LANJUTAN 22

1303 Kata
  LANJUTAN 22   Ke esokan harinya Yuda yang masih dalam kondisi lemas setelah kejadian semalam mencoba untuk bisa kembali ke kondisinya semula, sedikit rasa risau dalam hatinya Yuda, bukan tanpa sebab sepertinya ancaman – ancaman terhadap dirinya terus menerus datang tanpa henti, sepanjang malam pun banyak sekali tulisan – tulisan ancaman yang menyudutkan dan membuat Yuda besar kecilnya tertekan.   “ Masih untung Mas , Kamu masih di antarkan pulang ke sini, banyak kejadian yang lebih parah, bahkan sampai paling fatal ada nyawa yang harus di pertaruhkan.” Ujar Pak Yaya memberikan nasihat kepada Yuda yang sedang duduk di ruang tamu.   “ IA Pak saya masih bersyukur, masih di berikan kesempatan, hanya saja tumpukan kertas berisikan ancaman ini membuat saya sedikit aneh.” Ujar Yuda.   “ Aneh kenapa Mas? “ Tanya Pak Yaya.   “ IA Aneh Pak, kenapa Bisa orang yang mempunyai ilmu hitam hanya menuliskan surat – surat yang gak jelas seperti ini.” Ujar Yuda.   “ Bapak belum paham Mas.” Ujar Pak Yaya.   “ Ia Pak, logikanya jika Dia benar – benar mempunyai ilmu seperti itu, kenapa saya hanya di berikan ancaman seperti surat ini, saya mencurigai ada hal janggal Pak.” Ujar Yuda.   “ memang harusnya seperti apa Mas?” Tanya Pak Yaya.   “ Ya saya pun tidak berharap yang aneh – aneh pak, tapi saya merasa ini hanya gertakan saja Pak.” Ujar Yuda.   “ Memang sebenarnya awal dari kejadiannya seperti apa?” tanya Pak Yaya.   “ jadi awalnya ada teman Saya yang sedang sakit Pak, dia mengalami sakit kulit, sudah berobat ke dokter tapi tidak sembuh.” Ujar Yuda.   “ Teman Mas itu awalnya kenapa bisa terkena penyakit itu? Tanya Pak Yaya.   “ Teman saya dulu pernah membeli sebuah benda berupa jimat dari salah satu orang pitar di ujung hutan kampung, dia membeli benda itu dengan harga yang sangat mahal, tapi selama bertahun – tahun benda itu tidak membawa dampak apa – apa untuk teman saya, lalu dia kembali ke orang Pintar Itu, dan mengeluh tentang benda itu, lalu orang itu menyarankan Dia untuk mandi dan cuci muka dengan rempah – rempah pemberian orang itu, dan hasilnya kulitnya malah terluka hingga sekarang.” Ujar Yuda.   “ Lalu Mas Yuda mencoba membantu Apa Mas?” tanya Pak Yaya.   “ Saya hanya melihat kalau teman saya sedang di tipu oleh orang itu, sepertinya Orang itu memanfaatkan kadaan teman saya, dan jika dia sembuh mungkin tidak akan ada pemasukan untuk orang itu, Saya hanya menyarankan teman saya untuk berpindah dokter dan memberikan air Doa untuk di mandikan , dan akhirnya sedikit demi sedikit kuitnya mulai kembali normal.” Ujar Yuda.   “ Oh Mungkin juga Dia marah kepada Mas Yuda , sebab Mas Yuda sudah membuat Teman Mas , sembuh.” Ujar Pak Yaya.   “ Mungkin saja Pak, dan memang sepertinya orang itu punya ilmu hipnotis juga, sebab saya merasa kemarin sempat di bikin seperti orang tidak waras, dan ketika sampai ke sini dan menuju kamar pun saya hanya berhalusinasi.” Ujar Yuda.   “ Ia memang Mas, semalam saya dengar Mas Yuda teriak – teriak dan barang di dalam kamar sepertinya pecah – pecah, hanya saja Bapak tidak berani masuk ke Kamar, takut memang Mas yuda sedang emosi atau sedang ada masalah, jadi Bapak biarkan saja, dan Tahu – tahu Mas Yuda Pagi – pagi sudah ada di teras dengan kondisi yang memprihatinkan.” Ujar Pak Yaya.   “ Ia Pak, saya semenjak pulang ke rumah ini, Saya dalam keadaan  setengah sadar dan melihat Pak Yaya, Krisna dan Bram sedang melihat saya, Tapi anehnya saya merasa bukan diri saya dan saat masuk ke kamar pun seperti banyak orang yang sedang melihat saya, dan saya yakin itu halusinasi, sebab sebenarnya saya bisa melihat mereka yang tidak terlihat Pak.” Ujar Yuda.   “ Oh, sepertinya memang mas sengaja di hipnotis, agar Mas sedikit tertekan dan kapok membantu teman Mas itu.” Ujar Pak Yaya.   “ Mungkin Saja Pak, tapi demi apa pun saya tidak akan pernah kapok untuk membantu orang lain.” Ujar Yuda.   Lalu dari luar terdengar suara seperti lemparan dan dentingan terhadap tiang penyangga listrik, dan itu merupakan bentuk ancaman kembali untuk Yuda dan bahkan sekarang mengancam sampai seisi rumah, Pak Yaya dan Yuda keluar melihat dan membaca tulisan berisi ancaman.   “ SEKALI LAGI AKU PERINGATKAN, JIKA ANDA MASIH TETAP BERSIKUKUH DAN MENGANGGAP INI HANYA GUYONAN, SIAP – SIAP SAJA TEROR YANG LEBIH BANYAK AKAN MENIMPA RUMAH KALIAN.” Isi dari sepucuk surat itu.   “ Ada kiriman lagi Pak.” Ujar Yuda tersenyum.   “ Lalu bagaimana Mas sekarang.” Ujar Pak Yaya cemas.   Krisna pun mendekat menghampiri mereka Pak Yaya, dan Yuda.   “ Ada Apa Pak, Terdengar ribut?” Tanya Krisna.   “ ini Kris, saya punya penggemar.” Ujar Yuda.   “ Waduh Pak, ini harus kita laporkan.” Ujar Krisna.   “ Tidak usah Kris, nanti juga dia bosan sendiri.” Ujar Yuda.   “ Tapi ini sudah mengancam Pak Yuda, ini bisa di laporkan.” Ujar Krisna.   “ Sudah Kris, Sekarang kamu pergi saja ke kantor, sepertinya saya akan tetap di rumah dulu, mungkin besok baru bisa ngantor.” Ujar Yuda.   “ Ia Pak, tenang saja Pak Yuda jangan banyak pikiran , biar cepat pulih, jika ada apa – apa saya siap membantu pak.” Uujar Krisna.   “ ia Kris, cepat sana berangkat, nanti si Bram murka , kamu nanti kena semprot lagi.” Ujar Yuda.   “ Siap Bos.” Ujar Krisna.   Yuda merasa tidak habis pikir dengan keadaan saat itu, semua ancaman terhadap diri yuda membuat Pak Yaya sedikit khawatir dengan Yuda.   Titik terang sebenarnya sudah mulai terlihat, pengirim ancaman terhadap Yuda ternyata orang yang sama dengan orang pintar di kampung Krisna, yaitu Pak Sugeng, setiap perbuatan Pak Sugeng mulai terbongkar satu demi satu, dan ternyata ulah Pak Sugeng sudah menyebar luas hingga ke perkotaan , Yang membuat semuanya geram.   Hari demi hari berlalu, semuanya tampak kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa -apa, ancaman pun sudah jarang dan bahkan tidak ada sama sekali orang yang melakukan  peneroran terhadap Yuda, Tapi itu semua merupakan taktik licik pak Sugeng, untuk mengelabui Yuda, dan yang sebenarnya di inginkan Pak Sugeng adalah melenyapkan Yuda yang sudah mengusik dirinya.   Seperti kebiasaan sebelumnya, sore hari merupakan jadwal untuk bertukar pikiran di rumah itu.   “ Oh Ia Pak, kalau boleh tahu, bagaimana kabar teman Pak Yuda yang kemarin sempat sakit?” Tanya Krisna.   “ Sekarang kondisinya baik, jauh lebih baik , luka - luka di tubuhnya juga sudah mulai pulih .” Ujar Yuda.   “ Nah Kris, tangan kamu dari dulu sampai sekarang kenapa selalu di perban ?” Tanya Yuda.   “ Gak tahu Saya juga Pak, sudah pakai salep sudah paki obat macam – macam tetap saja tidak ada perubahan.” Ujaar Krisna.   “ Coba buka, Saya Mau lihat!” Ujar Yuda.   Krisna pun membuka balutan perban itu secara perlahan, di perlihatkannya luka merah di telapak tangan, luka bekas terbakar.   “ Dari dulu sampai sekarang tidak berubah Pak, tapi anehnya luka ini tidak menimbulkan rasa sakit apa pun.” Ujar Krisna.   “ Awalya seperti apa Kris, tangan Kamu sampai terluka?” Tanya Yuda.   “ ceritanya panjang Pak, tapi yang jelas ini luka membuat saya terhambat, meskipun tidak menimbulkan rasa sakit sekalipun.” Ujar Krisna.   “ Mau Saya Obati?” Tanya Yuda.   Krisna sedikit khawatir, bukan tanpa sebab, luka yang ia dapat berawal dari kejadian aneh yang Krisna alami.   “ Ya kalau bisa boleh Pak.” Jawab Krisna cemas.   “ kamu jangan menutupi hal ini dari saya, dari raut wajahmu , saya sudah bisa menggambarkan , ada sesuatu yang kamu tutupi dari luka ini, tapi kamu jangan khawatir, kamu tidak perlu cerita terhadap saya, saya sudah tahu yang sebenarnya.” Ujar Yuda tersenyum.   Krisna hanya terdiam menunduk, mendengar pernyataan Yuda, sedikit pertanyaan dari dalam diri Krisna , apa benar Yuda sehebat itu, atau dia hanya menebak dari ekspresi wajah Krisna saja, sekali lagi hal ini masih menjadi pertanyaan untuk Krisna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN