Pertemuan Kedua

1047 Kata
Sampai di rumah, Aldo selalu terngiang-ngiang tentang kejadian tadi, baginya luka di pelipis dan di ujung bibirnya tidak terlalu penting dan di bahas terlalu panjang, tetapi yang lebih penting dari itu, siapa pria yang di panggil Kang Goban itu? Pemuda yang telah dua tahun tak memiliki pekerjaan tetap itu bertanya-tanya, dan berangan-angan masuk ke dalam kelompok Kang Goban itu. Dia rasa setelah lulus SMA dengan berbagai kenakalan di cap padanya, menjadi anak buah dari kepala preman seperti Kang Goban itu adalah keinginannya dari dulu. Tetapi masalahnya, jika dia melihat ibu yang telah berjuang mati-matian membesarkan dan memberikannya asupan hal-hal baik, dia jadi tidak tega dan berpikir puluhan kali lipat bergabung dalam kelompok preman yang di takuti orang-orang itu.  “Oh… Bukannya Kang Goban itu baik?” tanyanya pada dirinya sendiri.  Baru saja dia melihat preman sebaik Kang Goban, yang benar-benar mendidik anak buahnya seperti singa yang tak boleh sombong, dan hal itu membuatnya kagum. Sangat kagum malahan. Kalah rasa kagumnya pada musik Rock yang dia gemari selama ini.  Siapa namanya grup itu, Queen band asal Inggris itu memang dia kagumi, namun saat ini yang lebih menonjol dan nomor satu di hatinya adalah Kang Goban, yang tangannya seperti pagoda Brahmana.  “Entah bagaimana caranya, gue harus menjadi anak buahnya!” seru Aldo lagi.  Kemudian dia menyerahkan uang seratus ribu kepada ibunya, meski ibunya agak keheranan dari mana dapatnya, Aldo pun menjelaskan dengan susah payah sambil mengatakan lukanya tidak apa-apa.  “Sebab lebih luka hati ibu saat di tinggal ayah!” batinnya.  Bagi pria, luka seperti yang dia dapatkan tidak ada apa-apanya, kecuali cinta bisa saja dia akan mati, bahkan mati di tempat seperti pasangan yang tidak di restui di luar sana.  Cukuplah uang seratus ribu itu untuk membeli keperluan makan dan obat demam untuk adiknya, membeli vitamin C agar kekebalan tubuh adiknya bertambah, biar tidak sering sakit, soalnya dia yang paling khawatir dan repot.  “Terus kamu akan kerja apa?” tanya ibunya tidak enak hati.  “Seorang pria tidak usah di pikirkan kerja apa ibu. Sudah pasti akan dapat. Kan bisa jadi kuli atau jadi apalah nanti di pasar…” jawab Aldo.  Sambil dia berjalan ke dapur lalu menuangkan air di teko ke gelas kaca, air yang mereka rebus adalah hasil persilangan antara air kran dan air yang di jual di toko-toko. Sambil meneguk air silangan itu, dia mengungkapkan dalam hatinya harus sukses berbisnis dengan Kang Goban. Dia sudah memilih dan menentukan.  Perawakan dan nasihat Kang Goban masih berputar-putar dalam pikirannya, rasanya dia ingin mempercepat waktu agar besok dia bisa bertemu. Tetapi untuk mengawalinya seperti apa. Yang jelas ketiga preman yang dia gebukin tadi pasti marah dan bisa jadi akan balas dendam kepadanya jika nanti di terima dan bergabung dengan mereka. Satu pekerjaan dengan mereka susah juga. Mereka lebih tua dan badannya mekar bagai mawar.  Soal berani tidaknya, dia tetap berani, sebagai pria harus jantan, jika ayam harus berkokok dulu sebelum di adu, sebab hal itu bisa mempengaruhi kekuatannya. Namun untuk menang dari mereka, paling angka dari sekian persentase hanya sepuluh persen, jika memang dia menang itu berarti mukjizat atau keajaiban seperti Rohit dalam film Jadu.  Bisa-bisanya di berpikir seperti itu. Aldo memang di penuhi bintang-bintang putih kecil percaya diri yang berputar-putar di kepalanya, memiliki panah motivasi yang sangat tajam, saking tajamnya apa pun yang dia katakan pasti hal itu yang dia kerjakan. Dia pun pandai memimpin hingga temannya mengikuti perintahnya, meski itu urusan beli membeli, seperti minuman keras atau sebatang rokok eceran di warung Mak.  Keesokan harinya, sore sekali dia kenakan sepatu kesukaannya yang telah bolong di sisi kirinya, setelan agak rapi dari pada sebelumnya, tidak lupa parfum pewangi pakaian dia semprotkan pada pakaiannya. Setelah merasa beres, dia pun berangkat ke pasar sambil berharap Kang Goban sang Naga itu datang.  Birahinya ketemu Kang Goban melebihi nafsunya ketika temannya memperlihatkan wanita cantik di hadapannya, sebab wanita sebenarnya tidak menggairahkan tetapi uang, wanita sebaiknya di berikan tempat lebih dari pada di anggap sebagai pemuas nafsu saja, benarnya wanita itu gumpalan daging yang harus di simpan di dalam hati pria. Tidak seperti ayahnya yang bodoh itu.  Sampai di pasar, cukup heran juga dia dengan kernet bis yang biasa dia tumpangi, saat dia membawa kentrung semuanya jadi gratis, setelah dia mengenakan sepatu dan rapi tak membawa gitar seperti biasanya, dia jadinya di minta untuk membayar.  Tanah pasar yang becek kemarin telah kering, itu hal yang bagus sebab sepatunya tidak akan di lumuri lumpur. Dia pun mengintai basecamp preman tempat kemarin dia di hajar dan menghajar, dia tidak mungkin datang kesana kecuali dia lihat ada Kang Goban, karena Kang Goban akan menyelamatkannya dari preman yang bernafsu menghajarnya.  Tetapi setelah hampir malam, Kang Goban belum dia lihat datang. Hal itu dia ulang-ulang sampai satu minggu, datang ke tempat yang sama dan di waktu yang sama, bahkan selama seminggu itu tiga kali dia datang dari pagi sampai malam tiba. Namun Kang Goban yang dia nanti-nanti tidak ada.  Dia berprasangka buruk tentang bos itu, mungkin saja dia mati atau sakit atau apa saja. Dan yang pasti dia kecewa, mungkin takdir belum atau memang tidak menjodohkannya dengan manusia super itu.  Ini adalah hari terakhirnya dia menunggu, jika hari ini hidung yang tak terlalu mancung Kang Goban tidak terlihat, maka dia putuskan untuk mencari pekerjaan baru dan tidak lagi tertarik mengejar impiannya sebagai seorang kepala preman.  Duduk di antara karung-karung berisi beras, memantau dari jauh sambil berdoa dalam hatinya agar tuhan mempertemukannya dengan Kang Goban. Kakinya selalu gemetarkan seperti seorang yang demam panggung. Hatinya selalu berdetak melebihi kecepatan di hari biasanya.  Kemudian datang yang dia nanti-nantikan dari arah parkiran mobil, dan dia langsung tersenyum ketika melihatnya, namun tetapi hatinya bertambah kencang.  Ini memang pertemuan keduanya, dan bukan pertemuan antara pria dengan wanita, tetapi meskipun begitu, hatinya melebihi batas getaran hingga dia keringat dingin. Saat Kang Goban duduk, dia pun keluar dari tempat beras-beras persembunyiannya selama seminggu ini, di setiap langkahnya percaya bahwa tuhan telah menakdirkan dan hanya menguji kesabarannya. Di depan Kang Goban, di antara ketiga preman yang langsung berdiri kaget melihatnya, dia berkata tanpa basa-basi. “Angkat saya jadi anak buah Anda, dan saya siap di tugaskan dimana saja!” “Siapa namamu?” Tanya Kang Goban bersuara berat. “Aldo Kang.” “Datang malam ini jam dua belas ke Club Sevenfold. Kita akan membuktikan ucapanmu…” pinta Kang Goban. “Baik Kang.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN