“Kenapa kau menerima identitas asliku?”
“Karena tidak ada yang berharga selain sebuah kebenaran—dan identitas aslimu merupakan kebenaran itu, Putri.”
“Viel.”
Indra pendengarnya mendesing. Suara pekak itu terus berulang mengitari benaknya, kian lama terasa dekat. Dicobanya membuka netra selebar mungkin, mengekspos kengerian dari binarnya. Bibir ranum Arcaviel meloloskan lenguh ketika mendapati sinar putih tumpah ruah dekat pintu. Ada penampakan seorang pemuda berdiri di ambang pintu, dengan atribut zirah membebat gagah tubuh tegapnya.
Refleksi sinar putih pada zirah membuat visualnya kesulitan menjamah citra tubuh si pemuda. Siapa? Arcaviel membatin, seketika kehilangan kemampuan untuk berbicara melalui bibirnya. Manik biru gadis itu mengitari seputar ruangan. Ini benar kamarnya di kastel, tidak ada perbedaan signifikan pada bagian tata letaknya. Tetapi, Arcaviel lagi-lagi menjatuhkan pandangan kepada si pemuda.
Putri Aeradale tidak mengenalnya, kendati demikian ia tidak asing. Namun, siapa?
Pria di pemakaman, hanya saja versi lebih muda? terkanya, terlintas begitu saja. Dan, oh! Potret itu ….
Manik birunya penuh waswas saat ia melempar sorot itu menuju si pemuda. Sedangkan pemuda itu, ia tidak acuh dan justru melangkah maju. Entah ia berpura-pura tidak sadar atau sudah terbiasa menerima sorot kewaspadaan itu. Tiap derapnya lambat laun mendekat, Arcaviel bisa merasakan debar jantungnya menguat dan sorotnya berubah ketakutan. Kenapa?
Ingin rasanya Arcaviel berteriak memanggil Reeval, tetapi ia betul-betul kehilangan tenaga untuk bertindak demikian.
“Viel.” Gurat datar lawan bicaranya terasa mengintimidasi, memanggil namanya untuk sekian kali. Reseptor tubuh Arcaviel mulai menciptakan tremor. Seperti tidak menyadari ketakutan Arcaviel, pemuda itu malah menanyakan hal yang tidak ia mengerti. “Kau sudah menelan pilnya?” Kini, jarak mereka hanya berkisar tiga jengkal. Garis rahangnya menegas ketika yang ditanya tidak merespons.
“Bicaralah,” titah pemuda itu, hampir tidak berhati sewaktu ia menahan dagu Arcaviel dan mendesak lawan bicaranya untuk menatap netra biru kehijauan miliknya.
Pil apa? Arcaviel kembali membatin bingung. Ketika ia pikir dirinya tidak akan bisa merespons, tahu-tahu saja bibir ranumnya sudah berkata dengan takut-takut, “S-Sudah, Kak.”
Jantung Putri Aeradale terasa berhenti. Itu bukan suaranya!
Suara itu terbilang sangat maskulin. Benak Arcaviel mulai kacau bukan main. Ia menoleh ke arah sudut cermin, sedikit menampakkan refleksinya, dan ia kembali membeliak. Jemari lentik Arcaviel terangkat untuk menyentuh surai cokelat pirangnya. Mengapa—tidak, lebih tepatnya, semenjak kapan ia memangkas surainya menjadi seperti seorang pemuda?
Apa yang tengah terjadi? Apakah ia sedang berada di tubuh lain?
“Pintar.” Suara pemuda di hadapannya, diiringi satu tepukan pada mercu kepalanya, spontan memecah lamunan Arcaviel dari keterkejutan. “Sekarang, kau akan latihan pedang.”
“Kak, aku tidak ingin bermain pedang ….” Suara maskulin itu sama sekali tidak cocok dengan paras memelas Arcaviel. Tanpa sadar, Putri Aeradale mengulurkan tangan dan memamerkan permukaan kulit mulusnya yang tersayat. “Luka kemarin belum menutup. Aku—”
“Jangan membantah.” Nada bicara si pemuda terdengar final. “Angkat kakimu sekarang. Dengarkan kakakmu, Viel.”
Arcaviel menggigit keras bibir bawahnya saat ‘kakak’nya itu berbalik memunggungi. Ia bisa mencecap aroma amis dari sana. Sebelum pemuda itu melihat kelakuannya, Arcaviel bergegas menyapu kasar noktah merah di bibir dengan lengan, lalu beringsut bangkit mengekor si pemuda. Benaknya semakin dibuat kalut. Isi pikiran dan raganya seakan-akan tidak menyatu.
Entah bagaimana, ia tidak memiliki kendali untuk melarikan diri. Dan pada akhirnya, Putri Aeradale tetap mengikuti pemuda asing yang ia sebut ‘kakak’ itu dengan sejuta tanda tanya. Begitu banyak ketidakpastian. Arcaviel berharap ini hanya mimpi belaka, tetapi mengapa terasa sangat nyata? Apakah ia sedang melihat kepingan masa lalunya?
Reeve, aku membutuhkanmu. Panas terasa menjalar naik ke manik birunya dan dalam waktu singkat, indra penglihatnya hampir mengabur. Kenapa pemuda itu berpura-pura menjadi kakakku? Dan … kenapa juga suaraku menjadi seperti ini?
“Yo, Viar!”
Arcaviel dibuat terkesiap dengan suara familier tersebut. Pierce? Putri Aeradale berjuang mencari kuasanya kembali atas tubuh itu, akan tetapi ia gagal. Raganya menolak datang menghampiri Pierce dan justru berlindung di balik tubuh pemuda yang Pierce sapa ‘Viar’ tersebut. Kepala Arcaviel sedikit melongok ke arah depan, tepat menuju Pierce yang sedang asyik melempar tangkap belatinya.
“Halo, Put—Pangeran.” Pierce tertawa kikuk pasca ekor netranya berserobok dengan manik tajam Viar. Ia lalu mengalihkan atensi menuju Arcaviel. “Pangeran, hari ini ingin berpedang denganku? Atau dengan kakak galakmu ini?”
Pangeran? Arcaviel tergugah untuk menjambak surai cokelat pirangnya sendiri. Sayangnya, raga yang tengah ia tempati hanya beringsut keluar dari balik punggung Viar tanpa melepaskan pegangan dari atribut latihan pemuda itu. Takut-takut, ia hendak menunjuk tubuh Viar dengan telunjuk mungilnya, mengindikasikan bila ia ingin berpedang dengan pemuda itu, tetapi—
“Atau kau ingin bersamaku, Pangeran?”
Suara ini … Reeve! Benar saja, batang hidung Reeval muncul dari balik pundak Pierce. Arcaviel ingin menuju ke sisi pria itu, tetapi Viar meremas tangannya penuh intimidasi. Jadi, Arcaviel hanya dapat memperhatikan Reeval dari kejauhan. Diamatinya perawakan tegap Reeval, beserta keringat yang membasuh raganya. Sinar mentari di barak cukup terik. Sekujur tubuh berkeringat Reeval hampir dibuat berkilau karenanya.
Putri Aeradale sempat-sempatnya pangling. Ia baru sadar, penampakan pria itu lebih muda beberapa tahun dari semestinya.
“Kalau Pangeran bisa mengalahkanku,” Reeval berniat meneruskan ketika netra mereka berserobok dari kejauhan, “aku akan memberikan kelinci—”
“Adikku vegetarian,” selat Viar, mengusung pergi tubuh Arcaviel menjauh dari kedua kesatrianya.
Arcaviel meluangkan waktu untuk mencuri pandang kepada Reeval—dan ditemukannya pria itu juga balas menatapnya dengan sorot tak terbaca.
*
“Kau tidak perlu takut untuk menjadi dirimu ketika bersamaku, Putri.”
Pasokan udara di sekitar ruangan menipis. Arcaviel spontan terjaga dengan netra jelalatan mengitari seputar ruang kamar. Jantungnya terasa memompa cepat. Ia memosisikan tubuhnya untuk segera duduk bersimpuh di atas dipan. Arcaviel menarik tangannya dari d**a dan deru napas memburunya terpaksa berhenti sejenak tatkala ia mendapati sulur-sulur keemasan di sana.
Bertepatan ia mengejap, sulur tersebut rupanya telah raib tanpa jejak. Arcaviel mendapat kembali napasnya dan tanpa berpikir panjang, bibir ranumnya meloloskan helaan berat. Putri Aeradale mulai menginspeksi ruang kamarnya sendiri dengan cermat, sekaligus mereka ulang mimpi tadi dalam benaknya. Kali ini, ia dapat mengingat segala detail pada tata letak kamarnya. Sama persis dan juga terawat.
Arcaviel juga mengingat bagaimana perawakan pria di pemakaman dalam versi lebih muda memasuki ruang kamarnya dengan air muka mengerikan. Visualnya terlempar menuju pintu, untungnya masih dalam keadaan menutup rapat. Menghela napas lega, Arcaviel terus mencatat baik-baik setiap potongan mimpi dalam benaknya. Itu seperti kepingan ingatannya, tetapi entah mengapa, rasanya ia ingin mengelak.
Katakanlah, ia dungu karena ia masih memercayai segenap ucapan Reeval tentang masa lalunya. Itu hanya mimpi, pikir Arcaviel, final. Akan tetapi, tak dapat ia mungkir, tebersit perasaan skeptis dalam hati kecil Putri Aeradale. Ia sudah berkali-kali menemui mimpi tidak kalah ganjil. Dalam setiap mimpi, ada sejumlah interaksi antara Arcaviel bersama Reeval yang sama sekali tidak lazim.
Dan apa sekarang? Alih-alih Reeval, ia justru memimpikan pria di pemakaman sebagai kakaknya. Bagaimana aku bisa melihat Reeve dengan cara yang sama? Arcaviel membatin frustrasi. Jika dipikir-pikir kembali, ia memang telah melihat Reeval secara berbeda, tidak seperti pertama kali mereka bersua. Dahulu, ia memandang pria itu sebagai sang kakak—seorang saudaranya, dan kini ia bahkan ragu untuk menyebutnya ‘kakak’.
Lama Arcaviel terdiam, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu melalui pelayan pribadinya, Sahara. Tidaklah mungkin bila Putri Aeradale langsung mengunjungi Raja Aeradale dan bertanya secara terang-terangan. Ia masih ingin hidup dan Arcaviel tidak ingin bertengkar untuk sekian kalinya dengan Reeval. Itu akan membuatnya lemah dan takut mengecewakan pria itu.
Entah sejak kapan, Arcaviel mulai menyelami perasaan ini—sebuah rasa takut teramat ganjil yang lebih dari sekadar seorang adik kepada kakaknya.
Tanpa berpikir panjang, Putri Aeradale lekas bertolak dari ruangan dengan benak bercampur aduk. Ia mulai mengatur napas selagi membelah lorong tingkat dua dan menuruni undakan di pertengahan lorong. Secara kebetulan, ia menemukan Kesatria Deulake yang sedang membersihkan busur dengan kain. Saking tidak sabarnya bertemu Sahara, Arcaviel mengabaikan sambutan formalitas dari kesatria itu.
“Kau tahu di mana Sahara?” tanya Arcaviel.
“Biasanya saat siang-siang begini, Sahara berkebun, Putri.”
Kebun? Ah, ia ingat. Itu tempat di mana Arcaviel bertemu dengan tiga bocah yang teramat ketakutan menatap Hugen dan dirinya. Ia baru tahu Sahara sering berkebun di sana untuk membantu pemasokan bagian dapur. Usai mengucapkan terima kasih kepada Marcus, ia bergegas menuju kebun yang letaknya bersampingan dengan peternakan.
Orang yang ingin ia temui akhirnya berhasil Arcaviel temukan ketika sang Putri sampai di sana. Dilihatnya Sahara sedang berniat membuka pintu pembatas dengan tangan penuh beri dari dalam, tetapi manik bulatnya telah lebih dulu menjumpai netra biru Arcaviel. Sahara lantas menunda kegiatannya itu dan membungkuk untuk menyapa nonanya.
“Putri, kenapa Anda berada di sini?” tanya Sahara, kembali menarik tuas pintu untuk dapat ia buka. “Putri sedang bosan?”
“Aku mencarimu,” jawab Arcaviel, menarik tipis sudut bibirnya di saat ia melihat Sahara menunjuk hidungnya sendiri. “Aku ingin bertanya beberapa hal denganmu, Sahara, tetapi tidak di kamarku. Aku butuh suasana baru.” Terlepas ia tidak ingin ada telinga lain mendengar, itu tidak sepenuhnya bohong. Arcaviel betul-betul ingin singgah sebentar di tempat selain ruang kamarnya.
“Kalau begitu, Putri, bagaimana bila kita masuk ke dalam sini?” saran Sahara, menunjuk area belakang kebun dengan semringah. “Ada rumah kaca di kebun kerajaan, Putri. Biasanya, kami sering duduk-duduk santai di sana saking nyamannya ketika diberi waktu rehat.”
Arcaviel mengejap. “Kami?”
“Pelayan Aeradale—tetapi jika Putri ingin duduk di tempat lain, tidak apa, kok!” Sahara mempunyai sekian belas ide tempat yang memungkinkan kedua orang itu berbincang-bincang. “Kita bisa berbicara di perpustakaan, peternakan, taman, dan lain-lain. Saya akan mengikuti Putri.”
Tawa halus lolos dari bibir ranum Arcaviel. Mengapa pelayan pribadinya satu itu sangat manis? Arcaviel merasa seperti tengah berbicara dengan anak kecil. “Rumah kaca kedengaran baik, Sahara. Tetapi, apakah di dalam sana ada para pelayan lain? Aku khawatir kedatanganku akan membuat istirahat mereka terusik.”
“Oh, tentu tidak, Putri! Kami mana mungkin terusik?” Sahara cengar-cengir. “Ayo, kita masuk ke dalam. Kebetulan hanya ada saya dan Paman Jacob di kebun sejak tadi.”
Arcaviel kemudian mengekor Sahara dengan mulut mengunyah buah beri hasil petikan sang pelayan sebelumnya. Indra pengecap Putri Aeradale bisa mencecap rasa manis dan sedikit asam di sana, tetapi betul-betul segar. Air mineral mungkin dapat bersanding dengan buah tersebut jika ia sedang haus. Meski Arcaviel sibuk mengunyah, netra biru gadis itu tidak henti-hentinya mengitari kebun.
Kebun ini dapat dibilang sangat luas dan kelewat subur. Setiap tanahnya pasti tertanam oleh beragam buah, dari ukuran kecil seperti tomat, sampai ukuran besar seperti semangka. Semua itu terpelihara dengan sangat baik oleh Paman Jacob, pria paruh baya bertopi koboi yang sempat ia lihat bersama ketiga bocah tempo lalu. Pria itu cukup mengejutkan.
Kata Sahara, selain mengurus kebun, beliau juga mengurus peternakan yang memang saling terhubung. Dan semua itu beliau lakukan seorang diri tanpa seorang pun anak buah. Hobinya membuat pria itu menikmati pekerjaannya sebagai sang pekebun dan peternak. Paman Jacob bahkan selalu menolak untuk tidur di dalam paviliun jika malam sudah tiba dan memutuskan tidur di rumah kaca.
Dedikasinya untuk mengelola tanah perkebunan dan hewan ternak memang setinggi itu. Padahal, Reeval telah berbaik hati menyediakan akomodasi untuknya bermalam. Dan berbicara tentang Raja Aeradale, Arcaviel kembali teringat dengan tujuannya datang mencari Sahara.
Jadi, di saat mereka sudah duduk berdua di dalam rumah kaca, Arcaviel langsung bertanya, “Sahara, apa kau tahu mengapa aku bisa pergi ke dunia fana? Insiden malam itu.”
“Tentu saja, Putri. Itu karena Anda diminta untuk pergi menyelamatkan diri oleh Yang Mulia.” Sahara mengejap pelan, ia berniat menanyakan alasan mengapa nonanya bertanya hal itu, namun gadis kucir dua itu masih ingat posisi. “Dan entah bagaimana caranya, Anda berhasil melewati portal—berakhir lupa.”
Itu benar. Reeval tidak berbohong. Jadi, Arcaviel meneruskan pertanyaan kedua. “Bagaimana dengan potret keluargaku? Apa kau pernah melihatnya?” tanya Putri Aeradale, kembali teringat dengan potret yang sempat ia temukan bersama seorang pria bersurai pirang. Potret itu terdiri atas dirinya, Mom, Dad, dan seorang pria lain—bukan Reeval, melainkan … pria di pemakaman.
“Ah, soal potret keluarga Anda, kami tidak dapat melihatnya lagi, Putri. Semenjak Orbit Desertir menyerbu kastel, seluruh potret keluarga Anda melebur.” Sahara mengetuk dagunya dengan telunjuk, lalu meneruskan, “Tetapi, bingkainya masih ada. Anda bisa coba tanyakan kepada Yang Mulia, mungkin kakak Anda menyimpan bingkai-bingkai itu di ruangan khusus.”
“Ruangan khusus?” Arcaviel mengerutkan kening.
“He-em. Semua hal vital tentang kerajaan dan keluarga Anda tersimpan di sana, Putri.”
“Apa kau tahu di mana letaknya?” tanya Arcaviel, hampir tidak sabaran.
“Yang saya tahu, ruangan itu hanya dapat dibuka oleh Yang Mulia saja, Putri.” Sahara menggeleng pelan, melempar sorot bersalah kepada sang Putri, “Untuk letak ruangannya, pelayan seperti kami tidak setinggi itu untuk tahu-menahu.”
Benak Arcaviel mulai risau. Semestinya, para pengurus kastel mengetahui hal kecil semacam ini. Bukankah mereka berhak untuk tahu? Jika mereka benar-benar tidak tahu karena Reeval menutup rapat hal tersebut dari mereka, apa ada alasan yang mendukung? Kendati semua potret telah melebur akibat mana-mana anggota Orbit Desertir, setidaknya bukan perkara besar untuknya mengekspos bingkai potret itu.
“Putri, maaf jika saya lancang. Akan tetapi, mengapa Putri bertanya tentang hal ini? Apakah Putri sedang meragukan Yang Mulia sebagai kakak Anda?”
Terkaan Sahara benar meski Arcaviel tidak akan jujur dengan mengiakan penuturannya. Ia tentu memercayai pelayan manisnya itu, tetapi untuk sekarang, akan lebih baik Putri Aeradale simpan opininya untuk diri Arcaviel sendiri. Jadi, Arcaviel lantas menggeleng dan memamerkan gurat penuh keyakinan. Jangan lupakan fakta bila Arcaviel mahir menyembunyikan air mukanya—jika lawan bicaranya bukan Reeval.
“Tentu tidak, Sahara. Aku hanya penasaran sejauh mana kalian tahu tentang masalah ini.” Tidak ingin Sahara berasumsi tidak-tidak, Arcaviel buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, “Oh ya, ketua Orbit Desertir itu, apa kau tahu namanya?”
Entahlah, pertanyaan satu itu terlintas begitu saja dalam benaknya. Arcaviel bisa jadi tidak akan peduli dengan respons dari Sahara setelah ini—akan tetapi, sebuah nama yang selanjutnya terucap dari bibir pelayan manisnya itu sukses membekukan tubuh Arcaviel tidak sampai sedetik. Jawaban itu terus mengiang-ngiang dalam benaknya tanpa henti.
Arcaviar … Viar … ‘Kak’ Viar ….
Satu kata. Mustahil.[]