Yang Sebenarnya

2172 Kata

“Ma…” Erlangga melangkah masuk mendekati ibu dan anaknya. Ia berhenti persis di hadapan Reva yang terlihat gelagapan seraya mengeratkan genggaman pada ponsel yang masih menempel di telinganya. “Nanti Mama telepon lagi, ya.” Reva berbicara di telepon dan langsung mengakhiri sambungan, Menatap ke arah putra semata wayangnya dengan senyum santai. “Papa nginep, kan? Temenin Ane bobok yuk,” pinta Ane sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di kasur. Erlangga menatap ke arah gadis kecilnya kemudian tersenyum. “Iya, Sayang. Nanti Papa temenin, ya. Tapi Papa mandi sebentar.” Lalu ia mengarahkan pandangan pada ibunya yang perlahan berdiri, berbisik pelan, “Aku perlu bicara sama Mama.” Reva menganggukkan kepala seraya berkata, “Kamu bisa bersih-bersih dulu terus temenin Ane tidur.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN