Sindiran Riyadi membuat Merari semakin bersemangat. Sejak hari itu, dia tidak pernah keluar dari ruangan lagi.
Jika lapar, dia akan makan mi instan dan biskuit. Jika mengantuk, dia tidur sebentar. Setelah beberapa hari, penampilannya sangat berantakan dan matanya sudah seperti mata panda.
Pagi ini, begitu memasuki ruangan, Neni dia langsung menghampirinya dan berkata, "Merari, apa yang baru saja dilakukan Pak Riyadi?"
Merari mengangkat kepalanya kebingungan, "Pebisnis? Dia tidak ke sini."
“Tadi saat aku masuk, aku jelas-jelas melihatnya keluar dari sini.” Neni menunjuk ke arah pintu.
Saat ini, Merari tiba-tiba mengerti, Riyadi pasti datang untuk menertawakannya. Riyadi pasti berpikir dia tidak akan bisa menyelesaikan anggaran ini sebelum hari Senin.
Br*ngsek. Merari menyingsingkan lengan bajunya, kali ini dia harus membuat Riyadi mengubah penilaian itu.
“Aku tahu, Pebisnis itu datang menemuimu secara diam-diam, apakah dia tertarik padamu?” Neni mulai menggoda.
Sekarang Pebisnis menjadi julukan Riyadi.
Merari melirik Neni sekilas, "Dia datang untuk menertawakanku."
Melihat lingkaran hitam di sekitar mata Merari, Neni berkata dengan perasaan bersalah, "Merari, maaf. Aku yang membuatmu seperti ini. Beberapa hari ini kamu begitu kelelahan, dan aku juga sama sekali tidak bisa membantumu."
Merari menatap Neni yang merasa bersalah, lalu berkata dengan santai, "Kamu sendiri juga sama. Kakakmu juga tidak bisa diandalkan. Sekarang Bibi hanya bisa bergantung padamu. Sudahlah, cepat bekerja. Setelah pulang kerja, kamu harus pergi ke rumah sakit!"
“Terima kasih.” Ujar Neni penuh terima kasih, dia lalu dengan enggan kembali ke tempat duduknya.
Merari menundukkan kepala dan lanjut bekerja. Baginya, sekarang setiap menit dan setiap detik sangat berharga.
Pada hari Minggu malam, semua rekan kerja sudah pulang, sedangkan Merari masih berkutat di depan komputernya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ruangan yang kosong, bulu kuduk Merari berdiri, dia langsung mengangkat kepalanya secara spontan.
Riyadi yang selalu memakai setelan formal hitam muncul di hadapan Merari. Dia begitu kaya, Merari sering bertanya apakah dia hanya memiliki setelan ini?
Riyadi memerhatikan wajah kuyu Merari, kemudian bertanya dengan ekspresi serius, "Hanya tersisa belasan jam sebelum rapat penawaran pukul sembilan besok pagi. Apakah kamu yakin bisa menyelesaikannya?"
Meskipun ekspresi Riyadi kali ini tampak serius, tapi tidak ada penghinaan dan rasa jijik di wajahnya.
Mendengar perkataannya, Merari menjawab dengan yakin, "Saya pasti akan menyelesaikannya pada pukul lima atau enam besok pagi."
Riyadi mengangguk, "Jika begitu, malam ini aku akan beristirahat di ruangan. Jika sudah selesai, langsung berikan padaku!"
Sebelum Merari sempat menjawab, pria itu berbalik dan pergi.
Merari tidak tidur sama sekali semalaman, akhirnya dia berhasil menyelesaikan anggaran pada pukul 06:30 pagi.
Dengan membawa anggaran setebal dua inci di pelukannya, lalu berjalan cepat ke ruangan Riyadi.
Pintu ruangan Riyadi tidak tertutup rapat. Merari melirik ke dalam dan melihat Riyadi sudah bekerja dan duduk di mejanya. Dia pikir, pria itu masih tidur pada saat ini.
Tok tok...
Setelah mengetuk pintu, suara rendah Riyadi segera terdengar dari dalam. "Masuk."
Merari melangkah maju dan meletakkan anggaran yang tebal itu di depan Riyadi, "Pak Riyadi, anggaran ini sudah selesai."
Riyadi mengulurkan tangan dan membolak-balik anggaran itu, kemudian bertanya dengan keraguan di matanya, "Sekarang aku tidak punya waktu untuk memeriksa ulang anggaran ini. Jika ada kesalahan dalam anggaran yang kita serahkan kali ini, maka reputasi PT Makmur yang terkenal teliti akan hancur, kamu mengerti?"
Merari langsung menjadi gugup, tetapi dia sudah sampai sampai pada titik ini, dia sudah tidak punya alasan untuk mundur. Hari ini sepertinya jika gagal, dia akan kehilangan pekerjaannya.
“PT Makmur adalah perusahaan tempat saya menggantungkan hidup, saya tidak akan mempermainkan reputasi PT Makmur.” Merari menegakkan punggungnya.
Sejak lulus, dia masuk PT Makmur. Sudah tiga tahun dan dia selalu bekerja dengan bertanggung jawab, karena PT Makmur membantunya menghidupi ibu dan adiknya, dan perasaannya terhadap PT Makmur tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.