Wajah Sam penuh keringat. Ia terus meracau dengan bahasa yang tidak Ivone pahami. Mungkin bahasa Turki. Ivone juga serba bingung harus berbuat apa. Membangunkan, membiarkan, atau justru meninggalkan? “Anne, baba ....” Sam kembali meracau. “Siapa yang dia panggil?” gumam Ivone. “Aneh.” Wanita itu menatap pintu. Sekarang adalah kesempatannya pergi. Sebab yang dilakukan mereka berdua di kamar ini sangat salah. Namun, suara dan rintihan Sam membuatnya tidak tega. Sam tidur dengan tidak nyenyak. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan, ke kiri. Apalagi keringat membasahi seluruh keningnya padahal kamar dalam kondisi AC menyala. Ivone memberanikan diri menyentuh, hendak membangunkan. Namun, tangannya justru dicekal. Sangat erat. “Jangan pergi. Jangan pergi ....” Ivone tersentuh. Atau mung

