"Apa!? Bekerja di Bali?" seru Mama tidak percaya dengan pendengarannya. Bagaimana tidak terkejut. Baru saja semalam ia tiba di rumah ini dengan rasa lelah dan paginya dikejutkan dengan kata-kata yang keluar dari bibir putrinya. "Iya. Tidak lama kok. Hanya setahun," jawab Rose ringan. "Satu tahun?" Bibir mama terbuka lebar untuk beberapa detik. "Kamu rela membiarkan Mama-mu ini hidup sendiri?" Rose mendesah. Ditatapnya Mama dengan tenaga yang telah ia kumpulkan sejak tadi lalu tersenyum. Meski begitu hatinya terus menerus mengucapkan kata maaf beribu kali dengan harapan Mama dapat mendengar teriakan hatinya. Tapi sayangnya sampai hati Rose terasa sesak bagaikan dihimpit oleh dua dinding batu yang besar, Mama tak dapat mendengar permintaan maafnya. "Rose janji akan sering-sering mengh

