung yang baru keluar dari mobil keluaran California. Si wanita yang masih sangat muda menggelayut manja pada pria yang lebih cocok jika disebut sebagai ayahnya.
Kio tak suka tempat ini, namun demi menghargai sang kawan, pada akhirnya ia masuk. Dua wanita cantik berpakaian minim langsung memberinya sapaan hangat. Bahkan salah satu dari mereka tak ragu untuk menggandeng Kio.
"Datang sendiri? Kami bisa menemani. Ayo kami tunjukkan ruangan VVIP di lantai tiga," ucapnya dengan nada manja yang justru membuat Kio geli. Wanita lain yang memakai dress hitam mengamati penampilan Kio dari atas ke bawah dengan tatapan menggoda.
"Gak sendiri, sorry." Kio langsung melepas tangan wanita itu dan berjalan cepat.
Ia memasuki ruangan besar di mana musik menghentak segera mengisi indra pendengarannya. Cahaya lebih redup namun jelas suasana lebih ramai. Tak sedikit pria dan wanita yang asyik berjoged ria di lantai dansa.
Kio terus berjalan sembari mencari sosok pria seusianya. Hingga tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya penuh semangat.
"Hei, kemana aja lo?" Frans, si pria berpotongan cepak mengajaknya ber-high five.
"Biasa, sibuk kerja. Lo? Masih di tambang?" Kio menanggapi. Mereka berjalan menuju meja bar yang letaknya tak sampai sepuluh meter.
"Ya, bokap gak punya pilihan selain jadiin gue pewaris tambang minyak itu." Pria itu terkekeh, diikuti gelengan dari Kio.
"Malam ini gue yang traktir. Lo mau minum apa? Martini? Tequila? Atau vodka?" tanya Frans.
"Gue udah lama gak minum. Lagian gue harus nyetir sendiri nanti pulangnya. Softdrink aja."
"Cih, gak asyik lo," decih Frans sebelum menghadapi bartender muda di depan mereka.
Kio meneguk softdrink-nya sedangkan Frans menikmati whisky di tangannya. Dua kawan lama itu mulai saling bertanya dengan kesibukan masing-masing. Frans juga sempat menggoda Kio yang telah single selama setahun lebih.
"Lo mau gue kenalin sama temen-temen gue? Tinggal bilang aja mau yang gimana. Model? Pramugari? Artis juga ada," celoteh Frans dibarengi tawa khasnya.
"Gak perlu. Untuk sekarang gue lagi pengen sendiri."
Tepat setelah mengatakan hal itu, pandangan Kio terfokus pada wanita dengan dress tanpa lengan berwarna abu tua. Make up bold dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Kio yakin jika yang ia lihat saat ini adalah Bianca. Tapi bukanlah tadi sore ibunya mengatakan ia sedang sakit?
"Lo nolak tawaran gue tapi sekarang bengong liat tu cewek. Dasar lo!" cibir Frans setelah mengikuti arah pandang Kio.
"Gue kayaknya kenal sama cewek itu," sanggah Kio lalu kembali meneguk minumannya.
"Gue udah ngajak dia kenalan tadi. Namanya Shannon. Cantik sih, tapi jutek banget. Gue rasa bukan tipe lo."
'Shannon?' batin Kio.
***
Bersambung.