SYIFA
Sesampainya di kantin, aku dan Loly sepakat untuk mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin. Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk mencari tempat strategis.
Suasana kantin sekolah sekarang ini layaknya kerumunan orang yang lagi mengantri sembako, bedanya disini mengantri dan bejuang untuk mendapakan makan siang dan menenangkan cacing cacing yang mulai mendemo si empunya.
"Ya ampun Fa, rame banget. Hampit aja kita gak dapet tempat duduk". Sambil mendumel ternyata loli sibuk mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin.
"Ya iyalah Li, rame, siswa disekolah ini kan hampir ribuan kok. Untung aja kita lebih cepat ke kantin. Kalau telat, jangankan dapet makanan kita mungkin nggak bakal kedapetan tempat duduk."
Di sekolah ini sebenarnya tersedia beberapa kantin, tapi tetap saja hanya kantin - kantin tertentu yang ramai. Selain mungkin rasa masakannya, pelayanannya juga berbeda, ada yang ramah, ada yang ketus ada juga yang lembat dan ada juga yang cepat.
Entah kenapa, sekarang aku teringat dengan mas Ridwan. Aku kembali memikirkan sikapnya padaku selama inu. Kalau aku pikir - pikir, aku beneran gak habis pikir. Apa yang salah dari aku? Aku dudah bersedia memasak untuknya, walaupun rasa masakanku tak seenak masakan rumah makan Padang. Aku juga sudah siapin bajunya setelah dia mandi, aku bahkan sudah-,,,
"Eh, Fa lo mikirin apaan sih? Suami belom punya, anak apa lagi. Kayak banyak banget pikiran gitu. UTS belum, UAS juga masih lama, tugas gak bnyak banyak banget."
"Kamu mah gak tau Li, sekarang aku memang belum punya anak, tapi aku sudah punya suami yang sah secara agama maupun negara,- kamu gak tau kalau suami aku itu dingin sekali layaknya gunung es yang menjulang tinggi, dan aku bingung harus bersikap seperti apa."
"gak mikirin apa - apa kok, udah ah ke kelas yuk! yang lain juga pada mau makan, kalo kita cabut kan anak lain bisa duduk." Ajakku padanya agar dia tidak bertanya lebih banyak.
"Ya udah bentar, aku bayar dulu. Oh iya, makanan lo, gue aja yang bayarin. Gak tau kenapa uang jajan gue akhir akhir ini bertambah banyak hehe."
"Alhamdulillah, pas banget! Gue lupa bawa duit. Lo memang sahabat gue banget dah heheh", tepatnya aku lupa minta sama mas Ridwan, atau lebih tepatnya aku belum berani minta kalau bukan mas Ridwan sendiri yang ngasih.
√√√
Hari ini berlalu seperti biasa, jam pulang sekolah yaitu jam setengah dua dan sekarang aku berdiri di halte depan sekolah, bersama siswa/i lainnya. Sebenarnya tadi Loli menawarkan untuk pulang bersama, tapi aku tipe orang yang tidak suka merepotkan orang lain, dan aku memilih untuk pulang sendiri saja.
Tiba - tiba, ponselku berdering. Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku langsung mengangkatnya, karena di kejauhan terlihat sebuah angkot yang biasa aku naiki mulai mendekati halte.
"halo, Assalamualaykum?"
Aku menaiki angkot dengan susah payah, karena harus rebutan dengan siswa yang lain.
"Waalaykumsalam, Syifa? Ini mama, kamu pasti baru pulang sekolah ya? Apa Ridwan sudah datang menjemputmu nak?".
Tunggu! Apa yang mama Lyra bicarakan? Mas Ridwan? Menjemputku? Hahah, menatapku saja dia tak mau, apa lagi bersedia meluangkan waktu kerjanya hanya untuk menjemputku! Kurasa tidak akan.
"Syifa? Nak?" Tanya mama karena aku tak kunjung menjawab.
"ah, i-iya ma ini Syifa baru pulang, sekarang Syifa lagi di angkot sama temen - temen sekolah Syifa. Mas Ridwan kan sibuk bekerja ma, Jadi sepertinya mas Ridwan tidak bisa jemput Syifa. Oh iya mama sama papa bagaimana kabarnya? Sehat kan?"
Semoga saja siswa/i di dalam angkot ini tidak mendengar percakapanku, atau kalaupun mereka mendengar, mereka akan berpikir kalau mas Ridwan itu kakakku.
"Loh, kenapa tidak bisa? Memang sudah kewajibannya untuk menjemputmu, tapi yasudah nanti mama akan bicara sama Ridwan,
Alhamdulillah mama sama papa sehat. Oh iya sebenarnya mama mau kasih tau kalau nanti malam mama mau berkunjung ke Apartemen kalian. Mama kangen banget sama anak anak mama."
"Apa ma? Oh i-iya ma nanti malam Syifa masakin makanan spesial buat nyambut kedatangan mama sama papa ya"
"Ya sudah itu saja ya nak, Syifa sehat - sehat disana ya. Wassalamualaykum".
"iya ma, mama papa juga. Wa'alaykumussalam ma".
√√√
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya akupun sampai di sebuah jalan yang tak jauh dari apartemen mas Ridwan.
Aku hanya perlu berjalan beberapa meter untuk sampai ke apartemen, aku memang sengaja naik dan turun angkot dari di jalan ini. Ya, menurutku biar orang gak berpikir aneh aja gitu, seorang siswi tinggal disebuah gedung apartemen kan jarang ada.
Aku menaiki satu persatu anak tangga untuk dapat sampai di lantai dua, karena sepertinya listrik lagi mati, jadinya lift tidak dapat digunakan.
Cukup melelahkan dan menyebalkan, sebab sejurus kemudian listrik kembali menyala dan akhirnya aku sampai di depan pintu apartemen. Aku memasukkan kode untuk membuka pintu dan ternyata... Mas Ridwan sudah pulang duluan. Ada gerangan apakah dia pulang jam segini?.
"A-Assalamualaikum, mas?", jujur saja aku sangat gugup jika harus berhadapan dan berbicara dengan jarak yang begitu dekat sepeti ini dengannya.
"Waalaykumsalam, kamu sudah pulang sekolah? Maaf saya gak bisa jemput kamu, padahal itu sudah kewajiban saya sebagai suami kamu. Sekali lagi saya benar - benar minta maaf ya f-fa". Jelasnya sedikit terbata ketika menyebutkan namaku.
Subhanallah, ini aku gak salah dengar ni? Mas Ridwan berbicara sepanjang ini? Dia bahkan meminta maaf segala. Apa mungkin, karena mama sudah berbicara sama mas Ridwan. Apa mas Ridwan melakukan ini karena permintaan mama? Atauuu Apa Kau mulai membuka pinta hatinya ya Allah.
"Fa, apa kamu tidak mau memaafkan saya? Saya tau betul kalah saya sudah membuat kesalahan yang besar sama kamu, tapi saya-,, "
"gak kok mas" potongku dengan cepat.
"mas gak salah kok, aku yang salah. Mungkin aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas, belum bisa melayani kebutuhan mas dengan baik. Maafin aku juga karena- ..."
"Cukup Fa, tolong jangan kamu lanjutkan. Saya jadi merasa lebih bersalah lagi jika kamu berkata seperti itu", mas Ridwan mendekat ke arahku, dan memegang bahuku dengan lembut.
Saya yang salah, saya sudah tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami dan saya benar-benar pengecut saat itu. Namun sekarang saya ingin memperbaiki semuanya dan terima kasih karena kamu telah memaafkan kesalahan saya.
Tiba - tiba mas Ridwan menarikku ke dalam pelukannya yang cukup erat, dia seakan takut kehilanganku. Ada apa dengannya? Ahh bukankah aku hanya perlu berprasangka baik.
Entah kenapa, padahal ini pertama kalinya kami melakukan kontak fisik. Saat dia memelukku aku merasa begitu nyaman berada dalam pelukannya. Aku merasa begitu tenang dan menganggap semuanya baik-baik saja seolah tak pernah terjadi apa - apa sebelumnya.
"Sepertinya gunung es yang dulu menjulang tinggi sekarang mulai mencair. Semoga ini awal yang baik untuk kehidupan rumah tangga kami ya Allah, Aamiin Allahuma Aamiin"
~Syifa~