Aku menatap Aurora yang terus memandang ke bawah dari ketinggian 18.000 kaki. Beberapa kali ia berdecak kagum, namun beberapa kali pula aku mendengar gumaman kekecewaan terlontar dari mulut cantiknya. "Kamu kenapa dari tadi aneh?" Pertanyaanku membuat Aurora mengalihkan pandangannya. "Aku merasa miris aja. Tampilan hutan kalimantan begitu berbeda sekarang. Tak ada lagi hamparan hijau yang terbentang. Sekarang hanya ada lahan kosong dan sisa pembakaran hutan besar-besaran. Bahkan, beberapa waktu lalu masyarakat di Kalimantan harus menahan derita di landa kabut asap paling parah sejak 20 tahun terakhir." Aku tersenyum mendengar ucapan nya. Ia terus menatapku dengan raut muka sayu membuatku kembali terkekeh. "Daripada kamu mikirin hutan kalimantan yang habis karena eksploitasi oknum-oknu

