Sepanjang perjalanan menuju kantor, Ayara terus memikirkan tentang perkataan Adam yang menyatakan jika ia harus mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan.
Tapi kenapa? Apa maksudnya? Sungguh Ayara tak mengerti dengan suami ini.
Ketidak sadarannya semalam telah membawa Ayara ke dalam sebuah dosa besar yang tak seharusnya ia lakukan. Ayara membenci perselingkuhan dan hubungan terlarang seperti yang dilakukan oleh Beni dan Sabrina. Namun, ternyata ia juga telah melakukan kesalahan yang amat besar dengan paman suaminya. Jika begini apa bedanya Ayara dengan para pengkhianat itu?
Adam mendengar beberapa kali hembusan berat nafas Ayara, nampak sangat jelas jika ia sedang memikirkan begitu banyak hal. Dan yang pasti ia tengah memikirkan apa yang mereka lakukan semalam.
Jika dikatakan menyesal, Adam sama sekali tidak menyesal. Karena sejujurnya ia menikmati apa yang mereka lakukan, dan sepertinya Adam menginginkannya lagi. Katakanlah jika ia memang b***t. Tapi sungguh ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri dimana ia sangat menikmati peristiwa terlarang semalam.
“Om ..” panggil Ayara, jika berada di luar kantor terkadang Ayara memang selalu memanggilnya dengan sebutan Om. Namun, jika di kantor, ia akan memanggilnya Pak, karena bagaimanapun juga ia harus profesional dalam bekerja.
“Ada apa?”Adam melirik sedikit ke arah Ayara, lalu kembali fokus ke depan, sebab ia sedang mengemudi.
“Tentang semalam …”
“Nanti saja membahasnya, saat ini sebaiknya kau fokus pada pekerjaanmu.”
Ayara tak menjawab kemudian mengangguk tanda setuju, sepertinya sekarang ini memang bukan saat yang tepat untuk membicarakan permasalahan mereka. Karena ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.
—
Di rumahnya, sebagai pengantin baru hari ini Beni tidak bekerja karena ingin menikmati waktunya berdua dengan Sabrina.
Mereka juga berencana akan pergi bulan madu, akan tetapi mereka akan beristirahat satu hari di rumah. Dan keesokan harinya, barulah mereka akan berangkat untuk pergi bulan madu.
“Sangat disayangkan Ayara tidak ada bersama dengan kita, padahal kita bisa pergi sama-sama.” ucap Sabrina kala itu, ia menyandarkan kepalanya di bahu Beni sambil mengelus perlahan dadanya dan bermanja di sana. Hal yang sangat Beni suka.
“Untuk apa mengajaknya, kau ingin dia mengganggu kebersamaan kita.” jawab Beni.
“Mas, Ayara itu sahabat aku. Jelas aku ingin Ayara merasakan kebahagiaan yang aku rasakan. Aku merasa bersalah karena telah merebut cintamu, seharusnya aku bisa berbagi kebahagiaan dengannya.”
“Tapi dia sendiri yang tidak mau berbagi suami, pikirannya sempit tidak sepertimu. Andaikan Ayara memiliki pemikiran sepertimu, pasti hidup kita akan damai dan bahagia. Bukan penuh pertengkaran seperti ini.”
Perasaan Beni terhadap Ayara, nyatanya belum hilang sepenuhnya. Masih ada rasa cinta yang tersimpan dalam hatinya. Namun, selama ini rasa cinta itu terhalang oleh nafsu dan ambisinya pada Sabrina. Hingga ia melupakan Ayara, wanita yang sejak dulu sangat ia cintai.
Lamanya penantian dan keinginannya tentang memiliki anak, juga hasutan ibunya yang selalu mengatakan untuk meninggalkan Ayara, mampu membuat hatinya rapuh dan pada akhirnya ia mengkhianati Ayara, dan berselingkuh dengan Sabrina.
“Nanti Mas bujuk saja, agar Ayara tinggal bersama dengan kita, aku juga butuh seseorang untuk menemaniku.”
“Tapi Ayara juga bekerja, dia tidak akan bisa menemanimu.”
Sabrina menghela nafas, lalu menatap Beni dengan tatapan sedih. “Mas, aku ingin memperbaiki hubungan kami, tolong bujuk dia. Jangan biarkan kemarahan Ayara berlarut-larut seperti ini, semakin Ayara marah padaku, aku jadi semakin merasa bersalah.”
Dengan lembut Beni mengelus pipi mulus Sabrina, “Kau memang wanita baik hati, aku tidak salah memilihmu.”
Sabrina tersenyum lalu memeluk Beni, ia senang karena Beni sangat mencintainya. Sudah sejak lama ia memiliki perasaan pada Beni, dan akhirnya ia berhasil memilikinya meski harus menyakiti perasaan Ayara.
‘Aku tidak perlu merasa bersalah pada Ayara, nyatanya ia duluan yang menyakiti perasaanku. Selama ini sudah terlalu lama ia memiliki Mas Beni, dan kini giliranku untuk memilikinya. Dan giliran Ayara yang harus merasakan rasa sakit yang aku rasakan.’
—
Di kantor Ayara melakukan pekerjaannya, meski sejujurnya ia tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang ia kerjakan saat ini. Bayangan saat i bergumul dengan Adam melintas dalam pikirannya.
“Bodohnya aku menganggap jika itu adalah mimpi.” gumamnya sambil memijat kepala.
“Ayara, ikut aku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” tiba-tiba saja Adam berada di depannya, sejak kapan pria ini berada di sana pikir Ayara. Banyak pikiran membuat ia tak bisa berpikir rupanya.
“Baik, Pak.” jawabnya lalu bangkit dari duduknya lalu mengikuti Adam masuk ke dalam ruangannya.
Setelah berada di dalam ruangan, Adam mempersilahkan Ayara duduk di sofa yang ada di ruangan itu, mereka berdua duduk bersebrangan.
Ayara diam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Adam, jujur saja ia marah pada pria ini. Tapi ia tak bisa menyalahkannya karena memang Ayara yang salah yang telah mabuk dan menggodanya.
“Kau sudah tahu apa yang akan aku katakan padamu, aku ingin membicarakan apa yang kita lakukan semalam.” Adam membuka percakapan mereka.
“Pak, bisakah kita lupakan saja kejadian itu. Dan maafkan aku karena aku sudah lancang, sungguh semalam aku tidak menyadari apapun aku …”
“Setelah membuatku candu, dengan mudahnya kau berkata jika aku harus melupakannya?”
“Apa?” Ayara terperanjat dengan perkataan Adam, candu katanya? Apa ia tidak salah bicara? “Pak, anda tidak lupa kan status kita?” Ayara mencoba mengingatkan Adam tentang status mereka, Ayara masih sah istri dari Beni dan juga Adam merupakan paman dari pria yang masih menjadi suaminya itu.
“Aku hanya paman angkatnya, kami tidak memiliki hubungan darah.”
“Tapi bukan itu inti permasalahannya, aku ini wanita yang masih memiliki suami. Sangat salah jika kita melakukan hal yang terjadi seperti semalam.” Ayara mulai kesal, ia ingin berontak dan mengubah jalan pikiran Adam.
“Aku tahu, tapi jujur saja aku tidak ingin mengakhirinya. Dan aku pun tahu kalau kau pun juga menikmatinya.”
“Om!!!” Ayara meninggikan suaranya, dan ia pun mulai memanggilnya dengan sebutan Om, agar ia sadar apa status mereka sekarang.
Adam bangkit lalu berpindah ke samping Ayara, “Kenapa? Yang aku katakan benar kan?”
Ayara beringsut menjauhi Adam, ia memalingkan wajah sebab tak suka mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Adam.
Jujur saja ia memang menikmatinya, sebagai seorang wanita Ayara memiliki hasrat dan ingin melakukan hubungan itu. Namun, ia tidak ingin melakukannya dengan pria lain, tapi ia juga tidak ingin melakukannya dengan Beni yang telah menyentuh Sabrina, itu menjijikan.
Dalam lamunannya, Ayara terperanjat ketika tangan Adam menariknya hingga ia berada sangat dekat dengan Adam. Wajah mereka berdekatan, hidung mereka bersentuhan hingga deru nafas berat Adam terasa menerpa wajahnya. “O-om …”
“Jangan pernah membohongimu dirimu, Ayara. Aku tahu kau menginginkannya, begitu juga denganku. Tak bisakah kau jujur dengan apa yang hatimu katakan.”
“Apa? L-lepaskan aku, Om.”
“Tidak akan.” jawabnya lalu Adam kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Ayara, dan merasakan rasa manis yang semalam ia rasakan dan Adam ingin merasakannya lagi.
‘Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Ayara.’