Bu Harumi menatap lemari besar di hadapannya. Lemari yang berisi pakaian mendiang putra bungsunya. Semua pakaiannya masih tersimpan rapi di sana. Perlahan ia mulai membuka lemari itu. Aroma wangi segera menguar. Tumpukan baju yang membawa banyak kenangan. Juga gantungan yang berisi baju-baju formal, termasuk jas almamater kampus sang putra. Ia tersenyum, namun air matanya berlinang. Ia bukannya tak ikhlas. Ia selalu berusaha untuk ikhlas. Tapi mana bisa ia melupakan segala kenangan bersama putranya begitu saja. Putra yan sudah ia lahirkan mempertaruhkan nyawa. Sudah ia besarkan dengan kasih sayang dan tetes keringat. Tiba-tiba pergi begitu saja, berpulang terlebih dahulu dibandingkan dirinya. Sebenarnya banyak tetangga atau saudara yang ingin memiliki baju-baju ini. Tapi Bu Harumi tak pe

