Setelah ditangani di IGD, Kusnul akhirnya dipindah ke ruangan intensif. Wanita itu kadang sadar, kadang tidak. Kondisinya masih naik-turun. Di ruang intensif itu, suara detak mesin monitor masih berdenting pelan, menandai setiap denyut jantung Kusnul yang rapuh. Malam itu sepi, hanya ada cahaya lampu menyala terang di kamar rumah sakit, menerangi sosok Ivone yang duduk di kursi besi, kepala bersandar pada sisi ranjang ibunya. Mata Ivone bengkak, lelah, tetapi ia enggan memejam. Ivone sama sekali tidak beranjak dari sang ibu selain salat. Pakaiannya juga masih menguar sisa kelelahan setelah bekerja. Jari-jari Kusnul bergerak pelan, seolah hendak meraih sesuatu. Ivone tersentak, langsung menggenggam tangan ibunya erat. “Ibu,” bisiknya dengan suara serak. Kelopak mata Kusnul terbuka pe

