Pernikahan kedua Ikhsan

1275 Kata
"Sial!!!" Teriakku prustasi. Bagaimana bisa aku sebodoh ini? Keluar dari kandang singa malah masuk kekandang macan. Airin menarik rambutku dengan kasar. Saat ini dia benar-benar bingung dengan suatasi yang harus dihadapi. Airin mencoba menenangkan diri. Airin yakin jika besok Ikhsan tidak bisa memberikan bukti mengenai istrinya maka ia bisa menolaknya, jadi tidak perlu bingung malam ini, biarlah besok pagi ia meminta bukti terlebih dahulu, dan jika dia bisa membuktikan istrinya menyetujui pernikahan ini, maka Airin akan menggunakan rencana cadangan. Bukankah mereka hanya meminta untuk segera hamil, dan jika dalam beberapa bulan Airin tak kunjung hamil. Pasti istrinya akan menyuruh Ikhsan untuk menceraikannya. Ya. Aku harus sebisa mungkin mencegah kehamilanku. Agar tidak selamanya menjadi istri keduanya. Airin sudah bisa menebak pernikahan apa yang akan ia jalani kedepannya. Bagaimana bisa seorang suami sangat mencintai istrinya tapi menginginkan anak dari perempuan lain dan lebih gilanya lagi sang istri mengijinkannya. Airin masih berpikir jika semua ini adalah hanya bualannya semata, bukankah mereka itu orang kaya? Kenapa mereka tidak mencoba memakai cara dengan bayi tabung saja dari pada harus menikah lagi. Dan apakah istrinya benar-benar menyetujui hal ini? Bukankah didunia ini tidak ada satu wanitapun yang ingin dimadu? Hati perempuan mana yang tidak sakit jika suaminya harus dibagi dengan perempuan lain apapun alasannya. Apakah mereka punya rahasia dibalik rencana ini? Memikirkan hal itu membuat kepala Airin jadi sedikit sakit. Airin lalu mencoba untuk menenangkan diri. Setelah sedikit mulai tenang, ia beranjak keatas tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Keesokan paginya. Ketika ia sedang mandi, pintu kamar terdengar dibuka. Dan benar saja, ketika Airin keluar dari kamar mandi, ternyata laki-laki itu sudah duduk diatas ranjang. "Pagi. Ayo kita sarapan." "Sebentar," "Aku kira kamu akan kabur semalam," "Apakah aku bisa kabur? Aku tidak mau hidup dalam ketakutan jika kabur," "Baguslah setidaknya kamu sadar untuk balas budi," Ia terdiam mendengar hal itu. Karena memang benar apa yang dia ucapkan. Sepertinya Ikhsan lebih tahu apa yang ia pikirkan. "Aku perlu bukti jika istrimu menyetujui pernikahan ini," Ikhsan sedikit terkejut dengan permintaan itu. Dia diam dan melihat kearah Airin. "Kenapa aku harus membuktikannya?" "Jika kamu tidak bisa membuktikan, maka aku berhak menolak pernikahan ini, karena aku sudah bilang dari awal jika aku tidak mau jadi simpanan," "Oh, kamu mau bermain-main denganku?" jawabnya dengan menatap tajam kearah Airin. "Aku tidak mempermainkanmu, jika istrimu benar menyetujui hal ini, maka aku mau menjadi istri keduamu, tapi jika istrimu tidak setuju, aku akan mencari cara agar bisa mengembalikan uangmu," Ikhsan yang mendengar hal itu tersenyum, ia tidak tahu makna dari senyuman itu. "Baiklah, aku akan membuktikan kepadamu," jawabnya, Ikhsan langsung mengambil ponselnya "Ini kamu lihat foto pernikahan kami, dan aku akan menghubungi istriku agar kamu tidak punya alasan lagi menolak pernikahan ini," imbuhnya. Dan benar saja Iksan melakukan panggilan video dengan perempuan yang ada difoto itu. "Hallo, sayang," "Iya, Mas," "Sayang, perempuan yang Mas ceritakan kemarin membutuhkan bukti dari kamu, apakah kamu menyetujui atau tidak pernikahan ini," "Mana orangnya Mas, biar aku yang bicara," Lalu Ikhsan mengarahkan ponselnya kearahku "Aku yang menyuruh suamiku untuk menikah lagi, jadi kamu tidak usah bingung atau takut." Belum sempat ia menjawab, Ikhsan langsung menarik ponselnya kearahnya. "Ya sudah sayang, terima kasih ya, Love you..." "Love you too..." Panggilan berkahir. Setelah panggilan berakhir Ikhsan lalu mendekat kearahnya. "Bagaimana? Sudah puas?" Tanyanya dengan ketus. "Ta-tapi kalian tidak sedang mempermainkan aku kan?" "Permainan seperti apa yang kamu maksudkan?" "Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu kepadaku kan?" "Kamu jangan berbelit-belit, aku sudah membuktikan apa yang kamu minta jadi kamu harus menepati ucapanmu!" belum sempat ia menjawab Ikhsan langsung menarik tangannya dan mengajak untuk pergi. Mereka lalu pergi kesebuah restoran yang terbilang cukup rame. Mungkin karena waktunya sarapan jadi banyak pengunjung yang sedang menikmati sarapannya. Setelah memesan makanan Ikhsan membuka percakapan. "Airin... Dari kemarin aku belum menyebutkan namaku, kamu tidak penasaran dengan hal itu? Airin hanya mengangguk karena ia sedang tidak ingin bicara dengannya, Airin sedang berpikir keras bagaiamana caranya agar semua ini tidak berjalan sesuai dengan rencananya. "Panggil saja aku, Ikhsan. Oh ya nanti sore kita akan menikah. Kamu tidak mau memberitahu keluargamu? Setidaknya aku harus tahu siapa mereka, karena aku juga butuh wali untuk menikahimu." "Mereka sudah lama meninggal." Mas ikhsan diam mendengar jawabanku. "Maaf..." "Tidak apa-apa. Apakah kamu benar-benar ingin menjadikanku sebagai istrimu? Bagaimana jika aku tak kunjung hamil juga?" "Aku yakin kamu pasti hamil." "Kenapa Mas bisa seyakin itu?" "Sudahlah Airin. Pokoknya jadilah istri yang manis untukku." "Mas. Bagaiamana jika kita menggunakan cara dengan bayi tabung saja, jadi kita tidak perlu ada ikatan pernikahan." "Aku tidak mau anakku lahir dari hubungan tanpa pernikahan." "Tapi, bayi tabungkan sama saja itu anakmu dan kamu tidak perlu menyentuhku jadi sudah pasti itu anakmu dan istrimu. Kalian hanya memijam rahimku saja." "Kenapa? Kamu tidak mau menjadi istri keduaku?" "Mas. Tidak ada satupun wanita yang mau suaminya dibagi." "Aku tidak untuk dibagi, kamu hanya akan mengandung dan melahirkan keturunanku dan masalah perasaan lebih baik kamu buang jauh-jauh, karena cintaku hanya untuk istriku." Airin terdiam bingung mau bicara apa. "Jika cintamu hanya untuk istrimu untuk apa ada pernikahan ini?" "Aku butuh anak darimu, jadi kamu tidak usah lagi mencari alasan apapun dan jangan berpikir bisa pergi begitu saja sebelum kamu melahirkan keturunanku!" Airin hanya diam tidak lagi menjawab ucapannya, karena percuma saja. Apa lagi ini ditempat umum. Setelah itu tak ada pembicaraan lagi. Dan tak berselang lama makanan yang kami pesan datang. Kami menikmati makanan itu tanpa bicara satu sama lain. Setelah sarapan. Kami mampir kesebuah Boutiq untuk membeli kebaya. Setelah selesai kami langsung menuju hotel. Setelah didalam kamar tiba-tiba ponsel mas Ikhsan berbunyi. "Hallo sayang." "Iya... Mas sudah katakan semuanya sama Airin." Mendengar namaku disebut aku sedikit terkejut. "Iya dia setuju. Pokoknya kamu tenang saja. Kita pasti segera memiliki momongan." "Sudah dulu ya sayang. Mas mau bersiap. Love you." Setelah sambungan telepon mati. Mas Ikhsan langsung mendekat kearahku. "Dek. Ayo bersiap, acaranya dimajukan jadi jam satu siang." Airin sangat terkejut mendengar hal itu. Mas Ikhsan lalu menyuruhku untuk segera berganti baju dengan kebaya itu. Setelah selesai kami langsung berangkat ketempat dimana penghulu menunggu kami. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami langsung turun dan langsung masuk kedalam sebuah rumah yang cukup besar dan megah. Kami disambut oleh seorang wanita paruh baya. "Tuan... Semua sudah siap. Nyonya pergi duluan karena ada pekerjaan mendadak." "Baik, Mbok." Setelah itu kami langsung masuk, di dalam sudah ada penghulu dan empat orang saksi. Karena orang tuaku sudah meninggal, aku diwali hakimkan sebagai pengganti mendiang Ayah. Ijab qobul berjalan lancar. Setelah penghulu dan saksi pergi. Mas Ikhsan menyuruh wanita paruh baya itu untuk melayaniku. "Mbok Minah. Tolong layani Nyonya Airin. Tunjukkan dimana kamarnya dan tanya apa yang dia mau." "Baik Tuan." "Mari Nyonya, saya tunjukkan dimana kamar Nyonya." Mbok Minah mengajakku menaiki sebuah tangga. Kamarku terletak di lantai dua. Kamar itu sangat mewah. Tak pernah terbayangkan olehku jika aku memiliki kamar semewah dan senyaman ini. Setelah itu Mbok Minah pamit kembali ke dapur. Setelah kepergian mbok Minah. Aku duduk diatas ranjang. Ketika aku sedang kalut. Tiba-tiba pintu terbuka. Mas Ikhsan sudah berdiri disana. "Dek. Mandilah itu ada baju didalam lemari." "Mas... Apakah aku akan tinggal bersama istri pertamamu?" "Ha...ha...ha.... Ya tidak dong Dek. Aku harus bisa menjaga bagaimana perasaan kalian. Rumah ini adalah rumahmu. Memang saat ini sertifikat masih atas namaku tapi jika kamu sudah melahirkan anakku maka rumah ini akan menjadi milikmu." "Mas... Apakah setelah aku melahirkan anakmu, lalu kamu akan menceraikan aku?" "Jangan takut. Aku tidak sekejam itu. Berusahalah menjadi istri yang baik untuk ku. Maka aku akan mempertimbangkanmu." DEG... Terasa perih hatiku ketika mendengar hal itu. Entah mengapa aku merasa jika Mas Ikhsan dan istrinya pasti memiliki sebuah rahasia. Aku harus bisa menguak rahasia itu sebelum aku hamil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN