“Oke, pertama-tama, gue tau kalau gue ini tampan—“ Langit langsung berdeham ketika Awan, Enrico dan Jingga menatapnya dengan tatapan malas, seolah-olah cowok itu tidak pantas untuk mendapatkan satu detik pun dari perhatian mereka mengenai apa yang baru saja diucapkan olehnya. Dia mengusap tengkuknya dan menarik napas panjang. “—Ralat, kalau gue ini lebih tua lima tahun dibandingkan kalian. Gue juga tau kalau Senja itu cuma anak SMA biasa dan gue statusnya jauh di atas dia karena gue seorang mahasiswa. Tapi....” Langit menatap horor ke arah saudara kembarnya, teman masa kecilnya dan adik sepupunya tersebut. “Kalian juga tau, kan, kalau Senja itu seramnya ampun-ampunan?” Jingga mendengus, pun dengan Enrico. Cowok itu sampai memijat pangkal hidungnya dan

