* Pembukaan *

1916 Kata
Nayra Putri Darmawan, seorang dokter muda yang baru memulai  kehidupan kariernya di dunia medis. Dunia yang telah menjadi mimpinya sejak kecil, mimpi yang dirinya anggap hanya angan jauh semata sejak kepergian kedua orang tuanya. Seperti tangan yang ingin menyentuh sejumput embun di puncak Rinjani di kala malam. Kun Fayakun. Ketika kata itu Tuhan ucapkan, maka tidak ada yang tidak mungkin lagi, semua kata mustahil sirna dalam kamus hidup Nayra ketika dia meyakini masih ada Tuhan dalam hidupnya. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Tuhannya berkehendak. Seperti saat sesuatu yang Nayira sudah pastikan tidak akan pernah terjadi, kembali nyata tampak di hadapannya. Dia menghentikan langkahnya ketika menangkap sosok yang sedang berbincang dengan seniornya. "Kak Rama," lirihnya ketika melihat sosok itu kembali. Seseorang yang dia anggap hanya angan di masa lalu, namun saat ini nyata ada di hadapannya. Nayra tidak mungkin salah mengenali sosok itu, ingin rasanya dia berteriak dan berlari ke arah depannya untuk mengubur rasa rindunya pada sosok itu. Tetapi, hal itu tercekat dalam angannya saja. Lagi-lagi dia hanya bisa bermain angan. Dia takut. "Nayra," panggil seorang pria tampan yang mengenakan jas putih kebanggaannya. Dia adalah seniornya, Septa Ranggala Gumelar. Senior yang setia membimbingnya dari sejak duduk di bangku kuliah. Bukan sosok yang dirinya harapkan yang memanggil namanya. Bahkan, dimata orang itu Nayra terlihat asing. Apa yang ditakutkannya benar terjadi, Nayira telah hilang dalam memori seseorang yang selama ini selalu dirinya rindukan. "Siapa dia?" tanya seseorang di samping Septa, pertanyaan yang semakin membenarkan penyimpulan bahwa Nayra di bola mata coklat itu kosong tanpa kenangan. Mereka adalah orang asing. Septa yang mendengar pertanyaan tersebut dari pria di sampingnya itu menoleh. Senyum manis masih tertancap di kedua sudut bibirnya, ketika menjawab pertanyaan dari orang tersebut. "Dia junior yang sering gue ceritain, Nayra Putri Darmawan," bisik Septa tepat di telinga kanan sahabatnya dengan nada antusias. Orang tersebut langsung bisa menangkap apa yang membuat Septa langsung berbinar, yaitu ketika perempuan itu menghampiri mereka. "Jadi, dia si dokter muda yang sudah memikat hati si dokter tampan ini?" ucapnya dengan menyenggol bahu Septa yang masih tersenyum manis menunggu gadis pujaan hatinya yang berjalan mendekat. “Dokter Septa ditunggu oleh Dokter Santoso di ruangannya sekarang,” ungkap Nayra dalam posisi di depan kedua orang itu. "Oh, baik Nayra. Saya akan segera ke sana dan terima kasih atas informasinya," sahut Septa dengan senyum tulus, sepertinya dia enggan menyingkat percakapan manis tersebut. Septa segera beranjak dengan diikuti oleh Nayira yang mengekor di belakangnya. Langkah mereka terhenti, ketika sebuah tangan menahan lengan Septa dengan cepat. "Lo mau tinggalin gue sendirian di sini? Setelah apa yang gue lakuin hari ini buat lo?" ucap pria tersebut dengan nada dibuat-buat seperti sedang kecewa. "Memangnya apa yang sudah lo lakuin hari ini buat gue? Kayaknya gak ada," sahut Septa menghentikan langkahnya, begitu pun Nayra yang  sekarang berada di samping sang dokter tampan tersebut. Pria itu memutar mata jengah, "Gue lebih milih nemuin lo duluan sebelum gue bertemu sama Karina. Itu seharusnya jadi suatu penghargaan buat lo!" ucapnya dengan penekanan. Dia rasa pengorbanan untuk sahabatnya itu cukup besar. Mungkin. Karina? Siapa Karina? Batin Nayra ketika menangkap sebuah nama asing dari pria tersebut. Sebuah nama yang mempunyai makna lebih dari perempuan sebatas teman sepertinya. "Saya sangat tersentuh sekali Dokter Rama Aditya Permana. Sepertinya Anda lebih menyayangi sahabat sendiri dibandingkan dengan pacar Anda  itu," ujar Septa dramatis kepada sahabatnya itu, Rama Aditya Permana. Kak Rama pacaran? Bagaimana mungkin? Batin Nayra lagi-lagi berkecamuk dengan perasaan kekecewaan atas fakta yang dirinya dapat dari pria yang muncul kembali dalam hidupnya. "Dan satu lagi, lo belum kenalin dia sama gue," ucap Rama kepada Septa sembari melirik Nayra yang masih menunduk enggan menatap keduanya. Apa wajahnya begitu jelek? Tidak mungkin, dia sangat yakin dirinya masuk sepuluh besar nominasi pria tertampan se-Asia. Seperti itulah pertanyaan yang membatin dalam diri Rama saat ini. "Lo kan udah tahu, Rama!" bisik Septa pada Rama. Pria menyebalkan ini membuat Septa malu di hadapan Nayra. Ayolah, dia takut Nayra berpikir yang tidak-tidak pada dirinya. "Itu gak resmi," timpal Rama menyanggah apa yang Septa katakan dengan suara jelas sekali terdengar oleh Septa maupun oleh pendengaran Nayra. "Oke!" pasrah Septa, dirinya tidak ingin semakin membuat gadis di sampingnya itu tidak nyaman. Dia menghadap gadis itu, "Nayra perkenalkan ini sahabat saya, Rama. Dia baru pulang dari Jerman," ucap Septa memperkenalkan sang sahabat kepada gadis pujaan hatinya. "Saya Rama. Senang bertemu denganmu, Nayra," sapa Rama kembali memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan kanannya kepada perempuan berkhimar ungu muda di hadapannya itu. Nayra tidak menyambut uluran tangan tersebut, kedua tangannya bertangkup menjadi  satu di depan dadanya, "Saya Nayra," sahutnya dengan sopan. Suara penolakan lembut tersebut mampu membuat dua pria di sana bungkam tanpa suara. Dia telah berubah, benar-benar berubah, waktu telah mengubahnya. Dia bukan Kak Rama yang dulu menjadi alarm pengingatnya di ketika salah. Rama dibuat malu sendiri, dia langsung menarik sebelah tangannya yang hampa tanpa sambutan. Dia maklum, sedikit banyaknya sifat gadis itu telah diceritakan oleh sahabatnya tentang perempuan. Ternyata dia salah mengambil kesimpulan, gadis ini benar-benar jauh lebih baik dari perkiraannya. Septa yang menyaksikan hal itu lantas menahan tawa, tidak mungkin dirinya menertawakan Rama di depan seorang perempuan. Sangat memalukan untuk seorang Rama Aditya Permana. "Ya sudah. Ayo Nayra! Pak Santoso pasti sudah menunggu kita," ajak Septa mengakhiri sesi perkenalan canggung dua orang tersebut. Nayra mengangguk patuh dan mengekori seniornya tersebut ke tempat Direktur Utama RS. Kasih Bunda, Dokter Santoso Gumelar, ayah dari seorang Septa Ranggala Gumelar. Rama menatap kepergian dua orang berjas putih tersebut sampai mereka memasuki lift. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Kenapa rasanya aneh melihat Septa bersama Nayra? Tidak mungkin dia menyukai Septa sahabatnya sendiri. Dia masih normal. Rama menggelengkan kepalanya, mengenyahkan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Dia merogoh saku jaketnya dan mengambil benda pipih berwarna biru dari sakunya, "Assalamu'alaikum, Umi," ucapnya ketika panggilannya sudah tersambung. “Wa'alaikumusalam, anak Umi yang tampan. Sudah sampai?” jawab seseorang dalam panggilan tersebut. Sudah Rama katakan bukan, tidak hanya dia yang percaya dirinya tampan, ibunya adalah orang yang mendukungnya garis keras. "Sudah. Ini Rama habis ketemu Septa," ucap Rama beranjak dari posisinya untuk pergi keluar gedung rumah sakit milik ayah sahabatnya tersebut. “Langsung pulang, Nak! Jangan keluyuran, kamu harus istrirahat,” ocehan sayang seorang ibu itu mulai keluar berurutan. Rama terkekeh mendengar ocehan sayang ibunya, dia tidak akan bosan mendengarnya, "Iya Umi. Tapi Rama mau menemui seseorang dulu sebentar, ya," jujur Rama kepada sang ibu. Terdengar nada dengusan kesal dari suara ibunya, “pasti mau nemuin Karin. Kamu ya, sudah Umi bilang-,” "Umi sudah dulu ya. Rama sayang banget sama Umi, Assalamu'alaikum," potong Rama sebelum percakapan ini berubah menjadi perdebatan antara dirinya dengan sang Ibu. Rama sangat malas untuk berdebat sekarang. “Wa'alaikumussalam,” jawab ibunya pasrah. Tapi sekesal apa pun sang ibu kepada anaknya, tidak akan berlarut terlalu lama. Kasih sayang ibu sepanjang masa untuk anaknya. -0-0-0- Septa dan Nayra telah berada di ruangan minimalis milik Dokter Santoso di gedung rumah sakit tersebut. Mereka disambut dengan senyum ramah oleh Dokter Santoso, sosok yang sangat disegani semua orang di rumah sakit tersebut. "Ada apa, Pak?" tanya Septa tanpa basa-basi. Biasanya sang ayah hanya akan membahas hal yang tidak penting saja. Tetapi, dilihat dari diikutsertakannya Nayra sekarang, mungkin pertemuan kali ini cukup penting. "Santai saja, Kakak. Papa belum juga suruh kalian duduk, masa sudah langsung ngomong panjang lebar," sahut Dokter Santoso dengan senyum ramah, menggoda anak sulungnya tersebut. "Papa! Kan sudah Septa bilang kalo di rumah sakit jangan panggil kakak," bisik Septa tegas kepada sang ayah yang sengaja ingin mempermalukannya di depan gadis pujaan hatinya itu. Benar-benar keterlaluan ayahnya itu. Nayra yang dapat mendengar gerutuan tidak terima Septa kepada ayahnya pun hanya tersenyum kecil. Lucu, pikirnya melihat gerutuan seniornya tersebut kepada salah satu dosennya dahulu yang sekarang adalah atasannya di rumah sakit ini. "Nayra, ayo duduk! Biarkan Septa berdiri saja," ajakan ramah yang sangat jarang didapatkan dari direktur utama kepada bawahannya. Dan hal itu tentu hanya di dapatkan oleh seorang gadis yang telah menawan hati anaknya tersebut. "Terima kasih, Pak," sahut ramah Nayra dan berjalan mengikuti langkah  Dokter Santoso menuju sofa di ruangan tersebut. Septa memutar matanya jengah, tetapi dengan senyuman hangat. Dia senang sang ayah mendukungnya mendekati Nayra, walaupun dia belum menyatakan perasaannya kepada sang gadis. Septa menyusul kedua orang tersebut dan duduk di single sofa berhadapan dengan sang ayah. "Rama sudah datang dari Jerman?," tanya Dokter Santoso kepada anaknya. Tentu saja, Nayra bahkan pertama kalinya dikenalkan pada pria itu. Tidak mungkin bertanya perihal Rama padanya. "Sudah. Jadi Papa panggil Septa kesini cuma mau tanya Rama?" tanya Septa dengan nada tidak percaya akan apa yang ayahnya tanyakan, selalu membuat tekanan darahnya naik menahan gerutuan. "Papa cuma tanya, Kakak. Jawab saja, kok susah amat!" ujar ayahnya, lagi-lagi membuat anaknya mendengus kesal atas panggilan sang ayah padanya. Panggilan khusus keluarganya ketika di rumah dan sekarang disebutkan di tempat umum terlebih di hadapan gadis pujaannya. Septa mengisyaratkan sesuatu lewat kedipan mata pada sang ayah, Kenapa Nayra juga dipanggil? Itulah terjemahan dari isyarat mata Septa kepada ayahnya. Mereka sudah mengerti bahasa tersebut, bahasa isyarat ayah dan anak. Ayahnya langsung tersenyum dan mengalihkan matanya melihat ke arah gadis manis yang sedari tadi belum bersuara, "Nayra," panggil dokter Santoso. Nayra mendongak karena sedari tadi dia terus menunduk melihat ke arah Dokter Santoso, " Iya, pak?" sahutnya suara sangat sopan. "Saya panggil kamu sama Septa kemari karena ada yang ingin saya beritahukan kepada kalian," ucap dokter paruh baya tersebut. Septa berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Apa ayahnya akan melamar Nayra untuknya sekarang? Jangan sampai hal tersebut terjadi tiba-tiba, alamat ditolak ini. Dia tahu betul sifat Nayra, apalagi ini sangat dadakan. Dokter Santoso seakan mengerti perubahan raut wajah putra sulungnya itu, dia terkekeh sendiri. Dasar Husnudzon. "Buat kamu Septa, Papa ada tugas untuk kamu. Kamu Papa tugaskan jadi relawan di Lombok untuk korban bencana kemarin. PMI bilang, mereka kekurangan tenaga medis di sana," ucap dokter Santoso yang kembali menjelma menjadi direktur utama ketika memberi tugas tersebut pada anaknya. "Sama Nayra?" tanya Septa dengan hati yang berharap tinggi. Bibirnya melengkung sangat kentara berharap tinggi pada tugas dinasnya saat ini akan ditemani gadis pujaan hatinya. "Tidak! Nayra akan tetap di sini," jawaban telak yang telah menggugurkan harapan Septa. Tidak ada lagi lengkungan manis di raut wajah Septa. Dihempas begitu saja oleh ucapan sang ayah. Dokter Santoso kemudian melirik Nayra, "Buat tugas kamu, karena Septa akan dikirim ke Lombok selama sebulan. Jadi-," "Sebulan?!" teriak Septa menggema, ayahnya benar-benar berniat ingin membuangnya ternyata. "Jangan teriak seperti itu! Papa dan Nayra tidak tuli," protes dokter Santoso. "Apa gak kelamaan, Pa?" bujuk Septa kepada sang ayah memelas. Sebulan bukanlah waktu sebentar, apalagi Lombok cukup jauh dari Jakarta akan sulit untuk pulang-pergi. "Tidak," jawaban lugas dari seorang ayah sekaligus atasannya itu, membuang kembali harapan anaknya. Septa mendengus kasar, tidak berdaya mengubah keputusan sang ayah. "Untuk kamu Nayra, saya tugaskan menjadi pembimbing dokter baru kita di rumah sakit ini," ujar Dokter Santoso memberitahu Nayra akan tugasnya. "Siapa dokter baru itu, Dok?" tanya Nayra bingung. Dia sama sekali tidak mendengar akan kedatangan dokter baru di rumah sakit ini sebelumnya. "Rama, sahabat sejatinya Septa," jawab Dokter Santoso yang dihadiahi keterkejutan dua orang di hadapannya. Tentu saja, sebuah pemberitahuan mendadak. "Bukannya Rama bilang akan masuk RS. Kartika. Kenapa jadi di sini?" tanya Septa kembali mengingat percakapan dengan sahabatnya tempo hari sebelum Rama pulang ke Indonesia. "Dia ingin dekat terus sama kamu katanya," jawab ayahnya dengan gurauan. Septa bergidik geli, sedangkan Nayra masih bergelayut pada pikirannya. Apa dia tidak salah dengar? Rama akan bekerja di tempat yang sama dengannya? Aku tidak siap menghadapi keasingan Kak Rama padaku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN