Sore itu, tampak Pritha sudah sampai di rumah ibunda sang majikan atau yang saat ini sudah menjadi suaminya. Prita tampak membantu memberi makan sang ibu dengan sabar.
"Nak, karena kamu sudah sah menikah, kamu harus ikhlas menjalani rumah tangga ini." Nasehat sang ibu mertua atau majikannya dulu membuat Pritha mengangguk paham.
"Baik, Bu. Insya Allah Pritha bisa amanah selama dua tahun ini..." jawabnya dengan senyum tulus mengembang di wajahnya.
"Tidak, Nak. Kalau Allah berkehendak, rencana manusia hanya akan tinggal rencana. Mungkin kamu di minta dua tahun, tapi kalau Allah berkehendak maka dua tahun bisa menjadi selamanya, maka berdoa dan memohon pada Allah. Dia sang pemilik hidup." Tegas sang ibu membuat Pritha menganguk paham.
"Pritha usahakan, Bu. Bismillah..." jawabnya dan sang ibunda tersenyum mengangguk.
"Jangan panggil ibu, panggil mama..." jawabnya lagi.
"Hah? T-tapi.."
"Kamu sudah sah menjadi menantu saya, terserah mau berapa lama, dan niatnya apa, yang jelas, selama kamu menjadi menantu saya, panggil saya mama. Begitupun Ryuga. Jangan panggil bapak seperti tadi mama dengar. Panggil mas sebagai tanda penghormatan kamu ke suami..."
"T-tapi..."
"Sudah. Dengar apa yang mama katakan, Nak..."
"Apa boleh begitu, Bu?" Dan seketika Pritha menutup bibirnya. "Ehh, Mah..."
"Tentu saja boleh, dia suami mu bukan bapak-bapak pinggir jalan. Dia itu sudah ijab qabul jadi sudah selayaknya tidak ada lagi istilah canggung di antara kalian..." ucap sang ibunda dengan suara lembut
"Pritha hanya takut bapak gak nyaman dengan situasi seperti ini, Bu..ehh...Ma..."
"Hmm...jangan panggil bapak. Coba biasakan panggil mas, akan berbeda nanti bawaannya, percayalah sama mama..." jawab sang ibu dengan sabar.
"Ayoo coba, jangan bengong aja..." ulang sang ibu.
"Eh...mas Ryu..."
"Nahh, gitu kan enak di denger, ya kali panggil suami bapak. Lucu tau..." celoteh sang ibu lagi.
Pritha tersenyum manis malu-malu kucing sambil mengangguk perlahan.
Waktu terus berlalu, sampai akhkirnya malam pun tiba. Pritha masih ragu untuk masuk ke dalam kamar Ryuga meski pria itu tidak berada di sana. Karena sejak dirinya datang tadi, Ryuga langsung menghilang entah kemana.
Pritha duduk di tepi ranjang setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian tidur. Tak lupa dia juga menyiapkan pakaian tidur sang suami. Waktu terus berlalu dan Ryuga akhirnya pulang ke rumah, dia pulang dalam keadaan mabuk.
"Ganti pakaian dulu, Pak sebelum tidur, pakaian dari luar kan kotor..." ucap Pritha dengan suara lembut sambil menyodorkan pakaian yang tadi sudah dia siapkan.
"Jangan sok menggurui! Lagian siapa yang ngizinin kamu masuk ke kamar saya?!" Suara itu terdengar ketus dan menyakikan, tapi sekali lagi Pritha berusaha untuk tetap tenang dan sabar.
"Saya memang tidak minta izin dulu, cuma mama minta saya tidur di kamar ini..." jawab Pritha dan seketika Ryuga menoleh.
"Apa?! Kamu sudah pandai menjual nama mama untuk kepentingan kamu?" Ryuga terlihat mendekat dan mencengkeram pundak Pritha. Tapi Pritha hanya bisa menelan ludah tanpa melawan. Seketika dia teringat akan nasehat sang ibu mertua, bahwa memanggil sang suami harus mas, karena selain berbeda usia juga akan membuat suasana berbeda.
"Bukan begitu, Mas. Kebetulan tadi mama bahas masalah tidur. Dan mama nyaranin aku tidur di kamar ini."
"Jangan jual ibuku untuk urusan kamu dan saya, paham?!" Sorot matanya memerah dia lalu mengibaskan tangannya.
"Ya mau gimana lagi, saya juga serba bingung. Udah, sekarang ganti dulu deh pakaian. Air udah saya siapin tadi..." ucap Pritha lagi tak ingin ribut dengan pria yang baru menikahinya.
"Jangan ikut campur urusan saya!" Hardiknya lalu dia pergi ke dalam kamar mandi meraih pakaian yang di siapkan dengan kasar. Meski sedikit kesal bercampur sedih, Pritha akhirnya bisa tersenyum melihat aksi sang majikan atau pria yang baru nenikahinya.
***
Dan tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, pernikahan mereka sudah berjalan dua minggu pernikahan, mereka masih belum terlihat akur atau menunjukkan ketertarikan masing-masing.
Yang berbeda adalah, Pritha sudah memiliki jadwal terbang sang suami. Sehingga setiap kali sang suami kembali dia akan menunggu dan menyiapkan makan untuk sang suami.
Seperti malam ini, Pritha menunggu Ryuga sampai tertidur di sofa. Hingga membuat Ryuga yang tadinya ingin langsung ke kamar melihat sang istri tertidur di sofa membuatnya menautkan dahi lalu bertanya kepada asiaten rumah tangga yang kebetulan lewat.
Mbok, kenapa istri saya tidur di sofa?" Tanya Ryuga Yang memilih menggunakan kalimat istri saya untuk melindungi harga diri wanita yang dia bawa ke rumah ini.
"Katanya mau nunggu tuan balik..." jawab simbok dengan nada polos.
"Nunggu saya pulang?" Ulangnya dengan dahi bertaut. "Emang tau kapan saya pulang?"
"Loh, Nyonya kan sudah memiliki jadwal terbang rutin, Tuan. Jadi, tahu jadwal kapan tuan akan pulang..."
"Darimana?"
"Dari nyonya besar, Tuan..."
"Ohh..." Ryuga menganggukkan kepalanya. "Oke, Mbok, makasih ya?" Ucapnya dengan suara lembut.
"Oh, ya, makan malam tuan juga sudah di siapin di meja, masih anget karena baru sepuluh menit lalu di masak, mungkin kecapean makanya nyonya ketiduran..." ucap polos sang asisten rumah tangga.
"Kecapean ngapain?" Ulang Ryuga bingung, karena toh yang merawat ibunya sudah dia pilihkan seorang perawat profesional dari rumah sakit.
"Kan, bantuan Nyonya besar bergerak lagi. Dan Alhamdulillahnya dua hari ini nyonya besar sudah menunjukkan kemajuan banget. Nyonya Pritha sabar banget orangnya..." imbuh simbok yang sudah sejak Ryuga kecil bersamanya.
"Oke, Mbok, makasih, ya?" Balasnya sopan.
"Okee simbok mau balik ke kamar, tadi cuma cek pintu sudah pada di tutup belum, soalnya sekarang musim demam berdarah..."
Ryuga hanya mengangguk perlahan, dan menghela nafas menatap ke arah sang istri yang tertidur pulas dengan wajah polos. Untuk beberapa detik dia memperhatikan wajah itu, sampai akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dia datang bukan dengan hati yang tulus, tapi karena uang. Sama seperti wanita-wanita luaran pada umumnya..." bisik Ryuga dalam hati. Lalu dia memilih melangkah masuk ke dalam terlebih setelah simbok masuk ke dalam kamarnya.
Ryuga melihat menu di atas meja, aroma yang tercium menggelitik perutnya yang tadi memang belum sempat makan malam karena dia akan mengerjakan project yang flash disk lupa dia bawa. Jadi, kepulangannya yang lumayan tepat waktu ini sebenarnya untuk mengejar flash disk nya.
Ryuga duduk dan menikmati menu makan malamnya sendiri lalu kembali ke kamar dan seketika matanya melihat tumpukan pakaian ganti yang sudah di siapkan istri siri nya, hal-hal yang bahkan dulu tidak pernah dia dapatkan dari Carissa.
Setelah membersihkan badan dia melangkah ke ranjang dan merebahkan badannya. Tapi, dia tidak tega melihat Pritha masih di luar, di tambah dia takut menjadi bahan gosip dan di anggap sebagai suami tidak punya tanggung jawab. "Ngerepotin banget sih tanah liat bernyawa satu itu..." gerutunya sambil berjalan keluar kamar dan akhirnya dia membangunkan Pritha dengan ujung ponsel nya, seolah najis jika bersentuhan kulit mereka.
"Heh! Bangun kamu. Ngapain tidur sini, caper banget! Biar orang-orang pada ngomong gitu kalau saya ini jahat?" Geramnya dengan suara yang di tahan, karena giginya rapat.
"Ehm! Udah pulang, Mas?" Sapanya dengan mata sayu dan tangan sambil mengucek mata.
"Ya kamu lihat udah pulang atau belum? Kenapa masih nanya segala, jelas-jelas udah ada di hadapan. Basi banget!" Gerutu kapten Ryu sambil berjalan masuk ke kamar dan di ikuti Pritha dari belakang dengan bibir komat-kamit sambil menatap punggung sang suami dan berjalan mengikuti dari belakang.