Dalam suasana yang penuh ketegangan, Xavier perlahan mengusap bibir Jasmine dengan ujung jari. Cemburu telah membara di dalam d**a, perasaannya tak terkendali. Bayangan ketika Bernard mencium Jasmine membuat dia benci pada kemesraan mereka berdua. Bukan hanya sekarang saja, tetapi sudah sejak lama dan bertumpuk-tumpuk. “Aku tidak suka pria sialan itu mencium bibirmu, Jasmine.” Xavier berkata begitu menekankan dan tajam, penuh kobaran amarah cemburu. Jasmine tersenyum sinis, dengan tatapan mata tajam. “Jika kau tidak lupa ingatan, Bernard adalah kekasihku. Jangan bercanda. Kau tidak memiliki hak untuk marah.” “Aku marah, karena kau hanyalah milikku.” Xavier mendekatkan wajahnya perlahan, hendak mencium Jasmine agar noda dari pria lain dapat menghilang. Namun, sebelum bibir mereka dapat

