Pertemuan pertama

1337 Kata
"Apa? Dijodohkan?" Milka tak habis pikir pada ibunya, bisa-bisanya dia menjodohkannya saat masih sekolah dengan laki-laki yang perbedaan usianya lumayan jauh darinya. "Ma, Milka gak mau dijodohin, apa lagi sama om-om. Ini bukan zaman Siti Nurbaya Ma, lagian Milka masih kelas 3 SMA gak mungkin Milka nikah." "Milka, ini permintaan terakhir papamu sebelum beliau wafat. Tidak ada salahnya kan menikah daripada berbuat zina. Kalau pihak sekolah tidak ada yang tau gak masalah kamu menikah dulu, nanti kamu tunda aja punya anaknya sampai kamu lulus sekolah." "Tapi Milka gak suka sama dia Ma, Milka gak mau nikah sama om-om." "Dia bukan om-om Milka, namanya Rian, usianya juga masih 28." "What? Masih 28? Ma aku aja masih 18 tahun." Milka sangat syok mendengar perkataan mamanya "masih 28 tahun", mana mungkin dia menikahi pria yang sudah berusia 28 tahun, itu terlalu tua baginya yang sekarang tengah berusia 18 tahun. Perbedaan usia 10 tahun itu sangat banyak untuknya. "Gimana kalau dia pria tua yang m***m ... Ih." Milka berbicara sendiri membayangkan betapa mengerikannya harus menikah dengan pria yang sudah tua, karena yang ada di otak pria yang sudah dewasa adalah suatu hal yang m***m saja, tidak ada yang lain. Milka masih pusing memikirkan perkataan mamanya saat makan malam tadi, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini. *** Kringg kringg Alarm kamar Milka berbunyi, itu tandanya sekarang sudah pukul 6 pagi, tapi Milka tak kunjung bangun seperti biasanya, mungkin karena semalam ia tidurnya terlalu malam. 30 menit berlalu, tapi Milka belum bangun juga. Tok tok tok "Milka udah jam setengah tujuh, kamu gak sekolah?" Tidak ada sahutan dari dalam kamar Milka "Milka bangun udah siang!" Masih belum ada jawaban "Jangan-jangan dia kabur karena tau akan dijodohkan, "Milka buka pintunya sekarang juga!" Dor dor dor Suara ketukan yang tadinya pelan berubah menjadi gedoran keras karena saking paniknya Widiya (mama Milka). Karena tenaganya tidak cukup kuat untuk mendobrak pintu kamar Milka, Widiya turun ke lantai bawah meminta bantuan tukang kebun dan supir untuk mendobrak pintu kamar milik Milka yang terkunci dari dalam. 1 2 3 ... Brakkk Akhirnya pintu pun terbuka lebar, Widiya segera masuk ke dalam dan memeriksa keberadaan putrinya. "Milka?" Widiya menyibak selimut yang dipakai oleh Milka, dan ternyata ia masih tertidur. Widiya menghela napas lega karena Milka hanya kesiangan bukan kabur dari rumah seperti di sinetron-sinetron yang pernah ia tonton. "Milka bangun Nak, udah siang, kamu gak sekolah?" Widiya membangunkan putrinya dengan menggoyang-goyangkan badannya perlahan. Milka menggeliat di kasur lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Jam berapa Ma?" "Jam tujuh lebih empat puluh lima menit." "Oh ... Hah? Jam 7.45? Astaga Mama, kok gak dibangunin sih? Milka bisa telat nih." Milka melompat dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi "Mama udah bangunin berkali-kali, kamunya aja kalau lagi tidur kayak mati suri." Widiya keluar dari kamar Milka. Selesai mandi Milka buru-buru memasukkan buku ke dalam tasnya, bahkan ia tidak memakai bedak ataupun lip tint, dia juga tidak menyisir rambutnya karena terburu-buru "Sarapan dulu sayang." "Gak usah Ma, nanti Milka telat." Milka memakai sepatunya lalu berpamitan kepada Widiya dan pergi ke sekolah diantar oleh pak Joko (supir pribadi). Milka berlari ke arah gerbang yang sedikit lagi akan tertutup penuh. Tapi terlambat, saat ia sampai gerbang sudah di tutup penuh oleh satpam. "Yah, Pak bukain dong." "Gak bisa Neng kamu kan udah telat." "Cuma telat 10 detik doang pak." "Gak bisa Neng maaf, peraturannya kalau sudah telat gak bisa masuk." Milka gak mungkin pulang lagi, ia sudah sampai di depan sekolah, apapun caranya dia harus masuk ke dalam. Milka berpikir untuk mencari cara agar bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuan satpam. Ada satu mobil di depan gerbang sekolah, sepertinya mobil ini akan masuk ke dalam, saat yang punya mobil keluar dan berbincang dengan satpam, Milka menyelinap ke belakang mobil lalu membuka pintu belakang secara perlahan dan memasukinya. Dia jongkok di antara kursi depan dan belakang agar tidak ketahuan. Pemilik mobil masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil masuk ke dalam area sekolah. Mobil sudah terparkir di parkiran sekolah, tapi pemiliknya tak kunjung turun. Milka melihat sudah jam tujuh lebih 5 menit, dia tidak mau semakin telat, akhirnya Milka memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya. "Kamu siapa?" Pria itu kaget saat tiba-tiba ada seorang wanita yang muncul dari kursi belakang mobilnya "Maaf Pak, saya tadi telat terus numpang mobil Bapak biar bisa masuk. Maaf ya Pak, dan makasih atas tumpangannya." Setelah mengatakan itu Milka langsung berlari keluar dari dalam mobil dan menuju kelasnya. "Milka, lo dari mana aja? Gue pikir lo gak masuk hari ini." "Iya gue telat tadi." "Lo kenapa ngos-ngosan gitu sih?" "Gue tadi lari karena takut gurunya udah masuk." Milka duduk di sebelah Linda, teman sebangkunya. "Eh lo tau gak, hari ini ada guru matematika baru. Katanya sih cowok, ganteng dan masih muda." Mela dan Sofi membalikkan badannya ke belakang saat mendengar gosip yang dikatakan oleh Linda. "Masak sih?" Mela terlihat sangat antusias, dari mereka berempat dialah yang paling tertarik bahas soal cowok apa lagi ganteng. "Iya, kabar yang beredar sih gitu." "Semoga bener ya Lin. Biar ada semangat-semangatnya gitu saat belajar matematika" "Hahaha iya bener banget tuh Sof, males banget lihat muka bu Sari yang ketus itu. Udah pelajarannya sulit, gurunya ketus, nambah sulit deh. "Kalau menurut lo Mil, gimana?" "Hah? Gak gimana-gimana sih. Gue gak suka matematika. Jadi menurut gue mau siapapun gurunya tetep aja pelajarannya sulit, hehe." "Ya ampun Mil, lo polos banget sih." Linda sangat gemas pada jawaban Milka. Dari ketiga sahabatnya, Milka yang paling polos, bahkan saking polosnya dia tidak pernah pacaran. Kalau Mela paling centil, dia suka lihat cowok ganteng, mantannya aja udah banyak banget. Kalau Sofi tengah-tengah lah, gak centil dan gak polos banget, dia punya mantan cuma 2, dia anaknya santai dan ngikut alur aja. Nah kalau Linda sendiri tuh suka gosip, apapun gosip terbaru dia pasti tau, dia gampang banget akrab sama orang-orang baru, tapi kalau masalah percintaan nomor 0, karena dia cuma punya satu mantan dan itupun putus karena diselingkuhin. Suasana kelas yang rame seperti biasa tiba-tiba senyap saat seseorang masuk dan berdiri di depan kelas. "Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Rian, saya adalah guru matematika kalian yang baru yang akan menggantikan bu Sari." Semua wanita yang ada di kelas memandang takjub ke arah guru baru itu, dia sangat tampan, kulitnya putih, tinggi dan sangat kharismatik. Wajahnya terlihat begitu muda. "Ya tuhan, nikmat mana lagi yang Engkau dustakan." Celetuk salah satu siswi membuat semua murid di kelas bersorak. "Memangnya setampan itu ya?" pikir Milka. Dari semua perempuan yang ada di kelas, hanya Milka yang terlihat biasa saja, bahkan ketiga sahabatnya pun terpesona pada kharisma guru baru itu. Milka mendongak untuk melihat wajah guru barunya, seketika dia terkejut dan memalingkan pandangannya. "Astaga, dia kan cowok yang tadi mobilnya gue naikin ... Duh dia ngenalin gue gak ya." "Kenapa Mil? Kok muka lo pucat gitu sih" "Eng ... Enggak ... Gak apa-apa, gue cuma agak gak enak badan aja sedikit." "Lo sakit? Kita ke UKS yuk gue anterin." "Gak usah Sof, gue gak kenapa-kenapa kok." "Beneran?" "Iya beneran." Milka menundukkan kepalanya sepanjang pelajaran agar tak dilihat oleh pak Rian, ia takut ini akan menjadi masalah untuknya. "Lo kenapa Mil? Nunduk terus dari tadi." "Milka lagi sakit La." Sofi menjelaskan kepada Mela tentang keadaan Milka yang katanya sedang tidak enak badan. "Ke UKS aja kalau sakit." "Gue anterin ya Mil?" "Gak usah Lin gue gak apa-apa kok." "Gak usah maksain diri Mil, kalau sakit mending istirahat di UKS, nanti gue yang minta izin deh." "Ya udah deh, gue ke UKS aja." Milka berdiri bersama dengan Linda dan berjalan ke arah depan "Pak, saya mau izin ke UKS, teman saya sakit." Milka hanya menunduk dan menutupi wajahnya dengan rambutnya, membuat Linda terkejut saat menoleh kepada sahabatnya itu, bagaimana tidak? Saat ini Milka sudah seperti hantu-hantu di film horor yang pernah ia tonton. Pak Rian menatap Milka tapi tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang oleh rambutnya. "Iya cepat bawa ke UKS, sepertinya teman kamu sakitnya sudah parah." "Iya Pak, makasih." Apakah Rian melihat wajahnya tadi? Bagaimana jika ini akan menjadi masalah untuk Milka kedepannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN