LANJUTAN 24

1790 Kata
Ijam sangat bersemangat mengarahkan warga, pundi – pundi keuangan semakin hari semakin mengalir, warga pun semakin terbantu, ilmu yang ia dapatkan ketika sekolah di luar , Ijam aplikasikan di kehidupan nyata yang hasilnya sangat membantu untuk warga sekitar.   Kubu Pak Sugeng yang masih terlunta – lunta, bahkan untuk makan sehari – hari mereka kesulitan, berbanding terbalik dengan kubu Ijam yang mulai meningkat segi ekonominya, satu persatu warga dari kubu pak Sugeng berpindah haluan, dan mengikuti cara dari Ijam, rutinitas berdoa pun semakin hari semakin ramai, logika warga pun mulai terbuka, hal itu lah yang membuat Pak Sugeng sangat marah, hingga akhirnya Pak Sugeng menyuruh Pak Dadang untuk melukai Ijam.   “ Dang, Semakin hari warga sudah mulai terhasut dengan anak yang tinggal di rumah mu itu, Aku sangat kesal terhadap dia, beri dia pelajaran.” Ujar Pak Sugeng.   “ Jangan seperti itu Pak, Dia itu sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri, tidak mungkin aku menyelakainya.” Ujar Pak Dadang.   “ Lalu , apa aku harus menurunkan seluruh bala bantuan ku di ujung hutan?” Tanya Pak Sugeng.   “ Jangan Pak, Nanti Aku beri pelajaran anak itu.” Ujar Pak Dadang.   Pak Dadang pun pergi meninggalkan Pak Sugeng, sepanjang jalan dia mencari cara untuk mengelabui Pak Sugeng, walau bagaimana pun, Ijam sudah di anggap seperti anaknya sendiri, sebagai mana pun jahatnya seorang ayah , dia tidak akan mau mencelakakan anaknya sendiri.   Sepanjang jalan Pak Dadang merenung dan tepat saat itu pukul 4 sore, Ijam pun saat itu sudah pulang di rumah, lantas Pak Dadang langsung terpikir untuk membuat rencana dengan Ijam.     “ Dari mana Pak?’ Tanya Ijam.   “ Dari rumahnya Pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang.   “ Tapi kenapa Bapak jadi murung?” Tanya Ijam.   Pak Dadang duduk sebelah Ijam.   “ Ini Jam, Bapak tadi di rumah Pak Sugeng membahas tentang dirimu jam, Dia tidak suka pa yang kamu lakukan di sini.” Ujar Pak Dadang.   “ Lantas dia menginginkan apa pak?” Tanya Ijam.   “ Dia menyuruh Bapak untuk memberikan pelajaran terhadapmu Jam.” Ujar Pak Dadang.   “ Jika memang seperti itu dan Bapak yang akan lakukan Ijam siap saja pak.” Ujar Ijam.   “ Tidak jam, Bapak pun tidak mau, Bapak malah di ancam akan celaka, bahkan keluarga kita ini bakal di celakai oleh pasukan milik Pak sugeng, jika Bapak tidak mencelakaimu.” Ujar Pak Dadang.   “ Lalu seperti apa pak, yang harus Ijam lakukan.” Ujar Ijam.   “ Bapak baru berpikir jika kita harus menyusun rencana untuk mengelabui Pak Sugeng, nanti Bapak akan berpura – pura mencelakai kamu, Kamu sementara pergi dulu ke kota, dan bilang ke warga lain untuk tetap menjalankan apa yang sebelumnya telah berjalan, penjualan gerabah pun tetap jalankan apalagi setiap malam harus tetap berjalan dengan atau tanpa Kamu Jam.” Ujar Pak Dadang.   “ Jadi malam ini kamu harus meninggalkan rumah, Bapak tidak mau kamu sampai celaka.” Ujar Pak Dadang.   “ lalu di sini bagaimana pak, jika saya pergi, Ibu , Ki amin tidak ada yang merawat.” Ujar Ijam.   “ jangan pikirkan Kami, jika memang kami celaka pun , itu akibat perbuatan awal kami jam.” Ujar Pak Dadang.   “ Tapi pak, Ijam tidak mau mengalah untuk orang Itu, Ijam akan lawan sebisa Ijam.” Ujar Ijam.   “ Untuk sekarang belum saatnya Kamu melawan, Pak Sugeng banyak anak buahnya, Bapak gak mau kamu celaka.” Ujar Ijjam.   “ Ya Sudah Pak, Ijam menurut saja baiknya seperti apa.” Ujar Ijam.   “ Malam Ini Kamu langsung berangkat , temui Krisna di kota tinggallah beberapa hari di sana, jika keadaan sudah membaik Bapak Kabari.” Ujar pak Dadang.   “ Baik Pak, Ijam Pamit dulu ke Ibu.” Ujar Ijam.   “ jangan Jam , kamu langsung berangkat saja, jika kamu bilang dulu ke Ibu, Dia akan sangat Khawatir.” Ujar Pak Dadang.   “ Baik Pak, Ijam langsung beres – beres dulu dan langsung berangkat.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, nanti Bapak bilang ke Pak Sugeng , jika Bapak sudah mengusirmu dari kampung ini.” Ujar Pak Dadang.   Ijam pergi ke kamarnya dan menulis pesan kepada Krisna jika Dia akan pergi mengunjunginya di kota, tepat saat itu waktu menunjukkan jam 7 malam. Ijam pun pergi , terlihat kekecewaan dari wajah Ijam dan Pak Dadang,   Pak Dadang pun segera pergi menuju rumah pak Sugeng dan mengatakan jika Ijam sudah pergi dari kampung ini.   “ Ijam sudah saya Usir dari kampung Ini Pak.” Ujar Pak Dadang kepada Pak Sugeng.   “ Bagus , sekarang Kamu pulang, besok ada tugas penting lain untuk kita kerjakan.” Ujar Pak Sugeng.   Pak Dadang pun pergi sambil menarik nafas panjang, Dan pulang ke rumah, dan saat di rumah pun Pak Dadang mendapat banyak pertanyaan dari istrinya.   “ Pak?” Ujar Bu Eni dengan wajah yang gusar.   “ Di suruh ke mana Ijam?, tega sekali kamu Pak.” Ujar Bu Eni.   “ Bapak bisa jelaskan Bu.” Ujar Pak Dadang.   “ Coba jelaskan Ibu akan dengarkan sampai akhir.” Ujar Bu Eni marah.   “ jangan di depan rumah Bu, Kita di Rumah saja.” Ujar Pak Dadang.   Mereka berdua masuk ke dalam rumah, Pak Dadang berusaha menenangkan hari istrinya.   “ jadi seperti ini Bu kejadiannya, Pak Sugeng menyuruh Bapak untuk mencelakai Ijam, Bapak Gak mau, hanya Pak Sugeng mengancam akan mengirim pasukannya ke rumah kita, Bapak juga gak Mau Ijam celaka, makannya Bapak suruh Ijam untuk sementara waktu di kota bersama Krisna, sampai situasinya membaik, karena jika tidak Bapak Tidak mau jika Ijam kenapa – kenapa.” Ujar Pak Dadang.   “ keterlaluan Pak Sugeng, semakin merajalela kelakuannya.” Ujar Bu Eni.   “ Sudah Bu, yang penting sekarang Ijam sudah berangkat, jika ada yang bertanya soal Ijam bilang saja Ijam sudah d usir sama Bapak.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak, Tapi kenapa keluarga kita jadi seperti ini, kita telah banyak berdosa Pak.” Ujar tangis Bu Eni.   Pak Dadang merasa malu dengan dirinya sendiri, sebab mungkin karena kelakuan dirinya dan Ki Amin yang membuat keluarganya hancur, terlalu percaya pada Pak Sugeng, dan terlalu mengagungkan hal lain, kini semua harus menerima akibatnya, Pak Dadang penuh dengan penyesalan, hingga sedikit – demi sedikit mata Pak Dadang berkaca dan sedikit demi sedikit mulai bercucuran, membasahi wajahnya.   “ sudah Pak, yang Lalu sudah berlalu, yang penting sekarang Kita harus mencari jalan keluar dalam semua masalah ini.” Ujar Bu Eni.   “ Ia Bu , sekarang kita cari jalan keluarnya bersama, dan cari obat untuk kesembuhan Ki amin.” Ujar Pak Dadang.   Mereka berdua berjanji untuk mencari solusinya bersama, ke esokan harinya banyak warga yang menanyakan keberadaan Ijam, satu persatu warga datang ke kediaman Pak Dadang, hingga rumah Pak Dadang di penuhi warga, mereka menanyakan Ijam, sebab penjualan hari itu sedang meningkat, sehingga warga kebingungan untuk memenuhi pesanan yang ada, warga pun terkejut mendengar jika Ijam sudah tidak ada di rumah Pak Dadang, kekecewaan terpancar di wajah mereka, hingga akhirnya mereka pun marah dan menghardik Pak Dadang , pak Dadang hanya terdiam dan menahan emosinya, Dia menahan amarahnya demi keselamatan keluarganya dan juga Ijam.   Tidak lama kemudian Hp Pak Dadang berbunyi, dan tertulis pesan dari Ijam.   “ PAK , SAYA SUDAH SAMPAI DI KOTA, SEBENTAR LAGI KRISNA MENJEMPUT.” Ujar Ijam dalam pesan nya.   Pak Dadang lega mendengar Ijam sudah di kota, Dia tinggal menyusun rencana agar warga tidak kehilangan arahan dari Ijam, penjualan yang meningkat membuat Ijam sangat di butuhkan , tapi situasi dan kondisi lah yang membuat semuanya harus mengerti, Ijam pun sempat berbalas pesan dengan Krisna dan sedikit pertanyaan Krisna , Masalah apa lagi yang sedang terjadi di kampungnya.   Tepat saat itu menunjukan waktu jam 8 pagi, Ijam menelepon Krisna tapi tidak di terima panggilannya, memang Krisna saat itu sedang bekerja, hingga akhirnya Ijam memutuskan untuk berdiam di terminal, sampai Krisna melihat pesan dari Ijam. Ijam berjalan mengelilingi Terminal Bis untuk menghabiskan waktu, waktu pun berlalu begitu cepat , hingga akhirnya Krisna membuka pesan di Hp nya dan langsung menjemput Ijam di terminal.   “ Bang, Aku boleh pinjam motor gak, Ada seseorang yang harus aku jemput.” Ujar Krisna kepada Bram.   “ Tumben sekali Kau, seseorang siapa? Mulai nakal kau rupanya.” Ujar Bram.   “ saudara Ku dari kampung Bang, dia sedang berkunjung ke kota, dan dia tidak tahu jalan sini, makannya harus aku jemput.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah, bawa aku ke kosan mu dulu, Aku tunggu di kamarmu saja, sambil istirahat.” Ujar Bram.   Krisna dan Bram pun pulang ke rumah Pak Yaya, Bram menunggu di kamar krisna.   “ Kau Bawa motor ku dengan hati – hati, jangan ngebut.” Ujar Bram.   “ Ia Bang, pasti.” Ujar Krisna.   “ Motor ku memang jelek tapi cicilannya belum lunas, jangan sampai jatuh ya, motor ini sebagian dari jiwaku, jika motorku sakit Aku pun akan sakit pula.” Ujar Bram.   “ Ya ampun Bang , sampai segitunya segala.” Ujar Krisna.   Bram tersenyum.   “ Sudahlah Kau berangkat, hati – hati di jalannya.’ Ujar Bram.   Krisna pun pergi meninggalkan Bram, dan Pak Yaya bertanya kepada Bram.   “ Pergi kemana Mas Krisna?” tanya  Pak Yaya.   “ Mau jemput saudaranya dari kampung Pak, jadi dia pakai motorku.” Ujar Bram.   “ Oh, Bapak kira mau kemana.” Ujar Pak Yaya.   “ Oh Ia Bram, Mas Yuda sudah keluar kantor belum?” Tanya Pak Yaya.   “ Belum Pak, Biasanya Dia plang paling terakhir, paling jam 4, sebentar lagi Pak.” Ujar Bram.   “ Memangnya kenapa Pak sama Pak Yuda?” tanya Bram.   “ Gak papa Bram, Bapak hanya Khawatir saja sama Dia, takut kejadian kemarin terjadi lagi.” Ujar Pak yaya.   “ Oh, Tenang saja Pak, gara – gara kejadian kemarin, keamanan di sana juga semakin ketat, jadi tidak semua orang bisa keluar masuk.” Ujar Bram.   “ Syukrulah , kalau seperti itu.” Ujar Pak Yaya.   Krisna membawa motor Bram dengan kecepatan Konstan, jarak dari rumah ke terminal hanya sekitar 30 menit, hanya saja di area perkantoran sangat macet, dan pada saat itu juga sedang bubaran kantor, hingga sampai akhirnya Krisna sampai ke terminal saat menjelang malam.   Krisna berjalan mencari Ijam, teleponnya tidak aktif, hingga sampai akhirnya Krisna menemukan Ijam sedang berdoa di mushola terminal.   “ Luar biasa sahabatku satu ini, tidak di mana pun dia tidak pernah putus beribadat, jadi iri sama Dia.” Ujar Krisna berbicara sambil melihat Ijam.   Krisna menghampiri Ijam.   “Jam sudah beres?” tanya Krsina.   “ Kris, ini Kamu Kris, sudah bertahun – tahun kita tidak bertemu, kamu masih seperti dulu, tengil.” Ujar Ijam.   “ Ia Jam, Aku masih seperti dulu, gak berubah.” Ujar Krisna.   “ Ya sudah jam Kita langsung berangkat saja , sudah malam.” Ujar Krisna.   Mereka pun Pulang menggunakan kendaraan milik Bram, di perjalanan pun tidak henti – hentinya mereka berbalas candaan, Kebersamaan mereka dari kecil memang tidak bisa di pisahkan, saat dewasa sifat mereka pun  tidak pernah berubah sebagai sahabat baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN