8. Keraguan yang Menyusup

1157 Kata
Helva menunduk, kedua tangannya mencengkeram rambutnya yang terurai, napasnya memburu panik. “Daniel, aku bukan bagian dari keluargamu. Aku cuma gadis biasa. Aku nggak siap. Apalagi harus berhadapan dengan keluargamu yang jelas-jelas menganggapku ancaman.” Daniel mengusap wajahnya, lalu mendekat dan duduk di tepi sofa, menatap Helva yang masih bergulat dengan kekalutan pikirannya. “Hel, aku tahu ini gila. Tapi aku nggak bisa terus hidup dengan keputusan yang dibuat orang lain. Semalam, kau dan aku itu nyata, bukan?” Helva menatapnya, sorot matanya gemetar. “Itu ... aku bahkan nggak tahu harus bilang itu apa, Dan. Kita cuma ... terbawa suasana. Kita bukan pasangan!” Daniel mendekat. Tangannya terulur, menyentuh lembut Helva. “Tapi aku ingin kita jadi pasangan. Aku ingin mengenalmu lebih dalam. Aku ingin ini bukan hanya akting tapi nyata.” Helva terpaku. Napasnya tercekat. Di tengah semua kekacauan, di antara ancaman ibu Daniel, dan konflik yang belum benar-benar pecah, Daniel justru berkata begitu tenang dan yakin. “Kalau kau pikir dengan mengikatku akan menyelesaikan semua masalahmu, kau salah besar!” Helva berdiri, berjalan gelisah ke jendela besar di sisi ruangan, menatap langit yang mulai membias jingga keemasan. “Keluargamu pasti menganggapku perempuan rendahan. Dan Risty? Dia bukan orang yang mudah menyerah, kan?” Daniel mengangguk, wajahnya mulai mengeras. “Benar. Dia tidak akan tinggal diam. Tapi aku akan hadapi itu. Aku akan hadapi semuanya, asal kau tetap di sini.” Helva menatap Daniel dari balik bahunya, matanya tak percaya. “Kau serius akan membawa aku ke rumah keluargamu?” “Ya. Hari ini,” jawab Daniel mantap. “Momi sudah bicara. Dan aku yakin dia sudah menelepon Ayah dan Kakek sekarang. Kalau aku tidak mengambil langkah, mereka akan mengendalikanku lagi.” Helva berjalan kembali ke sofa, terduduk lemas. “Dan kalau mereka tak menyetujui? Kalau mereka mempermalukanku?” “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Helva menatap dalam ke mata pria itu. Ada keyakinan di sana, tapi juga ancaman masa depan yang tak pasti. Dia hanya perempuan biasa. Tidak punya nama. Tidak punya kuasa. Dan kini dia diminta untuk melangkah ke tengah lingkaran keluarga paling berpengaruh di kota ini. Daniel mengusap tangan Helva perlahan. “Aku tahu ini cepat. Tapi aku sudah kehilangan banyak waktu karena tunduk pada aturan mereka. Jangan biarkan aku kehilangan satu hal yang benar dalam hidupku. Jangan pergi, Hel.” Helva menunduk, diam lama. Lalu pelan-pelan dia mengangguk. “Aku akan ikut. Tapi satu hal, Daniel, jika ini semua hanya permainanmu untuk memberontak pada keluargamu, aku akan pergi. Sekali untuk selamanya.” Helva sadar dia yang meminta pada Daniel sebelumnya, demi sang ibu. Maka dia tidak punya hak untuk menolak. Lagi pula, syarat yang dia ajukan hanya satu, perawatan ibunya. Maka sisanya dia tidak peduli lagi dengan apapun itu, bahkan sekalipun harus terlibat dalam konflik keluarga yang entah apa isinya. Daniel menarik napas dalam. “Aku tidak main-main.” Tatapannya lurus pada Helva. “Oke. Aku tidak peduli apapun itu. Tapi kau harus menepati janjimu untuk ibuku Daniel,” katanya. “Tentu, akan aku lakukan. Asal kau mau tetap denganku.” “Akan aku coba meskipun rasa benci dan muakku padamu masih ada.” “Helva … .” Ketukan terdengar di pintu utama. Helva dan Daniel sama-sama tersentak. Daniel berdiri, menatap ke arah pintu. “Apa itu … ?” Belum sempat Helva menyelesaikan kalimatnya, suara pintu terbuka dan masuklah seseorang dengan langkah penuh percaya diri. Seorang perempuan muda dengan balutan blazer mahal dan sepatu hak tinggi. Rambut panjang tergerai sempurna. Risty Clarissa. “Oh, pagi-pagi sudah penuh kejutan rupanya,” ucap Risty, tersenyum sinis menatap Daniel dan Helva yang tampak tegang. Tatapannya langsung mengarah pada Helva. “Jadi ini perempuan yang kau pertaruhkan seluruh keluarga, Daniel?” Helva menelan ludah. Daniel maju, berdiri melindungi Helva dengan tubuhnya. “Risty, kau tidak seharusnya datang ke sini.” Risty menatapnya, senyum tajam tak lepas dari wajahnya. “Kau pikir kau bisa mencampakkanku begitu saja? Setelah apa yang sudah dirancang oleh keluarga kita?” Daniel menggeleng. “Aku tidak punya kewajiban untuk mencintaimu hanya karena mereka menginginkannya.” “Tapi aku punya kewajiban untuk mempertahankan nama keluargaku, Daniel.” Risty melirik tajam pada Helva. “Dan aku tidak akan membiarkan seorang gadis tanpa nama menghancurkan itu semua.” Helva berdiri perlahan, menatap Risty dengan berani. “Aku tidak datang untuk menghancurkan siapa pun. Tapi kalau kau merasa posisimu terancam hanya karena keberadaanku, mungkin masalahnya bukan padaku.” Risty terkekeh, lalu memutar tubuhnya untuk pergi. “Kita lihat saja, Helva. Kita lihat seberapa kuat kau bertahan di tengah dunia kami. Karena ini belum apa-apa.” Pintu tertutup. Hening kembali menyelimuti ruangan. Daniel berbalik menatap Helva. Wajahnya tegang, tapi juga penuh rasa kagum. “Kau luar biasa,” bisiknya. Helva menghela napas panjang. “Belum tentu aku cukup luar biasa untuk menghadapi badai yang sebentar lagi datang.” Daniel meraih tangannya. “Kalau begitu, kita hadapi badai itu bersama.” Dan Helva pun hanya bisa mengangguk, walau di dalam hatinya, dia tahu apa pun yang terjadi setelah ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kemudian Helva menatap Daniel. “Itu sebabnya kau menjadikan aku kekasihmu, bukan? Untuk melawan keluargamu?” Kali ini Daniel diam. Dia tak menjawab tapi pergi ke kamarnya. Helva mengikuti, ingin tahu tujuan Daniel menjadikannya kekasih. Dia yakin itu bukan tanpa alasan. “Dan?” Helva menuntut penjelasan. Daniel masih diam dia mengambil kaos dari dalam lemari dan memakainya barulah saat itu dia menatap Helva. “Iya. Sama sepertimu yang menyetujui apapun asal ibumu tetap bertahan, bukan? Kau hanya ingin ibumu, aku hanya ingin menentukan pasanganku. Itu saja.” “Kenapa aku?” “Karena kau yang kebetulan muncul, Helva. Dan aku mengenalmu lebih dulu. Kita saling kenal walaupun —” “Dilatari masa lalu yang memuakkan.” Helva memotong cepat. Daniel menghembuskan napasnya. Dia menyadari perubahan Helva saat berhubungan dengan masa lalu. Dia tahu itu sesuatu yang memang buruk untuk dikenang. “Kita bisa saling membantu kan, Hel? Aku akan mengusahakan pengobatan ibumu, dan kau menjadi kekasihku.” “Kau pikir, aku bisa menghadapi keluargamu?” “Tentu saja kau bisa. Lagi pula, keluargaku tak seburuk itu, Hel. Mereka hanya —” “Tapi aku ragu,” sela Helva. Daniel mengerutkan keningnya mendengar Helva ragu. Dia menatap gadis itu cukup lama. Tinggi keduanya cukup berbeda sehingga Daniel harus menunduk sedikit agar bisa melihat wajah gadis itu. “Sejak kapan kau menjadi ragu? Itu bukan kau sekali, Helva. Helva yang aku kenal selalu optimis.” Helva mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Daniel. “Kau tak tahu apa-apa, Dan. Setiap orang bisa berubah. Terlebih lagi ketika semua hal tak sesuai dengan keinginan. Saat semua hancur bersamaan. Bagaimana aku masih tetep menjadi diriku yang kau kenal dulu? Tidak. Dia … sudah mati.” “Apa yang terjadi?” Daniel tertegun, entah mengapa tak suka mendengarnya. Air mata Helva menggenang di pelupuk, dia memalingkan wajahnya. “Kau tak perlu tahu,” katanya lantas melengos dari hadapan Daniel, meninggalkan pria itu dalam kebingungannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN