Ijam masih merasakan detak jantungnya yang berdenyut sangat kencang, meskipun Ijam bukan seorang penakut tapi adrenalinnya ikut terpompa, wajahnya masih pucat, hingga akhirnya Krisna terbangun dari tidurnya, dan melihat di sampingnya ijam yang berdiri melihat ke arah pintu.
“ Jam, kenapa Kamu, Kapan pulang?" Tanya Krisna.
" Oh Ia Kris, sudah bangun kamu Kris, aku baru pulang Kris.” Ujar Ijam.
“ Tunggu sebentar, Kamu kenapa Pucat begitu jam, dan untuk apa kamu berdiri menghadap pintu seperti itu.” tanya Krisna.
“ Aku Tadi berlari dari toko Pak Yaya Kris, jadi Aku kecapean, dan kedinginan Kris, jadi saja muka ku sedikit pucat.” Ujar Ijam.
“ Oh Gitu, Ya sudah Kamu istirahat saja, Aku mau siap – siap dulu untuk kerja.” Ujar Krisna.
Saat Krisna keluar kamar, Ijam sedikit menghela nafas, sambil terduduk Dia menundukkan kepalanya. untuk pengalaman pertamanya , baginya ini sangat menyeramkan. memang benar ucapan Pak Yaya, setiap benda memiliki sejarahnya masing – masing, dan bagi yang memiliki kejadian kelam maka kejadian itu setidaknya tertulis lewat benda - benda yang ikut menyaksikan peristiwa itu.
Hingga akhirnya tepat tengah hari pun tiba, tepat saat itu cuaca sedikit mendung, mungkin karena sudah musim hujan juga, bergegas ijam bangun dari istirahatnya, kejadian malam tadi cukup menguras tenaga Ijam, hingga tidurnya pun cukup lelap, Ijam pun langsung keluar setelah bersiap, dan mencari Pak Yaya, hanya saja Pak Yaya sudah Tidak ada di rumah.
Ijam pun menduga jika pak Yaya sudah berada di toko antik miliknya untuk membereskan kekacauan tadi malam, Ijam pun pergi menyusul Pak Yaya ke toko antik itu, sesampainya di sana ternyata keadaan toko masih kosong dan berantakan.
Ijam yang awalnya mengira jika Pak Yaya sudah berada di toko pun, akhirnya masuk ke dalam toko yang memang tidak pernah di kunci sebelumnya
“ Toko juga masih berantakan, Pak Yaya sepertinya suda di dalam, Aku masuk langsung saja.” Ujar Ijam.
Ketika di dalam pun semua ruangan sudah di masuki Ijam, Tapi Pak Yaya tidak ada di toko, Ijam pun mendekati meja rias yang semalam di duduki perempuan noni belanda itu, Ijam melihat – lihat benda itu, mengelilinginya dan perlahan menyentuh meja rias itu, dan Ijam pun di kejutkan dengan Kedatangan Pak Yaya yang di antarkan oleh seorang teman.
“ Mas!” Ujar Pak Yaya mengagetkan.
“ Duh Pak Yaya, Bikin kaget saja, kirai saya makhluk yang semalam.” Ujar Ijam terkejut.
“ Dari mana Pak, saya Kira Bapak sudah ke sini.” Ujar Ijam.
“ Tadi Bapak sudah di sini Mas, Hanya saja tadi Bapak di jemput sama kawan Bapak yang kemarin datang ke sini.” Ujar Pak Yaya.
“ oh teman Bapak yang kolektor itu ya, kenapa Dia tidak turun pak?” Tanya Ijam.
“ Orang sibuk Dia Mas, susah kalau hanya sekedar mampir, dia bakal mampir jika ada keperluan saja Mas.” Ujar Pak Yaya.
“ Ya sudah Pak, Mari kita bereskan tempat ini.” Ujar Ijam.
“ Mari Mas, Hanya saja jangan lewat magrib ya Mas, Bapak masih trauma .” Ujar Pak Yaya.
“ Jangankan Bapak, Saya juga masih trauma Pak.” Ujar Ijam tersenyum.
Mereka pun sedikit demi sedikit membereskan benda yang terendam air, mungkin butuh waktu lebih dari dua hari untuk membereskan semua itu, tapi semua pekerjaan tidak akan terasa berat jika di kerjakan secara bersama- sama.
Krisna pun datang menyusul untuk membantu mereka, Krisna tidak datang sendirian , Dia datang bersama Bram.
“ Sedang sibuk sepertinya.” Ujar Krisna sambil melihat Ijam dan Pak Yaya yang sedang mengambil air sedikit demi sedikit dari lantai.
“ Bala bantuan datang pak.” Ujar Ijam.
“ Mas Kris, sama Bram ada apa ke sini tumben sekali.” Ujar pak Yaya.
“ Ia Pak , Kita ke sini mau membantu untuk beres – beres, soalnya saya mendengar dari cerita Ijam semalam itu hujannya besar dan banjir masuk ke dalam toko.” Ujar Krisna.
“ Bukan banjir Mas, ini bocor dari atas dan dinding saja.” Ujar Pak Yaya.
“ IA Pak, sama saja , yang jelas ini lantainya basah, ya berarti banjir.” Ujar Krisna.
“ Mas Kris ini ada – ada saja, Mas Kris betul mau membantu Bapak di sini?” Tanya Pak Yaya.
“ IA Pak, makannya saya ajak Bram juga biar pekerjaannya lebih cepat.” Ujar Krisna.
“ Ia Pak , saya di paksa ke sini, mana saya tidak di upah lagi.” Ujar Bram.
“ Bram mau di upah apa?, jika mau sama barang yang di sini , ambil satu buat Bram simpan di rumah.” Ujar Pak Yaya.
“ Yang betul Pak? , kebetulan saya tidak punya lemari.” Ujar Bram.
“ Ya jika bisa membawanya silakan ambil.” Ujar Pak Yaya.
“ Bang, kenapa Kau , tidak ikhlas membantu.” Ujar Krisna.
“ Hanya bercanda saja Kris, Aku ikhlas membantu Pak, tenang saja .” Ujar Bram sambil tersenyum.
“ YA sudah, bagaimana bagusnya saja Mas, jika Mas Kris sama Bram mau membantu , tolong ambilkan pel di kamar mandi.” Ujar pak Yaya.
“ Baik Pak.” Ujar Krisna.
“ Ok Pak.” Ujar Bram.
Mereka berempat pun membereskan toko itu dengan sangat rapi dan cepat , hingga tepat adzan maghrib berkumandang, pekerjaan mereka pun selesai. Krisna dan Bram tidak tahu apa yang sebenarnya semalam terjadi kepada pak Yaya dan Ijam, sehingga Krisna dan Bram terlihat santai saja, saat malam menjelang.
Pak Yaya dan Ijam mulai merasa tidak enak hati, akhirnya mereka memutuskan untuk mengajak Krisna dan Bram pulang, tapi Krisna dan Bram masih ingin tetap tinggal dulu sejenak, untuk beristirahat.
“ Mas Kelihatannya sudah beres, mari kita pulang, sudah menjelang malam pula.” Ujar Pak Yaya.
“ kenapa Buru – buru Pak, Saya masih cape.” Ujar Bram.
“ IA Mas, makannya kita istirahat di rumah saja.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh, Ia Kris, kemarin Pak Yaya memberikan botol antik untuk mu, benda itu ada di atas meja rias itu.” Ujar Ijam kepada Krisna.
“ Wah , mana Jam. kebetulan Di kamar Ku kan kosong, hanya ada lemari, sama kasur saja, lumayan buat pajangan.” Ujar Krisna.
“ Hanya Krisna saja Pak yang dapat barang?” tanya Bram.
“ Jika Bram mau, boleh ambil saja yang Bram suka.” Ujar Pak Yaya.
“ Hanya ingat saja pesan Bapak, benda di sini kan termasuk benda tua, yang menjadikan benda itu mahal adalah sejarah yang ada di dalamnya.” Ujar Pak Yaya.
“ Ngomong – ngomong soal sejarah Pak, Botol itu dulu punya sejarah apa?, Saya bakal ambil jika sejarahnya bagus, Saya sedikit takut jika botol itu dulunya sarang atau tempat makhluk lain bersemayam.” Ujar krisna.
“ Botol itu dulu Bapak dapat dari seorang sahabat, botol itu dulunya tidak pernah di buka selama bertahun – tahun, dari dus, plastik, hingga segelnya pun masih asli, hanya saja tepatnya kemarin botol itu ternoda oleh seseorang, botol itu di buka dari segelnya, lalu di isi air dan di pergunakan untuk minum, dan berkat botol itu, Dia bisa terselamatkan dari dehidrasi.” Ujar Pak Yaya.
“ Orang itu siapa Pak?” tanya Krisna penasaran.
“ Orang itu sedang berada di hadapanmu.” Ujar Pak Yaya tersenyum.
“ Ah Pak Yaya, saya sudah mendengarkan, sampai saya terbawa suasana, tahunya Bapak hanya bercanda.” Ujar Krisna sambil tertawa.
Sontak mereka berempat tertawa mendengar Krisna yang terkena ucapan jahil Pak Yaya, Lalu Bram pun ikut melihat – lihat sekitar, dengan harapan ada benda yang bagus dan bisa menjadi miliknya, lalu Bram melihat sebuah kalung yang terbuat dari kayu. Bram membawa benda itu ke hadapan Pak Yaya, dan menanyakan perihal asal - muasal benda itu.
“ Pak, Kalau ini, Gak Papa untuk saya?” tanya Bram.
“ Boleh sekali Mas, sebagai upah untuk bantu – bantu Bapak hari ini.” Ujar Pak Yaya.
“ serius Pak?, Ini bisa di pakai buat sehari – hari soalnya.” Ujar Bram.
“ Boleh Bram, ambil saja.” Ujar Pak Yaya.
“ Tapi kan kata Bapak setiap barang punya sejarah, nah untuk kalung ini punya sejarah apa, tapi yang serius ya Pak.” Ujar bram.
“ Sebentar Bapak ingat – ingat dulu.” Ujar Pak Yaya.
“ jawab yang serius ya Pak.” Ujar Bram.
“ oh ia , Bapak baru ingat, kalung kayu itu dulu berasal dari seorang kolektor, kalung itu mahal loh Bram, harganya jika kolektor yang tahu, itu bisa seharga motor baru.” Ujar Pak Yaya.
“ pilihan tepat kalau begitu.” Ujar Bram tersenyum.
“ Tukar Bram.” Ujar Krisna sambil menyodorkan botol pemberian Pak Yaya.
“ Ini Pilihanku Kris, Setiap orang punya rezekinya masing – masing Kris, sudah terima saja botol itu.” Ujar Bram.
“ Sudah Mas, nanti jika ada kalung lagi Bapak berikan percuma untuk mas Kris. Soal Kalung itu dulu kolektor memberikannya gratis untuk Bapak Mas, sebagai hadiah saat toko ini sedang ramai – ramainya, benda itu tidak ada sejarah yang kelam atau apa pun hanya saja yang memberikan kalung itu sudah meninggal.” Ujar Pak Yaya.
“ Oh aman berarti.” Ujar Bram langsung memakai kalung itu.
Perbincangan mereka terlalu seru , hingga akhirnya waktu pun tidak terasa sudah memasuki jam 9 malam , Ijam mulai merasa tidak nyaman, Ijam menepuk pundak Pak Yaya, sambil memberikan isyarat dengan memperlihatkan jam pada tangannya, pak Yaya pun paham dengan maksud Ijam dan bergegas mengajak Krisna dan Bram pulang.
Akhirnya mereka pun bersedia pulang, Bram tidak merasakan hal aneh sedikit pun, berbeda dengan ijam yang sudah mulai gelisah di perjalanan pulang, begitu pula dengan Krisna, Krisna yang awalnya tenang mendadak gelisah dan cemas, pandangannya selalu melihat ke langit, perjalanan pulang pun terasa sangat lama untuk Ijam dan Krisna.
Ijam pun menyadari jika Krisna merasakan apa yang dia rasakan saat itu, Krisna terlihat lebih peka dengan kondisi seperti ini, Krisna pun sadar ada yang tidak beres, dan ketika Krisna menengok ke belakang , di sana ada sosok bayangan hitam yang mengikuti mereka, pak Yaya berjalan paling depan, Bram berjalan di belakang pak Yaya sedangkan Ijam dan Bram berjalan bersama.
Krisna memberikan Isyarat kepada Ijam jika mereka sedang di ikuti.
“ Jam, coba tengok ke belakang!” Ujar Krisna.
“ Apa Kris?” tanya Ijam.
“ Lihat saja ke belakang.” Ujar Krisna sedikit membentak tapi dengan suara pelan.
Ijam perlahan lahan menengok ke belakang , dan memang benar di sana ada yang mengikuti mereka, hanya saja Ijam melihat bayangan itu dengan bentuk lain, bayangan itu lebih mirip asap pekat dari pandangan Ijam, hanya saja meskipun bentuknya berbeda dengan apa yang di lihat Krisna tetap saja makhluk itu mengikuti mereka, seakan – akan di undang oleh mereka berempat.
Krisna dan Ijam berusaha acuh, hingga sampailah di rumah, Bram yang saat itu memutuskan untuk menginap memilih tidur di ruang tamu.
Krisna dan Ijam yang sudah berada di kamar hanya saling bertatap muka, Ijam Pun menjelaskan jika semalam dia mengalami hal serupa. hanya saja dengan makhluk yang berbeda, hal itu membuat Krisna yakin jika dirinya dan keluarganya tengah di ganggu oleh makhluk astral.
Mereka pun mencoba menenangkan dirinya masing – masing , Ijam yang terus mengucapkan doa – doa, sedangkan Krisna lebih banyak terdiam.
“ Aku Yakin Jam, jika kita dan keluarga ku sedang di ganggu oleh makhluk astral, sebab tidak mungkin jika semua kejadian ini terjadi begitu sering, tidak di sini , di rumahku apa lagi.’’ Ujar Krisna.
“ Sepertinya memang begitu Kris, kita harus sesegera mungkin mencari jalan keluar, kita tidak bisa diam saja dengan situasi ini.” Ujar Ijam.
“ Ia tapi apa Jam, Aku juga bingung.” Ujar Krisna.
“ Oh Ia Kris, apa kamu melihat makhluk seperti tadi itu kebetulan atau memang kamu bisa melihatnya dengan kemauan mu?” Tanya Ijam.
“ hanya kebetulan saja Jam, Aku tidak bisa melihat mereka sesuai kemauanku, Dan Aku pun tidak mau sebenarnya untuk bisa melihat mereka.” Ujar Krisna.
“ Aku ada ide Kris, jika kamu bisa melihat mereka , mungkin kamu bisa menggambarkan apa yang mereka mau, dan mungkin saja kita bisa mencari jalan untuk masalah ini.” Ujar Ijam.
“ kenapa harus Aku Jam?’’ Tanya Krisna.
“ Kamu Kan ada ikatan darah dengan Pak Dadang, ya siapa tahu cara itu bisa berhasil.” Ujar Ijam.
“ kenapa Bukan kamu saja, Bapak kan juga menganggapmu sebagai anaknya.” Ujar Krisna.
“ Aku tidak ada hubungan darah Kris, jadi ikatan batin aku dan pak Dadang itu tidak ada, berbeda denganmu Kris.” Ujar Ijam.
“ Tapi bagai mana caranya Jam ?, Siti dan atasanku Pak Yuda mereka bisa melihat makhluk itu karena mereka punya kemampuan itu sejak kecil.” Ujar Krisna
“ Menurut buku yang pernah Aku baca, konon katanya jika kita menghabiskan sebagian alis mata kita, kita bisa melihat mereka Kris, tapi Apa Kamu sudah siap, jika harus bertemu mereka setiap saat ?” Tanya Ijam.
“ Nah Itu Dia Jam, Kamu Tahu Kan Aku penakut, Aku tidak terbayang jika setiap sat aku bisa melihat mereka.” Ujar Krisna.
“ Tapi Apa cara itu akan berhasil, jika Aku sudah bisa melihat mereka, lalu apa yang harus Aku lakukan?” tanya Krisna.
“ Kamu bisa menjelaskan kepadaku, makhluk apa yang sering mengganggu mu dan keluargamu, jika sudah, mungkin kita bisa menemukan cara yang tepat untuk mengusir mereka.” Ujar ijam.
“ Kamu yakin Jam cara ini akan berhasil?’’ tanya Krisna.
“ Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya Kris, Kuatkan saja mental dan pikiranmu terlebih dahulu.” Ujar Ijam.
Krisna Pun mulai memikirkan ide dari Ijam , besar harapan Krisna untuk segera keluar dari masalah ini, Krisna harus menyiapkan mental sebaik mungkin, dan mempersiapkan dirinya agar kuat menghadapi kehidupan baru dengan kelebihan bisa melihat makhluk astral.