Malam itu, hujan turun deras. Petir pun saling bersahutan dari sisi timur maupun barat. Udara dingin mulai berembus pekat menembus kulit. Beberapa orang berlarian menjauhi rintikan hujan yang menyakitkan itu. Hanya ada satu orang yang tetap setia berjalan di bawah awan hitam. Dia—Sean. Tatapan pria itu tampak kosong, seperti jalanan yang ia lewati saat ini. Bagai seorang aktor yang tengah melakukan syuting film, banyak pasang mata yang berteduh menatapnya heran. Hujan deras tak merengkuh hati pria itu untuk menyingkir dari sentuhan air hujan yang kian deras. Apa dia tidak kedinginan? Apa rintikan hujan deras yang sebesar kacang atom itu tak mampu menyakitinya? Atau, mungkin pria itu sedang dalam kesusahan hidupnya. Karena hujan—selalu mampu menjadi teman dalam setiap luka. Aku sama

