“Kata Dokter, adik kamu udah boleh dibawa pulang. Kondisinya udah membaik tapi jangan diajak hujan-hujanan lagi.” Ansell yang mendengar perkataan Anwa mengangguk, remaja pria yang sejak tadi menunggu di luar tirai, berjalan pelan ke arah brangkar adiknya. Anak laki-laki itu tertidur dengan nyenyak, wajahnya tak lagi terlihat pucat membuat Ansell bisa bernafas lega. “Hari udah malam, bagaimana kalo kami telepon orang tua kamu untuk menjemput kalian disini,” tutur Anwa sambil mengelus tangan mungil Ray. Ia sebenarnya ingin sekali mengantar namun sayangnya ia tak memiliki kendaraan. “Mau pinjam ponsel saya?” tanya Anwa ketika melihat Ansell hanya diam memandangi adiknyaz “Mama sama Papa udah enggak ada,” lirih Ansell pelan, remaja lelaki itu sengaja tak mau menatap ke arah Anwa yang saat

