7

703 Kata
Please don't be in love with someone else -George Alexander Martin- **** Jason mengusap bibirnya kasar. Saat ini ia sudah berada dirumahnya, pekerjaannya jadi cepat selesai sejak ia sudah mempunyai sekertaris lagi. Well hari ini Valeri bekerja dengan baik meskipun ia sedikit teledor dan ceroboh. "Uhhh," eluh Jason saat kejadian tadi kembali berputar di kelapanya. Sial. Mengapa kejadian itu harus terjadi di tengah-tengah kantor?Hancur sudah image Jason sebagai lelaki yang dingin hanya karena seonggok serangga macam Valeri. Jason menghela napas lalu menghempaskan dirinya dikasur kingsize itu dan memeluk gulingnya erat, "Tapi mata itu begitu familiar, lagi gadis itu juga berasal dari panti asuhan itu ... mungkinkah?" ucap Jason pada dirinya sendiri, sambil mengoyang-goyangkan kakinya. Kemudian ia mengelengkan kepalanya, "Tak mungkin tak mungkin, ia tak mungkin gadis itu meski mereka berdua sama-sama ceroboh," sambung Jason berbicara sendiri. Tapi gadis yang bernama Valeri itu aneh, dan tampaknya mantan pacarnya adalah psiko. Well, Jason sempat mendengar obrolan Valeri tadi, meski tak sengaja melakukannya sih. Tapi Jason tak mau ikut campur lebih dalam, toh itu bukan urusannya. Lelaki itu mengambil ponselnya di meja dekat tempat tidurnya, dan mencari kontak Valeri lalu memutuskan untuk mengirim pesan teks pada wanita itu. From:Jason Besok datang lebih pagi, ada yang ingin aku tanyakan. -Jason- Setelah mengirim pesannya, Jason mengembalikan ponselnya pada posisi awal dan berusaha terlelap dalam alam bawah sadarnya. ***** Valeri mengernyit ketika menerima pesan dari Jason. Ia baru saja pulang kerumah karena tadi ia belanja dulu untuk keperluan bulanan. Ia membuka pintu apartmentnya dengan susah payah karena ia membawa banyak barang dan kembali mengernyit saat melihat sepatunya yang berada ditempat tak seharusnya. "Apa tadi pagi aku begitu terburu-buru? Rasanya tidak begitu," gumam Valeri pada dirinya sendiri. Pasalnya, ia tak pernah mengubah posisi sepatu sebelumnya, sebab sepatu itu tak pernah di pakai lagi karena kekecilan. Valeri mengendikan bahunya, mungkin ia tak sengaja melakukannya. Valeri meletakan belanjaannya didapur, lalu membaringkan tubuhnya di sofa ruangtamu, "Oh tulangku mau patah, banyak sekali pekerjaan si es itu. Kenapa ia harus bertemu dengan banyak orang sih," gerutu Valeri sambil memegangi pinggangnya yang pegal. Valeri baru teringat mengenai sms dari Jason yang belum ia baca tadi, ia baru saja akan membacanya ketika mendengar suara berisik di dapurnya. Suara berisik itu lantas langsung membuat Valeri waspada, ia berjalan ke dapur dengan hati-hati seraya menggengam handphonenya erat, dan ia tak sadar bahwa ia menelpon Jason tanpa sengaja. "Halo?" ucap Jason disebrang sana. namun lelaki itu tak mendapat jawaban dari Valeri, ia hanya mendengar suara tak jelas. Apa gadis ini tengah mempermainkannya saat ini? "Halo?!" ucap Jason lagi, tapi masih tak terdengar jawaban. Lelaki itu menghembuskan napas berat karena kesal. Padahal tadi ia hampir saja tertidur. "Kalau kau mau mempermainkanku besok saja, aku lelah saat ini," ucap Jason kesal. Baru saja ia mau mematikan sambungannya, ia mendengar gadis itu berteriak dengan kencang seakan habis melihat setan. "AHHHHH!" pekik Valeri histeris. Jason langsung bangun dari tempat tidurnya refleks, "Hei! Kau kenapa?" tanya Jason panik. Valeri tampaknya tak mendengar Jason sama sekali. "Se-sedang apa kau disini?" ucap Valeri terbata-bata, tampaknya gadis itu benar-benar ketakutan. 'Siapa itu?' batin Jason binggung. "Hai sayang. Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu meski baru tadi pagi kita teleponan," ucap seorang lelaki dengan nada rendah menyeramkan. "G-george," gumam Valeri kecil tapi masih terdengar oleh Jason. Jason tersentak, George? Lelaki tadi pagi yang mengancamnya? Lelaki psiko mantan pacarnya? "Tidak! Jangan mendekat!" teriak Valeri histeris dan sesaat kemudian sambungan terputus. "Halo? Valeri? Valeri! Apa kau bisa mendengarku?" teriak Jason panik. Oh astaga baru pertama kali ia panik begini. Bagaimana ini? Apa ia harus kerumah Valeri? Tapi ia tak tau dimana rumah Valeri dan apa hubungannya masalah ini dengannya? Valeri bukan gadis itu. Lantas mengapa Jason perduli? Tapi... Kalau terjadi sesuatu pada pegawainya, ia lah yang repot bukan? Jason baru mengingat soal Alena, ia buru-buru mencari kontak Alena dan langsung menelepon adiknya itu. "Halo?" sahut Alena setelah tiga kali nada sambungan. "Alena! Kau tahu dimana rumah Valeri?" tanya Jason langsung "Eh?Kenapa e--" "Cepat beritahu aku!" teriak Jason panik "Dia tinggal di apartment xxx," ucap Alena binggung "oke." balas Jason langsung mematikan sambungannya. Ia berlari kegarasi dan masuk kedalam mobilnya. Lelaki itu mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil bergumam ... Tolong bertahanlah... aku akan merasa bersalah.. jika sesuatu terjadi padamu... **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN