LANJUTAN 13

1294 Kata
  Kehidupan keluarga Pak Dadang kini semakin carut marut , penyesalan setiap hari di rasakan oleh Pak Dadang, di tambah dengan kondisi ki Amin yang tidak ada tanda – tanda kesembuhan, menjadikan semua ini semakin lengkap.   Keluarga Pak Dadang juga sekali lagi harus menelan pil pahit, bukan tanpa sebab, ladang yang biasanya subur dan di penuhi hamparan padi, kini yang tersisa hanya lah hamparan tanah tandus yang mengelilingi seluruh area persawahan, keluarga Pak Dadang hanya mengandalkan persediaan beras di tempat penyimpanan.   Hari demi hari di jalani keluarga Pak Dadang, perlahan cadangan atau persediaan makanan pak Dadang menipis, sedikit demi sedikit. tak ayalnya dengan persediaan uang, Pak Dadang yang harus merawat ki Amin dan membelikan obat untuk Kesembuhan ki Amin telah habis dari minggu lalu, Pak Dadang hanya bisa mengeluh dan menggerutu melihat keadaan nya sekarang.   “ Pak, persediaan beras di tempat penyimpanan kita sudah tinggal sedikit.” Ujar Bu Eni   “ Ia Bu, Bapak juga tau, di hemat dulu ya Bu, mudah – mudahan cukup agak lama.” Ujar Pak Dadang.   “ Gak akan cukup Pak, ini saja sudah tinggal terakhir.” Ujar Bu Eni.   “ kenapa cepat sekali habis.” Ujar Pak Dadang.   Dengan kesal Bu Eni menjawab . “ gimana gak habis pak, Bapakmu ( ki Amin) , meskipun sakit tapi makannya sangat banyak, heran Ibu juga.” Ujar Bu Eni.   “ Sabar ya Bu, ini kemarau sangat panjang, mungkin penunggu hutan marah sama kita Bu.” Ujar Pak Dadang. “ penunggu hutan yang mana pak? Ini musim kemarau datangnya itu dari sang pencipta, sudahlah pak, berpikir secara logis untuk saat ini.” Ujar Bu Eni.   “ Ibu dapat uang dari mana untuk lauknya, sedangkan persediaan uang kita juga habis.” Tanya Pak Dadang.   “ Yang perlu Bapak tau, Ibu setiap bulannya di kirim uang oleh Anak Mu, (Krisna), dan Ibu belanjakan untuk kebutuhan kita.” Ujar Bu Eni.   “kenapa Ibu tidak bilang kepada Bapak?” Tanya Pak Dadang.   “ Kalau Ibu bilang, pasti uang ini akan Bapak kembalikan lagi kepada Krisna!” ujar Bu Eni.   “ Sudah lah Pak, turunkan egomu, apalagi untuk Krisna, rangkul dia perbaiki hubungan antara Bapak dan Anak, jangan mementingkan diri sendiri, dan jangan mementingkan orang lain, contohnya Pak Sugeng. Bapak itu segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Pak Sugeng selalu jadi nomor satu, tapi jika urusan Krisna , Bapak malah selalu menentang Dia, dan sekarang Bapak liat,, yang dulu Bapak halang – halangi , Bapak batasi, kini dia yang membantu keluarga ini Pak.” Ujar Bu Eni kesal.   Pak Dadang hanya terdiam, sambil memegang kepalanya , Ia selalu bertanya kenapa dan kenapa, Penyesalan tergambar di raut wajah Pak Dadang.   “ Maafin Bapak ya Bu.” Ujar Pak Dadang.   “ Bapak tidak harus minta maaf ke Ibu, tapi minta maaf lah kepada Krisna.” Ujar Bu Eni.   “ Ia Bu, Bapak menyesal, tapi Bapak seperti itu dulu juga biar mendidik Krisna , tapi sebenarnya Bapak juga sayang kepada Krisna.” Ujar Pak Dadang.   Di sela perbincangan mereka, terdengar suara teriakan dari dalam kamar Ki Amin.   “ AMPUN.” Ujar Ki Amin berteriak dari dalam kamarnya.   Sontak terkejut mendengar teriakan Ki Amin ,mereka berdua langsung melihat Ki Amin, dan mendapati Ki Amin sudah berada di lantai.     “ Pak, sadar Pak.” Ujar Pak Dadang.   Ki Amin langsung di angkat dan di tidurkan kembali diranjang antik milik Ki Amin.   “ Dia Sudah di sini Dang.” Ujar Ki Amin.   “ Siapa yang di sini Pak, di sini tidak ada siapa – siapa? “ ujar Pak Dadang.   Ki Amin seperti orang yang sangat ketakutan, matanya tidak berkedip memandang ke setiap arah, keringatnya mengucur deras dan tubuhnya menggigil, padahal pada saat itu kondisi Ki Amin normal tidak ada tanda – tanda Ki Amin kedinginan.   Pak Dadang berusaha menenangkan Ki Amin, sambil mengusap air matanya, Pak Dadang tidak henti - hentinya mengelus kepala dan punggung Ki Amin yang sudah sangat kering.   “ cepat sembuh Pak,  jangan terus – terusan seperti ini, gak tega lihat nya.” Ujar Pak Dadang.   “ Dia ada di sini Dang, sedang melihat kita, jangan ada yang keluar sore atau malam hari yah.” Ujar Ki Amin dengan nafas terengah – engah.   “ Ia pak, Dadang ikuti kemauan Bapak.” Ujar Pak Dadang.   Ki Amin akhirnya bisa tertidur setelah di tenangkan oleh Pak Dadang, setiap kali Pak Dadang melihat Ki Amin seketika pula air matanya menetes.   Tapi ketika Pak Dadang melirik ke arah jendela, sekelebat bayangan hitam terlihat sedang mengintip mereka, antara percaya dan tidak percaya Pak Dadang lekas melihat ke arah jendela itu dan di sana memang tidak ada apa – apa.   “ Apa tadi, seperti ada yang mengintip.” Ujar Pak Dadang ke heranan.   Pak Dadang memberanikan diri mendekati jendela. “ Di sini gak mungkin ada yang ngintip, di belakang sini semua pohon – pohon singkong dan pisang punya Bapak.” Ujar Pak Dadang.   Lalu tercium sekelebat bau kentang bakar dan bau amis bercampur, tanpa Banyak bicara Pak Dadang langsung menutup jendela beserta tirainya.   Seakan tidak percaya, pengalaman itu memang pertama bagi Pak Dadang, sebab dulu Dia sangatlah acuh, dan tidak pernah memperhatikan sekitar , sehingga tidak peka terhadap lingkungan .   Berbanding terbalik dengan Krisna, yang sangat peka, sehingga gangguan – gangguan janggal yang menimpa dirinya selalu dapat Ia rasakan terlebih setelah benda pemberian dari Pak Sugeng Krisna musnahkan.   “ Baru kali ini Aku serasa di permainkan, Aku sebelumnya belum pernah mengalami hal seperti ini.” Ujar Pak Dadang dengan nafas terengah – engah.   Bu Eni yang sempat keluar kamar, mendengar suara gaduh di kamar Ki Amin lantas langsung kembali untuk mengecek apa yang terjadi di sana, sesampainya di sana pun yang terlihat hanya Pak Dadang dengan wajah pucat dan Ki Amin yang sedang tidur.   “ Ada apa pak?” Tanya Bu Eni.   “ Engga ada apa – apa Bu, Tadi hanya terkejut saja.” Ujar Pak Dadang.   “ Terkejut kenapa Pak, memangnya tadi ada apa, sampai terdengar suara jendela di banting?” Tanya Bu Eni keheranan.   “ Anu Bu,” Pak Dadang kebingungan untuk menjelaskan dengan wajah panik. “ Tadi ada yang ngintip dari balik jendela.” Ujar Pak Dadang panik.   “ Siapa pak?” Bu Eni mendekati jendela lalu membuka jendela. “ Tidak ada apa – apa Pak, Bapak ini kebanyakan minum kopi, jadi berhalusinasi.” Ujar Bu Eni sambil melihat keluar jendela.   “ Sumpah Bu, tadi ada yang liat.” Ujar Pak Dadang.   “ Sudah pak, biarkan Bapak ( Ki Amin ) tidur, sekarang Bapak (pak Dadang) mending ke air, mandi, biar gak mikir kemana saja.” Ujar Bu Eni.   Gangguan untuk Pak Dadang ternyata tidak sampai di situ saja, Pak Dadang yang saat itu sedang di kamar mandi pun tidak luput dari gangguan.   Kejadian janggal di rumah Pak Dadang memang terjadi pada saat Ki Amin bertindak aneh dan akhirnya terjatuh sakit, gangguan pun satu per satu di rasakan seluruh anggota keluarga Pak Dadang, tapi entah kenapa gangguan lebih sering terjadi pada Pak Dadang.   “ Bu jaga dulu Bapak (ki Amin), Bapak mandi dulu.” Ujar Pak Dadang.   “ Ia Pak.” Sahut Bu Eni dan langsung pergi ke kamar Ki Amin.   Pak Dadang Mandi seperti pada Umumnya, tapi tiba – tiba terdengar suara rautan kuku di atas genteng, dan suara benda jatuh pun terdengar, sontak saja Pak Dadang panik, benda – benda di dalam kamar mandi pun semua terjatuh dan pecah akibat kepanikan Pak Dadang, Pak Dadang keluar kamar mandi, tentu saja tanpa handuk atau sehelai kain pun, karena panik dan rasa takut yang sangat besar.   Bu Eni hanya bisa tertawa melihat kelakuan suaminya yang ternyata selama ini penakut, sifat keras dan egoisnya pun hilang, Pak Dadang pun mengakui jika dirinya memang penakut, tapi karena dulu di iming – imingi serta di hasut oleh Pak Sugeng , Rasa takutnya Pak Dadang di sembunyikan , demi wibawa di hadapan warga lain beserta keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN