Dia Yang Memberi Luka

1895 Kata

Mayang menghela napasnya pelan seraya melarikan pandangan pada langit malam yang tampak cerah. Angin malam yang berembus pelan membuatnya merapatkan kedua tangan, memeluk tubuhnya sendiri. Ia lupa untuk mengambil selimut tipis yang ada di ruang keluarga sebelum duduk di kursi taman ini. Suasana malam yang hening membuat otaknya kembali memutar semua memori masa kecil yang dilaluinya hanya berdua dengan sang ibu. Saat itu mereka bahagia. Walau hidup seadanya, tapi ia tidak pernah kekurangan cinta. Namun ada kalanya di suatu masa selama masa remajanya, Mayang bertanya-tanya dalam hati seperti apa sosok ayahnya. Mayang sering mendengar dari beberapa tetangga yang tinggal di dekat rumahnya dulu, jika ayahnya pergi karena wanita lain. Para tetangga itu merasa iba pada nasib sang ibu yang di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN