Tiga Permintaan

1095 Kata
-Rendezvous- Disuatu ruangan diluasnya jajaran buku yang tersusun rapi, seorang tengah bersandar pada rak buku. Dirinya tengah asik tenggelam dalam bacaan seputar dunia psikologi, seakan tak mau ambil pusing pada suasana sore mendung di luar sana. Karena mendung hatinya jauh lebih mendung. Mulutnya perlahan terbuka membaca deretan kata yang tersusun rapi didalamnya. "Penelitian menemukan jika kamu memiliki sebuah tujuan dan memberitahukannya kepada orang lain maka itu akan mengurangi kemungkinan tujuan tersebut tercapai karena kamu telah kehilangan motivasi." -Psikologi Saat merapalkan kata-kata itu dalam hati; Alden tak menyangka isi buku yang dibacanya sangat begitu apik. Alden begitu menikmati setiap isi dari buku tersebut, itu terlihat dari tangannya yang kedapatan tak berhenti membalik satu halaman ke halaman lainnya secara berurut. Dan Alden tak ambil peduli pada langkah kaki berderap yang menuju kearahnya. Sebuah tangan tiba-tiba melilit lengan Alden dari belakang, napas si pelaku berhembus kasar. "Macet!" Sefrin berteriak di telinga Alden, membuat konsentrasi Alden pada isi buku buyar seketika. Ia menatap Sefrin tajam, lalu tak segan melepaskan lilitan tangan Sefrin dengan kasar. "Udah berasa jadi Princess aja lo?! Datang seenak hati." "Sori. Tadi ketiduran terus di jalan macet." Sefrin tersenyum saat Alden masih menatapnya tajam. Kenapa bisa semenyenangkan ini saat membuat orang lain kesal? Sensasinya begitu menyenangkan hingga Sefrin ingin mencobanya di lain waktu. "Terlanjur juga, sebaiknya lo cepetan kerjain semua tugas ini. Itu sebagai hukuman lo." Titah Alden kejam. "Gak mau." Sefrin memperotes lalu melanjutkan. "Jangan ngebos lo! Gue bukan anak buah lo. Lagian ngerjain tiga buku mana mungkin bisa gue kerjain sendiri." "Tiga?" Alden membeo dengan dahi mengernyit. Kenapa tugasnya sebanyak itu? Satu buku saja memerlukan waktu yang cukup lama. Sefrin tersenyum jahat, lalu duduk di salah-satu kursi. "Lo gak tau ya? Kasian banget sih." Lanjutnya mengejek. Tanpa memperdulikan Sefrin, Alden mulai berjalan dan milih buku yang terbilang mudah untuk tugasnya. Alden terlalu pokus sampai tak menyadari Sefrin yang memperhatikan segala gerak-geriknya. Alden hanya memakai kaos pendek hitam bergambar tengkorak juga celana panjang hitam sobek-sobek di bagian lututnya, penampilan biasa tapi di mata Sefrin entah mengapa Alden jadi terlihat sangat tampan. "Mysterious man." Bisik Sefrin pelan, ada sisi misterius dari diri Alden yang tidak dapat Sefrin gapai. Entah apa, ada sesuatu dalam diri Sefrin yang secara mendadak begitu penasaran pada Alden. Sefrin tiba-tiba menggelengkan kepalanya, kenapa jadi begini? "Kenapa geleng-geleng! gila ya?!" Alden mengagetkan Sefrin dan duduk dihadapannya dengan membawa tiga buku. "Gak papa." Elak Sefrin. "Aneh." Kata Alden lalu mengalihkan perhatiannya, dan Sefrin menulikan pendengarannya. Alden mencoba membaca tugas yang diperintahkan lalu ia menatap Sefrin yang tengah memainkan ponsel. "Lo ngerjain dua, gue satu. Anggap aja itu hukuman buat lo, karena ngebiarin gue nunggu lama disini." Sefrin seketika menegakkan kepalanya terkejut, lalu menyimpan ponsel dan mengelilingi meja demi duduk di samping Alden. "Alden." Panggilnya. Alden terkejut karena sikap Sefrin yang mendadak seperti itu. "Kayak setan aja lo." Katanya pelan hampir tidak terdengar, lalu Alden melirik Sefrin malas dan seolah tahu jalan pikiran Sefrin ia berkata. "Jangan aneh-aneh." Membuat Sefrin tersenyum lebar. "Lo aja yang ngerjain semuanya. Gue lagi gak bisa mikir, lagian males banget ngerjain tugas Bu Atni." Sefrin berkata tidak tahu malu. Karena kejadian tadi pagi atas pertengkarannya dengan Adara, secara tiba-tiba Sefrin menganggap Bu Atni sebagai musuhnya. Alden berdecih lalu menatap Sefrin geram. "Ogah." Tolaknya mentah-mentah. "Kerjain!" Sefrin tetap kekeh memaksa. "Gak." "Alden lo kan pinter, ayo sesama manusia kita saling membantu." "Gak." Melihat tidak ada kesempatan untuk memaksa Alden, Sefrin menarik buku yang tengah Alden kerjakan lalu menatapnya serius. Inilah sisi lain dari seorang Sefrin, tentang dirinya yang tidak bisa mengalah jika dirinya merasa benar. Bu Atni telah merendahkannya, padahal semua kata-katanya benar adanya. Bu Atni tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan antara dirinya dengan Adara. Tapi, mengapa Bu Atni malah membela Adara? Apakah sekarang uang jauh diatas segalanya? Sefrin sedang dilanda emosi, Sefrin tidak ingin mengalah, tapi juga tidak ingin mendapat predikat buruk jika tidak ikut mengerjakannya. Tak ada pilihan lain. "Permohonan terakhir untuk ini." Sekali lagi, Sefrin tidak sudi mengerjakannya. Alden memiringkan kepalanya, lalu menanyakan satu hal yang melenceng dari perbincangan yang membuat Sefrin terkejut. "Lo bipolar Sef?" Sefrin yang sedang berpikir, membelalak. Ia mengerjap beberapa saat sebelum berseru kesal. "Enggak." Sefrin menendang kaki Alden pelan. Memangnya dia sakit apa. Setahuya bipolar merupakan suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati yang dapat berubah secara drastis. Misal dari yang tadinya tertawa bahagia tiba-tiba menangis tersakiti. Sefrin tidak seperti itu, memangnya kapan dirinya seperti itu? "Tapi kok mood lo berubah-ubah cepet banget?" Alden bertanya heran. Sebelah tangannya memainkan ujung pensil di atas dahi, dan menatap Sefrin intens. "Serah gue lah. Lo juga kayak gitu." "Gue apa?" Tanya Alden heran. "Mood lo berubah-ubah saat sama temen-temen lo, lo orangnya asik banget dan suka bercanda." Sefrin menopang dagu menerawang, "Sedangkan sama gue, lo gak lebih dari monster mengerikan." Aku Sefrin jujur sekali, tentang sikap Alden selama ini kepadanya. Meskipun sebenarnya dirinya tidak jauh beda dari Alden. Mendapat pengakuan Sefrin tentang dirinya, Alden tak kuasa menahan senyum, Sefrin tidak tahu saja bahwa ia sulit mengendalikan emosinya saat bersama Sefrin. Sefrin menunjuk wajahnya. "Lo senyum Den." Katanya heboh, Sefrin tak menyangka Alden akan tersenyum karena biasanya Alden hanya akan memberikan tatapan tajam ataupun malas dengan kata-kata tak disaring andalannya. "Diem gak lo?!" Alden menangkap telunjuk Sefrin yang mengarah padanya. "Senyum aja gak usah malu. Pasti tambah ganteng." Ucap Sefrin tanpa sadar. Alden merasakan panas diwajahnya. "Ayo senyum lagi. Seharusnya lo banyakin senyum tau." Alden lalu menurunkan tangan Sefrin. Ia kesal, karena ia semakin menyukai kedekatan ini. Aroma cewek ini, juga kehangatan disenyuman cewek ini. Something is wrong, dan Alden benci itu. "Udah-udah kenapa jadi bahas gue coba." Protes Alden kesal. Sefrin termengu, apa yang barusan dia lakukan? Apakah dirinya baru saja bersikap hangat kepada Alden? Tiba-tiba Sefrin mengarahkan tangannya kepada lesung pipit milik Alden, saat menyentuhnya Sefrin menyeringai. "Lo punya lesung pipit. Dan itu bikin gue kesel, tau gak lo?!" Marah Sefrin mengejutkan, selebihnya Sefrin marah pada diri sendiri yang tiba bisa teguh pada pendirian. Dia benci Alden. Tolong tanamkan itu pada kepala milik Sefrin. Sefrin tidak boleh bersikap hangat pada orang semacam Alden, cowok itu selalu menghinanya. Dan Sefrin paling benci direndahkan. Sefrin melihat lurus mata Alden, mengesampingkan rasa kesalnya. "Lo kerjain dua buku bagian gue dan gue traktir lo selama satu bulan." Tawar Sefrin. Sejenak Alden diam lalu membalas menatap Sefrin. "Gak mau." "Itu tawaran yang sangat menguntungkan tau." Sefrin berkata syok. Traktiran satu bulan adalah sesuatu yang luar biasa bukan? Gila. Cowok itu gila. Alden tersenyum misterius. "Tiga permintaan, untuk tiga buku. Deal?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN