Garis lengkung bibir pria bernetra hitam itu sedikit tertarik naik selagi ia membawa tungkainya menaiki undakan serambi kayu. Sekalipun tubuh mungil Arcaviel terbaring ala pengantin di antara sepasang lengan kukuhnya, Reeval tidak merasa kesulitan sama sekali. Langkah kakinya terlampau ringan seiring ia beringsut memasuki rumah kayu gadisnya. Usai menutup pintu di belakang dengan satu kaki, pria itu tetap mengusung Arcaviel hingga menidurkannya penuh hati-hati di atas dipan. Memastikan Putri Aeradale benar-benar terbaring sempurna di sana, pria itu segera menopang tubuhnya sendiri dengan kedua tangan bertumpu pada permukaan dipan. Cukup lama ia memusatkan atensi kepada paras elok Arcaviel, meluangkan waktu semata-mata mengagumi setiap inci dari gadis bersurai cokelat pirang itu. Tidak la

