Hari ini adalah hari minggu. Milka menghabiskan waktunya untuk tidur.
Widiya yang tak kunjung melihat putrinya turun, memutuskan naik ke lantai atas dan langsung masuk ke dalam kamar Milka, karena pintu kamar Milka rusak akibat insiden kemarin membuat Widiya bebas keluar masuk kamarnya tanpa izin darinya.
"Milka ... Kamu kok belum mandi?"
"Ini kan hari minggu Ma."
"Kamu harus siap-siap karena hari ini akan ada tamu penting."
"Tamu penting siapa sih Ma?"
"Rian sama bibinya mau ke sini."
"Ngapain mereka ke sini?"
"Mama yang undang mereka ke sini."
"Ma ... Milka belum bilang setuju loh."
"Milka sayang gak sama papa?"
Seketika wajah Milka berubah saat membahas Almarhum papanya.
"Sayang."
"Milka tau kan apa yang papa inginkan di saat-saat terakhirnya. Dia ingin melihat putri kesayangannya menikah dengan laki-laki yang tepat."
"Tapi kenapa harus Rian Ma?"
"Karena Rian adalah laki-laki yang tepat untuk kamu. Mama ingin kamu bahagia."
"Tapi aku gak bahagia Ma."
"Gak sekarang ... Tapi suatu saat nanti kamu akan merasakan itu dan akan berterima kasih sama Mama."
Tidak ada gunanya melawan mamanya saat ini, apalagi menyangkut papanya, Milka sangat lemah soal itu.
"Ya udah Milka mau mandi dulu."
"Cepetan ya ... Soalnya sebentar lagi mereka datang."
"Iya Ma."
Milka mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, ia keluar dengan tubuhnya yang hanya terbalut handuk putih. Di hadapannya berdiri seorang pria yang tengah menatapnya kaget.
"Aaaaaaaaaaa ..."
Suara pekikan keduanya terdengar sampai lantai bawah
"Ngapain Bapak di sini?"
Milka memegangi bagian dadanya, sementara Rian menoleh ke arah lain dan tak berani menghadap Milka
"Sa ... Saya disuruh tante Widiya panggil kamu, suruh ke bawah."
"Ya udah sana pergi ... Nanti saya ke bawah sendiri."
Rian dengan cepat berjalan ke ruang tamu yang ada di lantai bawah.
"Kenapa Nak Rian? Tadi Tante denger teriakan. Kamu gak dipukul kan sama Milka?"
"Enggak kok Tante."
Milka turun dengan wajah kesalnya.
"Ma, pintu kamarku kok belum dibenerin sih? Aku jadi kayak gak punya privasi."
"Iya Mama lupa, nanti Mama suruh tukang ke sini."
Milka duduk di kursi sebelah Widiya yang berhadapan dengan tempat duduk Rian.
"Milka kenalin ini tante Lusi, bibinya Rian."
Milka mencium tangan Lusi dan memperkenalkan diri.
"Cantik sekali ya Milka ini, sama seperti kamu Widiya."
"Ah kamu bisa aja ... Rian juga ganteng banget loh."
"Iya Rian mirip sekali sama papanya waktu muda."
"Jadi aku mengundang kamu ke sini untuk membahas acara pernikahan Milka dan Rian."
"Pernikahan? Mama kok gak bilang dulu sama Milka?"
"Ini sekarang Mama bilang."
Milka diam, pendapatnya sungguh tidak penting saat ini, bahkan untuk masa depannya sendiri.
"Aku mau pernikahan mereka diadakan minggu depan."
"Hah? Minggu depan?"
Milka dan Rian menjawab secara bersamaan
"Minggu depan bukannya terlalu cepat ya Tante?"
"Iya Ma. Milka kan juga belum kenal banget sama pak Rian."
Milka bahkan memanggil Rian dengan sebutan pak, sama seperti saat di sekolah.
"Gak apa-apa, justru lebih cepat lebih baik ... Bukan begitu Lus?"
"Iya aku setuju sama kamu Widiya. Kalau niat baik itu harus segera dilaksanakan."
"Nanti Mama sama tante Lusi yang akan bantu mengurus keperluan pernikahan kalian ... Gimana?"
Milka hanya mengangguk, karena percuma saja menolak keinginan mamanya. Nanti pasti dia akan bawa-bawa nama papanya lagi, yang buat Milka mau gak mau harus menuruti keinginannya.
"Kalau kamu Rian, kamu setuju kan?"
"Iya Bi. Aku ikut apa kata Bibi aja, baiknya gimana."
"Udah kan Ma bicaranya? Kalau udah Milka mau pergi."
Milka berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi, yang kemudian disusul oleh Rian.
"Ngapain ikutin saya?"
"Saya gak ikutin kamu. Saya cuma gak nyaman berada di dalam."
"Saya setuju menikah dengan Bapak, bukan berarti saya suka sama Bapak ya."
"Saya juga gak suka sama kamu. Jadi gak usah GR ya."
"Kalau gak suka kenapa setuju?"
"Kamu sendiri gak suka, tapi setuju kan? Ya kita sama, punya alasan sendiri untuk menerima perjodohan ini."
"Saya mau bikin persepakatan sama Bapak."
"Persepakatan apa?"
"Saya mau nanti setelah menikah, Bapak gak boleh nyentuh saya tanpa izin dari saya. Dan saya gak mau disentuh sama orang yang gak saya cintai."
"Terus untungnya buat saya apa?"
"Maksud Bapak?"
"Kalau saya sudah jadi suami kamu. Terserah saya dong mau berbuat apapun sama kamu, kan sudah muhrim dan halal. Kenapa harus minta izin?"
"Ih dasar om-om mesum."
Milka berteriak tepat di depan wajah Rian yang sedang menahan tawanya.
"Kamu pikir kamu secantik itu? Saya lihat kamu aja gak nafsu. Kamu itu gak lebih dari seorang bocah labil, gak dewasa, dan gak menarik buat saya."
Rian berlalu pergi setelah mengatakan itu
"Dasar om-om m***m nyebelin. Bisa-bisanya dia bilang gue bocah labil dan gak dewasa? Lagian ngapain juga gue harus menarik buat dia?"
***
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari dimana Milka akan menjadi milik orang lain.
Tak ada raut bahagia yang terpancar dari wajahnya, ia bahkan sempat menangis dan mengingat Almarhum ayahnya.
Di sisi lain terlihat seorang laki-laki memakai jas putih yang membuat dirinya terlihat gagah dan lebih tampan. Tapi sorot matanya kosong, tidak ada kebahagiaan yang terpancar. Bahkan senyum yang ia pasang di hadapan bibinya adalah palsu.
Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini, baik Rian maupun Milka. Pernikahan ini tidak berdasarkan cinta, hanya keinginan dua orang tua.
Milka keluar dengan kebaya putih yang membuatnya terlihat anggun dan sangat cantik. Ia duduk bersebelahan dengan Rian untuk melakukan akad nikah
"Saudara Rian Aditama bin Sahrul Aditama, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan saudari Milka Anastasya binti Dani Agustian dengan mas kawin uang senilai dua juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Milka Anastasya binti Dani Agustian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
Milka menoleh ke belakang dan berharap akan ada yang menghentikan pernikahannya dan berkata "tidak sah" seperti yang biasanya terjadi di sinetron-sinetron. Tapi tidak mungkin, karena ia sendiri tidak pernah memiliki kekasih.
"Sah."
"Alhamdulillah."
Suasana langsung berubah mengharukan, Widiya memeluk Milka dengan penuh haru, ia juga menangis mengingat suaminya yang telah tiada, jika dia di sini pasti akan sangat senang melihat putri semata wayangnya menikah.
Milka juga ikut menangis, tapi bukan sebuah tangisan bahagia, melainkan tangisan sedih karena ia sudah resmi menjadi istri orang yang tidak ia cintai. Milka juga sangat merindukan ayahnya saat ini.
Sementara Rian dan Lusi ikut terhanyut dalam suasana. Mereka juga menangis mengenang kedua orang tua Rian yang telah tiada dan tidak bisa menyaksikan putranya menikah.
Milka tidak pernah menyangka akan menikah secepat ini? Bahkan membayangkannya saja tidak pernah. Bahkan dia merasa canggung saat mencium tangan suaminya. Itu terlihat sama seperti saat ia mencium tangan Rian sebagai gurunya di sekolah.
"Milka, setelah menikah kamu ikut Rian tinggal berdua di rumahnya ya?"
Apa? Tinggal berdua? Dengan om-om m***m itu? Bagaimana ini?