Like A Sister

1158 Kata
Mona tersenyum puas mendengar laporan dari orang yang ia bayar untuk mengikuti Kio. Ia tak tahu akan menemukan hal semenarik ini. "Ganteng-ganteng ada bakat jadi pebinor juga ya dia," ungkapnya sambil mengamati foto Kio dan Meyra sedang berdiri bersama di dekat toilet restoran yakiniku. "Lo inget gak dia ngingetin supaya lo cari duit tanpa jatuhin orang lain?" Shanti bersuara. "Halah, munafik! Dia sendiri mau ngrebut cewek sahabatnya sendiri. Gue penasaran gimana kalo sahabatnya tau. Tapi gak ada foto-foto yang seru. Ck." Mona mengamati foto satu per satu. "Terus ikuti dia, pastiin lo dapet angle yang bagus. Dia udah buat gue kesel. Gue pingin hubungan Kio sama orang-orang terdekatnya ancur berkeping-keping!" Wanita itu memberi amplop berisi uang pada pria berhodie hitam. Setelah pria itu pergi, senyum licik terukir di wajah cantiknya. Di tempat lain, orang yang sedang Mona untit sudah pulang ke rumah. Jam baru menunjukkan pukul sembilan. Seusai makan malam, Lodi tak mengijinkannya pulang. Mereka berenam mengunjungi galeri seni yang hanya berjarak lima belas menit berkendara. Rasa tidak nyaman makin menjadi saat pria itu menyadari Meyra menghindari kontak mata dengannya. Ia bertanya-tanya, apa mungkin sikapnya berlebihan? "Assalamu'alaikum," ucap Kio begitu memasuki rumah. "Waalaikumsalam. Anak bunda udah datang. Gimana acaranya?" tanya Nyonya Anggun yang sedang menemani sang suami di ruang tengah. "Gak gimana-gimana, Nda." Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Lelah. "Besok pagi kita kedatangan klien penting, jangan sampai kamu terlambat," ujar Tuan Harri Adhyaksa tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Iya, Yah." Kio menjawab sembari menutup mata. Kata-kata Meyra masih terngiang-ngiang jelas di pikirannya. "Oh iya, tiga hari lagi kan' arisan ibu-ibu kompleks diadakan di rumah. Besok kamu mampir ke cafe Meyra ya." "Ngapain, Nda?" Seketika netra menawan Kio terbuka. "Bunda ingin pesen Roti Kenangan tiga puluh box." "Kenapa harus Kio?" Mendengar pertanyaan sederhana itu, Tuan dan Nyonya Adhyaksa saling tatap. Kio tak pernah seperti ini sebelumnya. Pria itu dikenal penurut dan selalu ingin menyenangkan hati ibunya. Namun tentu saja, terlepas dari urusan perjodohan. "Terus kamu mau bunda ke sana sendiri? Padahal besok masih banyak hal yang harus bunda urus. Pesan catering juga belum." Kio menghela napas. Ia tahu meski tampak marah, bundanya hanya ingin membuatnya merasa bersalah. Pria itu bimbang, untuk saat ini ia merasa hal terbaik yang bisa dilakukan adalah tidak bertemu dengan Meyra. "Turuti saja apa mau bundamu. Apa perlu ayah yang pesan?" Kini ayahnya juga ikut serta, membuat Kio mau tak mau harus setuju. "Iya," jawab Kio singkat. "Ohh, jadi kamu mau ayah yang pesan kue." Tuan Harri menatap putranya, meminta penjelasan. 'Astaga, kenapa ayah dan bunda malam ini jadi suka membuat drama ...' Kio membatin. "Maksudnya besok Kio yang ke sana, Yah." ** Kio memarkirkan mobil di halaman parkir Cafe Choco Toast yang cukup ramai. Tiga mobil lain dan belasan motor sudah berjejer di sana. Pria itu enggan untuk turun. Tapi siapa lagi yang akan memesan roti untuk ibundanya jika ia tidak turun. Pria itu melakukan simulasi dalam otaknya. Ia hanya akan berjalan lurus dari pintu masuk kaca menuju tempat serving. Mengatakan apa keperluannya lalu membayar. Dan selesai. Mudah, bukan? Ya andai saja semudah itu. Tidak ada pilihan, Kio keluar dari mobil. Ia hendak melangkah dengan perasaan campur aduk. Bertemu Meyra adalah sebuah hal yang menyenangkan baginya. Tapi mungkin tidak bagi wanita itu. Ia hampir mencapai pintu ketika mendengar gebrakan meja dari teras samping. Disusul kemudian oleh suara lantang gadis remaja dengan hoodie pink. "Liat aja, aku bakal buat perhitungan!!" umpatnya sebelum berjalan cepat memasuki mobil yang Kio ketahui seharga satu milyar. Tiga pengunjung lain, tukang parkir dan Kio terkejut. Namun hanya pria itu yang penasaran dengan sosok lain yang masih berada di teras samping. Rasa penasaran berubah menjadi khawatir tatkala ia melihat Meyra sedang duduk menyendiri. Menundukkan dengan bahu bergetar. Tanpa aba-aba Kio langsung mendekat. Ia tak peduli dengan peringatan Meyra sehari sebelumnya. "Meyra, kamu kenapa?" Wanita dengan atasan hitam itu mendongak. Kio bisa melihat dengan jelas mata cantik itu memerah dan basah. Namun bibirnya bungkam. "Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Kio mengamati bagian tubuhnya yang sakit. Meyra hanya menggeleng. Air mata masih terus menetes. Dalam jarak sedekat ini, Kio bisa mendengar isakan kecil. Pria itu akhirnya diam, membiarkan Meyra meluapkan emosinya hingga lega. Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah lebih tenang. Meski mata dan hidungnya masih memerah. "Gadis itu yang membuatmu menangis?" tanya Kio hati-hati. "Dia adikku, Zoey," jawab Meyra sembari menatap kedua tangannya yang ia letakkan di pangkuan. "Lalu? Kalian bertengkar? Dia terlihat sangat marah." "Zoey mengikuti tournamen renang antar provinsi di Medan tepat di hari pernikahanku nanti. Awalnya ayah kami lebih mementingkan untuk datang ke tournamen itu. Tapi baru aja dia bilang ayah akan datang ke pernikahan." Kio mendengarkan dengan penuh perhatian, menatap mata Meyra yang selalu terlihat indah baginya. "Mungkin karena aku sempat menemui ayah dua hari lalu. Saat itu aku marah pada ayah. Apa aku salah, Kio?" "Aku gak tau bagaimana hubungan kalian sebelum adanya masalah ini. Tapi kurasa pernikahan adalah moment penting yang diharapkan terjadi sekali seumur hidup. Sudah pasti ayahmu harus datang. Aku akan melakukan hal yang sama jika jadi ayahmu." Kio tersenyum ketika Meyra menatapnya. Mendengar jawaban itu, sorot mata Meyra lebih bersinar. Ia bisa tersenyum. Kio mengalihkan pandangan, merasakan percikan aneh di dalam hatinya. "Makasih. Perasaanku udah jauh lebih baik." "Ya. Sama-sama." Karena gugup, jawaban Kio justru terdengar cuek. "Kio," panggil Meyra. "Iya? Kenapa?" "Maaf, mungkin kata-kataku tadi malam agak berlebihan. Padahal seharusnya aku merasa bersyukur masih ada yang peduli. Aku cuma takut." "Bukan masalah. Kamu adalah calon istri sahabatku. Jadi aku udah menganggapmu sebagai ..." Mendadak lidah Kio kelu. "Adik?" tebak Meyra dengan pandangan mata ceria. "Hmm, iya. Adik. Bunda akan senang jika punya anak perempuan sepertimu." Kio tersenyum. Kebohongan meluncur mulus dari bibir pria itu. Tapi mungkin ini lebih baik. Kio tahu pasti rasa yang ia punya adalah cinta dan mencintai dalam diam jelas menyiksa. Namun ia tak ingin merebut Meyra dari sahabatnya sendiri. "Kamu mau pesan apa? Expresso seperti biasa?" tawar Meyra. Ia sudah hafal menu minuman yang selalu Kio pesan tiap datang ke cafenya. "Boleh juga. Sebenarnya aku ke sini untuk memesan roti." "Tante Anggun?" "Kamu tau?" "Tadi Tante Anggun telepon, katanya pesan Roti Kenangan tiga puluh box masing-masing tiga potong." 'Bunda telepon? Lalu kenapa menyuruhku?' Kio menggeleng dan berbicara dalam hati. "Iya, benar." "Ohh, ya udah. Kamu mau duduk di sini? Biar aku sampaikan pesananmu ke Tony." Meyra menyebut nama salah satu baristanya. "Di dalam aja. Di sini sedikit bising." Dua orang itu berdiri hampir bersamaan. Mereka juga mengambil jalur yang sama yang hanya bisa dilalui satu orang. Kio dan Meyra saling menghindar namun yang terjadi mereka justru berdiri di garis yang sama. "Kamu duluan," ucap Kio yang disambut tawa kecil Meyra. Setelah berjalan beberapa meter, Meyra memasuki pintu depan cafe, diikuti Kio. Di sudut lain tempat itu, seorang pria tengah tersenyum miring. Ia berhasil mengabadikan moment dalam kameranya. Di dalam jepretan, Kio dan Meyra terlihat sangat dekat. Terlalu dekat jika dikatakan mereka tidak memiliki hubungan. "Mona pasti senang," bisik pria itu sebelum menghabiskan coffee latte-nya. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN