Aku Berdosa

1079 Kata
Tangan Sabrina mengepal, menahan rasa kesalnya pada Ayara yang mengatakan jika ia adalah seorang gundik. Padahal jelas-jelas ia adalah istri resmi dari Beni, akan tetapi dengan seenaknya ia malah berkata yang tidak-tidak padanya. Namun, Sabrina berusaha untuk mengontrol emosinya agar ia tak terpancing oleh Ayara. Bagaimanapun kesalnya saat ini, ia harus tetap sabar dan bertahan. Ia harus tetap terlihat sebagai Sabrina yang baik hati di mata Beni. “Keterlaluan Ayara itu!” Beni geram pada istrinya. Dan seperti biasa dengan lembut Sabrina mengusap tangan Beni, “Sudahlah Mas, biarkan saja. Aku tidak apa-apa, aku mengerti bagaimana perasaan Ayara sekarang, wajar kalau dia belum bisa menerimaku sebagai istrimu.” ujar Sabrina. Beni menghela nafas panjang, lalu kemudian berkata, “Kau terlalu baik, Sabrina. Pantaslah kalau Ayara selalu semena-mena padamu.” “Aku hanya ingin kita hidup rukun di rumah ini.” Beni mengangguk lalu mengajak Sabrina untuk beristirahat di kamar. Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh tubuhnya terasa begitu lelah, dan ia ingin rehat sejenak di kamar bersama dengan istri barunya. Namun, baru saja mereka akan masuk ke dalam kamar. Beni kembali dikejutkan karena ternyata kamar yang biasa ia tempati dalam keadaan terkunci. “Ada apa ini? Kenapa kamarnya terkunci?” Beni masih berusaha membuka pintu kamarnya. Tapi tak lama berselang, Ayara keluar dari sana dan menatap Beni serta Sabrina dengan senyuman. Senyuman menyebalkan ia pasang di wajah cantiknya, sengaja hanya untuk membuat mereka berdua menjadi kesal. “Aku baru saja mau tidur, ada apa?” tanya Ayara. “Ayara, kamar ini …” “Ini kamarku.” potong Ayara. “Tapi …” Sabrina ikut membuka suara, kamar ini kami yang ditempatinya bersama dengan Beni selama Ayara tak ada. Dan kini kamar ini malah ditempati oleh Ayara, jelas ia tak suka dan tak terima. Sebab ia merasa jika Ayara telah merebut miliknya. Ayara menatap Sabrina dengan tatapan sinis, “Kenapa? Sepertinya kau tidak suka aku tidur di kamarku?” “Ayara kamar ini adalah kamar yang biasa kami tempati.” ucap Beni. “Tapi ini adalah kamarku, Mas tidak lupa kan kalau rumah ini adalah rumahku. Yang berarti kamar ini juga kamarku.” Sabrina langsung menatap ke arah Beni, seolah mencari jawaban dari apa yang Ayara katakan padanya. “Benar ini rumah milik Ayara?” tanya Sabrina pada Beni. Beni pun mengangguk, “Iya, rumah ini adalah milik Ayara. Rumah ini aku hadiahkan padanya saat kami menikah.” “Apa?” kali ini Sabrina tidak bisa lagi menahan kekesalannya. Ia mendengus dan memperlihatkan jika ia sangat kecewa pada Beni. “Ayara, bukankah saat itu kau sudah pergi dari rumah. Kenapa kau kembali lagi?” Beni pun mulai kesal sekarang. “Memangnya kenapa kalau aku kembali, rumah ini adalah rumahku.” jawab Ayara, “Dan oh ya, aku ingin besok kalian berdua tinggalkan rumah ini. Untuk malam ini kalian boleh tidur di kamar tamu. Karena barang-barang kalian juga sudah aku pindahkan ke sana. Berkemaslah dari sekarang, agar pagi nanti kalian bisa langsung pergi dari rumah ini.” “Ayara!” “Jangan berteriak di depanku, Mas! Sebaiknya kalian pergi, aku sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.” Brakkk … Ayara pun menutup pintu rumah itu dengan kencang, rasanya ia sudah sangat muak melihat mereka berdua. Di depan pintu kamar, Beni menarik rambutnya sebab merasa frustasi dengan sikap Ayara. Kenapa ia tiba-tiba sangat berubah seperti ini, padahal kemarin ia pergi dan tidak mempermasalahkan tentang rumah ini. Tapi sekarang, entah mengapa ia datang dan menginginkannya juga Sabrina untuk pergi dari rumah. “Kita istirahat saja dulu, besok kita bicarakan baik-baik dengannya.” ajak Beni pada Sabrina, lalu mereka pun kemudian pergi meninggalkan kamar itu dan menuju kamar tamu. — Di tengah malam yang sepi di dalam kamar, Ayara meringkuk di atas ranjang sendirian. Merasakan dinginnya angin malam yang menelusup ke dalam kulitnya. Ia menarik selimutnya, lalu memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya. Tak ada siapapun, tak ada suami yang memeluknya. Ayara kesepian dan hanya ditemani sepi dan suara jam dinding yang menggantung di kamarnya. Pikirannya menerawang tentang Beni dan Sabrina. Pikiran kotornya membuat Ayara tidak bisa tidur dan terus memikirkannya adegan-adegan memuakan yang mungkin saja sedang mereka lakukan sekarang. “Astaga … apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku terus saja memikirkan mereka, menjijikkan!” Ayara berdecih sendirian. “Dasar Beni gatal, pasti kau senang sekali digaruk-garuk oleh Sabrina!” Ayara menggerutu kesal, sampai tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara bunyi pesan di ponselnya. Ting … Kau sedang apa? Apa kau sudah tidur? Ayara membulatkan matanya saat melihat pesan yang tertera di layar ponselnya itu adalah pesan yang dikirim oleh Adam. Ayara menggigit jarinya sebab gugup, “Ya ampun, kenapa Om Adam mengirimkan pesan tengah malam begini?” Aku tahu kau belum tidur? Cepat balas pesanku, atau aku akan memecatmu! Ayara kembali melihat ke arah ponselnya, “Haish .. menyebalkan sekali, pakai acara mengancam segala!” Ayara pun mengambil ponselnya lalu mulai membuka pesan yang dikirimkan oleh Adam padanya. Janganlah memecatku, memangnya Om tidak kasihan pada calon janda ini? Di kamarnya, Adam langsung tersenyum saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Ayara padanya. Ia pun kemudian membalas pesan Ayara. Kalau begitu jangan pura-pura, apa kau tahu jika sekarang aku tidak bisa tidur karenamu. Dan kau pun harus bertanggung jawab untuk itu. Kenapa aku harus bertanggung jawab? ~ Ayara Karena besok pagi aku pasti akan mengantuk di kantor ~ Adam Om adalah bosnya, Om bebas tidur kapan saja ~ Ayara Adam kembali tersenyum, lalu mengetikan kembali tangannya pada layar benda pipih miliknya Aku akan tidur jika kau mau menemaniku ~ Adam Apa ~ Ayara Ayara, aku tidak akan pernah melupakan malam yang kita lalui bersama ~ Adam Om … bisakah jangan membahas itu? ~ Ayara Adam pun tidak membalas lagi pesan Ayara, ia melemparkan ponselnya lalu menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya. “Sepertinya kau memang tidak menginginkannya lagi? Tapi aku tidak akan menyerah, kau harus kembali ke dalam pelukanku. Dan aku akan kembali menyentuhmu.” batin Adam. Di kamarnya, Ayara terus menatap ponsel berharap jika Adam kembali membalas pesannya. “Astaga … apa yang aku pikirkan? Kenapa aku ingin Om Adam membalas pesanku? Bagaimana kalau Om Adam …” Ayara tak melanjutkan lagi ucapannya, tiba-tiba saja pikirannya kembali menerawang dan membayangkan Adam yang malam itu menyentuhnya. Malam yang begitu panas hingga saat Ayara bulu-bulu halus di tangannya berdiri kala ia mengingat sentuhan Adam padanya. “Ya Tuhan … aku sudah sangat berdosa.” gumam Ayara, meskipun tak ia pungkiri jika Ayara pun menikmati semua itu. Namun, untuk melakukannya lagi sepertinya ia tidak akan pernah bisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN