LANJUTAN 40

1342 Kata
Ki Amin sejak berada di rumah Pak Yaya, mulai menunjukkan perkembangan yang baik, Ki amin kini sudah bisa berbicara dengan lancar, meskipun nafasnya masih tetap bera, Krisna mencoba mengajak Ki Amin ke dokter di kota, tapi tetap saja hanya penolakan dari Ki Amin terutama dari pak Dadang yang menolak keras.   “ Kek, semenjak kakek di sini Kakek mulai menunjukkan perubahan yang signifikan, Biar kakek benar – benar pulih, lebih baik kita ke dokter saja.” Ujar Krisna.   “ Sudah Kris jangan, Kakek sudah enakkan.” Ujar ki Amin dengan nafas berat.   Pak Dadang langsung menghampiri Krisna dan Ki amin yang tengah berada di kamar.   “ Untuk apa Kris, Kakek sudah ada obatnya, dan hanya Pak Sugeng yang tahu obatnya.” Ujar Pak Dadang tegas.   “ Segala sesuatu itu kenapa harus dengan Pak Sugeng, memangnya siapa Dia, Bapak ini sudah di racuni oleh orang itu.” Ujar Krisna.   “ Kamu ini semakin besar, semakin susah di atur.” Ujar Pak Dadang.   “ Krisna Hanya ingin membantu Pak, Apa salahnya?” Tanya Krisna.   “ Salahnya Kamu selalu tidak mendengarkan perintah Bapak.” Ujar Pak Dadang.   “ Jika orang tua salah, apa anak harus ikut salah?, Bapak ini harusnya bersyukur, punya anak yang memiliki pendirian, asal Bapak tahu, perilaku Bapak sekarang ini sudah salah, akibat terlalu mempercayai Pak Sugeng.” Ujar Krisna.   Mendengar kegaduhan di dalam Kamar Ki Amin, Pak Yaya mencoba untuk masuk dan menanyakan duduk permasalahannya.   “ Permisi Pak, maaf mengganggu, saya dengar teriakan – teriakan, dari sini, takutnya terdengar oleh tetangga tidak enak juga.” Ujar Pak Yaya.   “ Ia Pak, Maaf ini salah Krisna.” Ujar Krisna.   “ Tidak Apa – apa  mas, Bapak hanya mengingatkan saja, dan bukan bermaksud lancang dan bukan bermaksud ikut campur , tapi ada baiknya segala sesuatu kita bicarakan dengan kepala yang dingin, dan harus ada salah satu orang sebagai penengah.” Ujar Pak Yaya.   “ Boleh itu Pak, Saya juga ada sedikit hal yang ingin saya sampaikan kepada anak saya ini, agar dia bisa terima.” Ujar Pak Dadang.   “ Sudah lah Pak, jangan di perpanjang, malu sama Pak Yaya.” Ujar Krisna.   “ Tidak apa – apa mas, lebih baik di bicarakan segala sesuatu itu.” Ujar Pak Yaya.   Mereka bertiga pun memutuskan untuk duduk di luar dan meninggalkan Ki Amin bersama Bu Eni, Bu Eni pun merasa sedih melihat dua lelaki yang ada di hidupnya selalu bertengkar, dan berbeda jalan pikiran.   “ kenapa Ya Pak, mereka selalu beradu argumen terus?” Tanya Bu Eni kepada Ki Amin.   “ Sudah Gak Papa, Memang watak Dadang itu dari kecil sangat keras, dan sangat sulit menerima pendapat orang lain, biarkan saja, nanti juga Dadang sadar, Bapak Tahu Dadang itu sudah salah selama Ini, hanya saja Dia tidak mau mengakuinya.” Ujar Ki Amin dengan nafas berat.   “ Ya Sudah, Bapak juga jangan terlalu memikirkan mereka, yang penting Bapak Bisa cepat sembuh.” Ujar Bu Eni.   “ Tidak Apa – apa , Bapak rasanya lebih nyaman di sini dari pada di rumah .” Ujar Ki Amin dengan nafas berat.   “ Ia Pak, Eni juga sama, di rumah kampung sekarang suasananya sangat berbeda, hawanya lebih pengap dan lembap.” Ujar Bu Eni.   Krisna, Pak Dadang dan Pak Yaya, akhirnya berada di luar, tepat saat itu juga waktu sudah menunjukkan jam 10 siang, hanya saja cuaca saat itu sedang mendung dan gerimis pun mulai muncul.   “ Jadi bagaimana Pak, Apa yang mau Bapak sampaikan kepada Krisna, dan sekali lagi maaf saya sebenarnya tidak mau ikut campur, tapi sekarang kan Bapak dan Krisna ada di rumah saya, jadi Saya juga harus tahu permasalahan kalian, saya tidak mau jika ada pertengkaran tanpa sepengetahuan saya.” Pak Yaya.   “ Ia Pak maaf sebelumnya, kita di sini hanya membuat repot Bapak, besok juga kita pulang ke kampung.” Ujar Pak Dadang.   “ Jangan dulu Pak, kan niatan Krisna mengajak keluarga ke rumah ini ingin menyampaikan sesuatu , dan ingin membuat Ki Amin sembuh, Krisna sebelumnya sudah membicarakan hal ini dengan saya.” Ujar Pak Yaya.   “ Memang ada tujuan lain Kris?” tanya Pak Dadang kepada Krisna.   “ Tenang dulu Pak.” Ujar Pak Yaya.   “ Pantas saja Kamu bela – belain datang ke kampung, ternyata ada tujuan lain.” Ujar Pak Dadang.   “ Sudah Pak tenang dulu, dengarkan kata Krisna dulu.” Ujar Pak Yaya menenangkan.   Pak Dadang pun terdiam dengan menolehkan wajahnya ke arah lain.   “ Silakan Mas Kris, sebaiknya Mas juga jujur saja, jangan biarkan masalah berlarut - larut." Ujar Pak Yaya.   Krisna pun terdiam , dirinya seperti belum siap untuk jujur dengan semua rencananya, tapi Krisna berpikir kembali jika saran dari Pak Yaya , ada benarnya.   “ Krisna ingin menjauhkan Bapak dengan Pak Sugeng, Pak Sugeng itu pengaruh buruk untuk Bapak, bahkan warga kampung.” Ujar Krisna.   “ Pak Sugeng yang telah menyelamatkan kamu, hingga akhirnya kamu bisa bekerja di sini dan tanpa gangguan, karena benda yang Pak Sugeng berikan saat itu lah yang menyelamatkan Kamu.” Ujar Pak Dadang.   “ Asal Bapak tahu, benda itu Krisna bakar, dan Saat ini Krisna sudah tidak bekerja, apa itu membantu?, tidak sama sekali Pak.” Ujar Krisna.   “ Bagus sekali kamu membakar benda itu, tanpa sepengetahuan Pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang.   “ Krisna di sini sampai stres, Gara – gara benda itu, Krisna sering di ganggu oleh makhluk – makhluk yang Krisna tidak tahu apa namanya, Apa Bapak ingin jika Krisna gila gara – gara benda itu?” Tanya Krisna.   “ Kamu itu yang sembrono, jika benda itu tidak di bakar , kamu akan baik – baik saja.” Ujar Pak Dadang.   “ Sebelum benda itu datang Krisna sudah baik - baik saja Pak, saat benda itu bapak berikan , malah bencana yang datang kepada Krisna, apa Bapak senang dengan hal itu?” Tanya Krisna.   Pak Dadang hanya terdiam, dengan pernyataan Krisna.   “ sekarang apa Bapak bisa membuat Krisna kembali ke keadaan semula, tanpa gangguan sosok makhluk halus, asal Bapak tahu Krisna tertekan Pak.” Ujar Krisna.   Pak Dadang terdiam dan mulai menyadari kesalahannya.   “ Coba jawab pak, apa bisa?, Suasana rumah sekarang sangat berbeda, Asal Bapak Tahu sekarang Krisna bisa melihat sosok itu, sosok itu dari awal kita pergi dari kampung selalu mengikuti, apa bapak menyadarinya?” Tanya Krisna.   “ Ngaco Kamu, Keadaan rumah baik – baik saja.” Ujar Pak Dadang.   “ Sudah cukup Mas Kris, sekarang Mas Kris langsung saja pada inti masalah, jika terus menerus membahas hal ini tidak akan ada habisnya.” Ujar pak Yaya.   “ Ia Pak, Intinya , Krisna tidak suka jika Bapak terus menerus di jadikan b***k oleh Pak Sugeng, dan asal Bapak tahu Pak Sugeng itu hanya memanfaatkan Bapak, Harus berapa kali Krisna bicara kepada Bapak.” Ujar Krisna.   Pak Dadang tiba – tiba menangis.   “ Bapak sebenarnya sudah di kecewakan oleh Pak Sugeng, Pak Sugeng menganggap jika Ki Amin sudah waktunya untuk pergi, tidak usah di obati, Tapi Bapak tidak terima dengan hal itu.” Ujar Pak Dadang.   “ Sekarang Bapak sudah paham dengan tujuan Krisna?” Tanya Krisna.   Pak Dadang hanya terdiam sambil membersihkan air matanya.   “ pak, Krisna melakukan hal ini karena Krisna ingin keluarga Kita terbebas dari belenggu makhluk astral dan tidak menjadikan Pak Sugeng sebagai raja.” Ujar Krisna.   “ Tapi Bapak juga melakukan ini demi Ki Amin, Pak Sugeng berjanji Jika Bapak menuruti semua keinginannya, Dia akan memberikan obat untuk Ki Amin.” Ujar Pak Dadang.   “ Obat apa Pak?” Tanya Krisna.   “ Untuk kesembuhan ki Amin, hanya saja setelah beberapa kali Bapak menuruti perintah Dia, Obat itu belum di berikan.” Ujar Pak Dadang.    “ Pak, Sepertinya Bapak sudah di jadikan alat saja , dengan iming – iming kesembuhan Kakek, sekarang tolong ikuti saran Krisna, Krisna ingin kita semua keluar dari permasalahan ini.” Ujar Krisna.   Pak Dadang pun hanya terdiam melihat ke arah Krisna, tatapan Krisna begitu yakin , Pak Dadang pun tidak mengia kan dan juga tidak menolak, dengan adanya pak Yaya sebagai penengah, pembicaraan mereka pun terarah sesuai inti permasalahan, dan mengesampingkan permasalahan yang telah berlalu, sehingga rasa emosi dan egois pun bisa teredam dan solusi pun bisa tercapai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN