“Bisa tolong lepaskan tangan saya?” pinta Alan, setelah beberapa saat lamanya mereka saling diam. “Oh, maaf,” ucap Resti sembari melepaskan tangan Alan, terpaksa. “Saya permisi,” pamit Alan. “Alan,” panggil Resti. “Aku kangen ... sama ibu kamu,” lanjutnya. “Maksudnya?” Alan tampak bingung dengan pernyataan Resti yang terdengar aneh itu. “Aku kangen sama Tante Nisa, beliau apa kabar?” tanyanya tiba-tiba. “Tunggu dulu. Kamu ....” Alan menatap Resti lekat, pria itu masih mengerutkan keningnya, ia heran dengan tingkah laku Resti yang terasa aneh baginya. “Kamu lagi sakit, ya? Kamu aneh,” celetuk Alan. “Ha?” “Kamu aneh, kenapa tiba-tiba tanya kabar ibu saya?” ujar Alan, masih setia menggunakan bahasa formalnya, walaupun Resti sudah mencoba membuat suasana di anta

