REYA POV “Sakit, Sayang,” keluhnya padaku. “Bodo amat,” jawabku, yang seolah tidak peduli dengan rengekannya. Dari ekor mataku, aku dapat melihat Mas Alan tampak menekuk wajahku kesal. Aku masih diam, mencoba untuk tidak menghiraukan kekesalan yang dia tunjukkan padaku. Kemudian, aku pun melangkah melewatinya sembari membawa dua piring berisi omelet dengan porsi berbeda. Usai meletakkannya ke atas meja makan, aku kembali melewati Mas Alan lagi untuk mengambil sendok yang ada di dekat rak piring. Namun, saat aku baru ingin mengambilnya, tiba-tiba saja Mas Alan menarik tubuhku untuk kembali melekat padanya. Aku cukup terkejut. Apalagi ketika ia kembali mencium bibirku, sangat lama. Bahkan, jika aku tidak berontak untuk dilepaskan, mungkin saja dia tidak akan melepaskanku

