Setiap kejadian dan kemunculan – kemunculan makhluk yang terjadi di hotel itu, sangat membuat Krisna tidak nyaman , liburan yang awalnya dii harapkan Krisna untuk bisa melepas penat dan rasa lelah saat menjalani kegiatan sehari – hari, malah membuat Krisna semakin tertekan dan ingin segera menyelesaikan harinya di hotel itu, ketika Krisna melihat karyawan lain yang sangat ceria, dirinya malah tertekan dan tidak merasa betah.
Hingga akhirnya acara di hotel itu pun berakhir, semua karyawan bersiap – siap untuk kembali pulang, tepat saat itu pukul 6 sore, berbeda keadaan saat akan berangkat, bis saat itu datang dengan armada terbaik dan mengangkut penumpang tepat waktu, Krisna saat itu duduk terpisah dengan Bram, bahkan berbeda armada bis.
Krisna berada di bis paling terakhir , Bis itu berkapasitas 60 penumpang tapi hanya di isi sekitar 20 karyawan saja, hal itu di sebabkan karena sebagian karyawan beserta keluarganya memilih pulang dengan kendaraan pribadi agar bisa langsung sampai ke rumah masing – masing , berbeda dengan bis yang akan berhenti di kantor terlebih dahulu. Hingga akhirnya bis pun sebagian menjadi kosong.
Melihat kondisi bis yang kosong, Krisna bisa memilih tempat duduk yang Ia suka, hingga akhirnya ia memilih tempat duduk paling belakang karena posisinya yang terlihat lebih nyaman dan mempunyai kursi panjang.
" enak juga kalau Bis kosong seperti ini, seperti bis punya sendiri." Ujar Krisna.
Saat duduk di belakang, Krisna merasa sangat nyaman hingga akhirnya ia tertidur, tepat saat itu juga jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, suasana juga sangat sepi karena kembali melewati kebun dan pepohonan milik warga sekitar. Krisna sangat lelap tertidur ,hingga akhirnya Krisna terbangun Karena merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya.
“ Siapa yang membangunkan aku?’’ Tanya Krisna.
Krisna keheranan karena dalam Bis itu tidak ada satu orang pun yang dekat dengan Krisna, bahkan meskipun satu kantor mereka tidak mengenal satu sama lain karena berbeda bagian kerja.
Krisna pun memutuskan untuk tetap terjaga selama perjalanan, perjalanan terasa sangat lama, dan perlahan hujan pun mulai turun dan membuat suasana menjadi sedikit mencekam.
Sampai akhirnya bis pun keluar dari jalan perkampungan dan berjalan di aspal perkotaan, hujan pun saat itu amat sangat deras, terlihat pandangan Supir pun seperti terbatas saking derasnya hujan kala itu, Krisna pun berinisiatif mendekat dan duduk di sebelah kursi supir, terlihat di depan jalan ada sedikit kemacetan.
“ Ada macet apa ini, tumben sekali jam segini macet.” Ujar Krisna.
Bis pun berjalan perlahan , ternyata telah terjadi tabrakan antar motor dan mengakibatkan salah satu pengendara motor itu meninggal di tempat.
“ ya ampun, tabrakan, pantas saja macet parah.” Ujar Krisna.
Krisna merasa janggal ketika bis melewati kecelakaan tersebut, Krisna malah melihat jika korban tersebut sedang melihat dirinya sendiri, Krisna pun langsung memalingkan wajahnya dan d**a nya pun berdetak lebih cepat, mulutnya tidak henti – henti berdoa, hingga sampai ke kantor pun Krisna Masih terkejut hingga lututnya lemas.
“ Kris Aku tidur di kosan Mu ya, aku malas pulang, mana jauh juga.” Ujar Bram menghampiri Krisna yang baru turun dari bis.
“ Kris, Kau dengar tidak?” Tanya Bram.
Akhirnya Bram menepuk pundak Krisna.
“ Kris, Kenapa Kau ini?” Tanya Bram.
“ Eh Ia Bang, Aku hanya mengantuk.” Ujar Krisna.
“ Kau ini kenapa seperti mabuk kendaraan saja, Aku tadi bilang, Boleh tidak aku tidur di kosan Mu untuk hari ini, Aku malas pulang.” Ujar Bram.
“ Oh, boleh – boleh Bang, Aku juga sama Bang cape sekali.” Ujar Krisna.
“ Bagus lah, ayo kita langsung pulang.” Ujar Bram.
Mereka pun berjalan pulang menuju Kosan Krisna, sepanjang perjalanan Krisna hanya menundukkan wajahnya, sebab jika ia melihat ke arah sekitar di takutkan Ia melihat sesuatu yang dia tidak mau lihat, Bram berjalan sangat pelan, lelah akibat perjalanan menjadi akibatnya, tapi berbeda dengan Krisna yang seperti berjalan cepat.
“ Kris, pelan lah sedikit jalanmu, Aku cape ini.” Ujar Bram.
“ Ayo Bang, takut keburu hujannya datang lagi.” Ujar Krisna sambil melanjutkan jalannya.
“ Ia , Ia.” Ujar Bram sambil memaksakan Dia membarengi jalan Krisna yang sedikit lebih cepat.
Saat melewati toko antik pak Yaya, Krisna lebih memilih berlari, dan hingga akhirnya menjauh dari Bram.
" Kenapa anak Itu, aneh sekali, Aku sudah cape, malah di ajak lari.” Ujar Bram menggerutu.
Perlahan tapi pasti Bram berjalan, dan akhirnya sampai di rumah kos Pak Yaya, di sana sudah terlihat pak Yaya dan Yuda yang terlihat sudah sampai dari tadi.
“ Bram , kenapa Kamu seperti lemas begitu?” Tanya Pak Yaya.
“ IA Pak, lemas , lapar, letih , pokonya semuanya Pak, makannya saya ijin tidur di sini sehari.” Ujar Bram .
“ Masuk saja Bram, bebas Kau mau tidur di mana juga.” Ujar pak Yaya.
Krisna terlihat amat sangat tertekan, dari sikap dan raut wajahnya yang menyembunyikan sesuatu dari Bram dan pak Yaya, tapi yuda tahu apa yang tengah menimpa Krisna.
Yuda pun mencoba memberikan semangat agar Krisna bisa terbiasa, sangat sulit untuk Krisna beradaptasi dengan situasinya, diri Krisna telah mencoba tapi dengan intensitas gangguan yang sangat sering membuat Krisna kembali depresi dan tertekan.
Sempat Krisna mencoba beradaptasi dan akhirnya bisa melawan, tapi kini Krisna semakin tertekan, jangankan untuk mencari jalan keluar dari semua masalahnya yang ada masalah Krisna semakin bertambah.
Ijam pun tidak bisa berbuat apa – apa , kondisi di kampungnya yang sangat membutuhkan kehadiran dirinya, membuat Ijam untuk sementara tidak bisa berbuat apa – apa dan membantu Krisna dengan kondisinya saat itu.
Sementara di sisi lain pak Sugeng sedang merencanakan sebuah kejutan untuk Ijam, kejutan itu bukanlah hal yang menyenangkan, melainkan sebuah jebakan untuk Ijam, Agar Ijam di benci oleh seluruh warga kampung dan akhirnya semua usaha ijam itu hancur.
Pak Sugeng pergi dari kampung bukan tanpa sebab, Dia memerintahkan kaki tangannya untuk pura – pura membelot dan mengetahui jika Ijam sudah kembali dari kota, Pak Sugeng pun memaksa Pak Dadang dengan berbagai ancaman yang di tunjukan kepadanya.
Pak Dadang pun tidak berdaya dengan ancaman Pak Sugeng, akhirnya dia menuruti keinginan Pak Sugeng, untuk mencelakai Ijam.
Ijam pun sudah terbilang cukup lama kemali dari kota, sudah berminggu – minggu ijam kembali dan mengurus semua kebutuhan warga yang membuat gerabah, ijam tidak menyangka jika Pak Dadang akan menjebak dirinya.
Ijam saat itu sedang membantu salah satu warga membuat gerabah, dan saat itu Pak Dadang datang menghampiri Ijam, di ajaknya Ijam oleh Pak Dadang untuk membantu mengambil kayu untuk pembakaran gerabah, Dan Karena memang saat itu stok kayu bakar sudah menipis.
“ Jam, bisa tolong Bapak.” Ujar Pak Dadang.
“ Bantu Apa Pak?” Tanya Ijam.
“ Ini Jam, Kayu untuk membakar gerabah di tempat Bapak habis, bisa minta tolong antar Bapak .” ujar Pak Dadang.
“ Oh, Boleh Pak, kebetulan warga yang lain juga habis, sebentar Ijam ajk dulu warga yang lain.” Ujar Ijam.
“ Tidak usah jam, cukup kita berdua saja, kan ini hanya untuk gerabah Bapak.” Ujar Pak Dadang.
“ Ia Pak Tidak apa – apa biar sekalian , kan kalau banyak orang, bawa kayu bakarnya pun bisa lebih banyak.” Ujar Ijam.
“ sudah Jam , kita berdua saja, Ayo Jam cepat, keburu habis gerabah Bapak.” Ujar Pak Dadang.
“ Ya sudah Pak.” Ujar Ijam menuruti kemauan Pak Dadang.
Akhirnya Ijam menuruti kemauan Pak Dadang dan mengikutinya ke arah hutan, rencana Pak Sugeng adalah membuat Ijam tersesat dalam hutan , dan memfitnah Ijam jika Ijam pergi ke luar kota dan membawa uang hail penjualan gerabah milik warga.
“ Pak kenapa sangat jauh sekali, sampai ke dalam hutan, kan bisa ambil kayu yang dekat saja.” Ujar Ijam.
“ Jangan kayu di sini Jam, kayu di sini basah dan ada yang punya, jadi kita harus masuk agak ke dalam.” Ujar Pak Dadang sambil Terus berjalan ke dalam hutan.
“ ya sudah Ijam Ikut saja Pak.” Ujar ijam.
Ijam masuk sangat dalam, hingga akhirnya Pak Dadang menyuruh untuk berpencar, Ijam yang menuruti ke inginan Pak Dadang, langsung memisahkan dirinya dengan Pak Dadang, Ijam terus lurus masuk ke dalam sedangkan pak Dadang memutar balik arah dan pulang.
Ijam saat itu tidak menyadari jika Pak Dadang akan setega itu, dan sekejam itu, Ijam terus mencari dan akhirnya menemukan titik lokasi untuk kayu kering yang akan di angkut, dan ketika ijam akan berencana kembali pulang dan memanggil warga untuk mengambil kayu di titik itu, Pak Dadang tidak terdengar lagi suaranya, Ijam pun akhirnya mencari Pak Dadang karena takut jika Pak Dadang akan tersesat.
Hingga akhirnya dia menyadari jika Pak Dadang telah menjebaknya, bukan tanpa sebab Ijam tahu jika Pak Dadang tidak akan tersesat di hutan ini, sebab dia sudah lama menjelajahi hutan itu sejak dia masih kecil , sehingga kecil kemungkinannya jika Pak Dadang tersesat.
“ sepertinya Pak Dadang sengaja mengajak ku ke sini dengan sengaja.” Ujar Ijam .
“ Pantas saja tadi Aku akan ajak warga , Pak Dadang tidak mau dan menyuruh Ku untuk pergi berdua saja.’ Ujar Ijam.
Ijam pun mencari jalan keluar, Ijam mencari setiap cela jalan untuk keluar dari hutan itu, tapi usahanya sia – sia , ijam akhirnya tersesat semakin dalam dan akhirnya tidak tau arah, hingga malam pun tiba.
“ Tidak percaya Aku, di jebak oleh orang yang aku anggap orang tua sendiri, aku yakin jika Pak Sugeng adalah otak di balik semua ini, sebab sejahat – jahatnya Pak Dadang tidak akan melakukan hal seperti ini.” Ujar Ijam.
Di tengah gelapnya malam, Ijam hanya bisa terdiam, di temani suara – suara hewan malam hari, ijam pun menaiki sebuah pohon untuk beristirahat dan agar bisa menjauh dari hewan buas yang ada di hutan.
Marah, Itulah yang ijam rasakan, buka terhadap Pak Dadang , tetapi kepada Pak Sugeng yang sudah berani bermain kasar dan licik.
“ Pantas saja tadi wajah pak Dadang seperti tertekan dan seperti orang kebingungan.” Ujar Ijam.
“ lagi pula Jalan Tadi tidak terlalu jauh dari jalan setapak yang biasa aku lewati, hanya saja tadi aku khawatir Pak Dadang tersesat, hingga akhirnya aku malah masuk lebih dalam.” Ujar Ijam.
“ Mungkin pak Dadang sedikit tidak tega, hingga akhirnya dia tidak membawaku terlalu dalam masuk ke hutan, aku saja yang bodoh malah masuk ke dalam hutan .” ujar Ijam.
Ijam pun sangat kesal terhadap dirinya, tapi apa daya semua yang telah terjadi tidak bisa terulang, hingga sampai fajar tiba, ijam tidak tertidur sama sekali, tapi suara adzan menuntunnya ke sebuah pemukiman, yang ada dekat dengan hutan itu.
“ ada suara adzan, berarti dekat dengan perkampungan.” Ujar Ijam.
Ijam terus berjalan , mencari sumber suara itu, matahari pun semakin muncul, jalan pun sedikit demi sedikit terlihat jelas, embun – embun pun membasahi pohon dan rerumputan di jalan itu, hingga akhirnya ijam keluar di sebuah perkampungan, Ijam yakin jika kampung itu, tidak jauh dari kampung halaman Ijam.
Ijam pun sempat ikut sembahyang di kampung itu, ijam pun memutuskan untuk tidak langsung kembali ke kampung itu, dan memutuskan untuk kembali ke kota menuju rumah Kos Krisna.
Dengan bekal seadanya , dan pakaian yang melekat di badannya, ijam pergi menggunakan Bis, hanya saja bekalnya tidak cukup, bekalnya hanya bisa mengantarkan Ijam setengah perjalanan saja, ijam pun tidak membawa telepon genggam, hingga lengkap sudah penderitaan Ijam saat itu. ia akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki untuk menuju kota.
Ijam pun tidak menghiraukan lelah yang ia rasakan, Ijam terus berjalan, berjam – jam waktu yang Ijam lewati, hingga akhirnya Ijam sampai di terminal Bis, saat itu Ijam memutuskan untuk beristirahat di sana dan tidur di sana.
Sedih dan kesal bercampur aduk dalam hatinya, niatan baik tidak selalu mendapatkan balasan yang baik pula, tapi niatan baik harus tetap di jalankan, hingga akhirnya Ijam bertemu dengan Bram yang kala itu sedang membeli obat untuk Krisna yang kembali jatuh sakit.
“ Sepertinya Aku kenal dengan orang itu.” Ujar Bram melihat dari kendaraannya.
Bram mendekati Ijam yang sedang duduk di terminal Bis.
“ ijam, sedang apa kau di sini, kenapa tidak langsung ke rumah Pak Yaya?” Tanya Bram.
“ Panjang ceritanya Bang, dan kalau boleh tahu, abang sedang apa di sini?” Tanya Ijam.
“ Aku sedang membeli obat untuk kawan Kau, Krisna sakit lagi, tidak tega aku, jadi Aku belikan saja obat untuknya.” Ujar Bram.
“ Krisna sakit lagi Bang?, Aku boleh ikut Abang gak, ke rumah Pak Yaya.” Ujar Ijam.
“ YA sudah sekalian saja.” Ujar Bram.
Mereka akhirnya pulang , semua itu tidaklah kebetulan, orang baik akan mendapatkan bantuan dari orang baik pula, jadi tetaplah berbuat kebaikan , dan jangan bosan untuk melakukannya.