BAB 2 ROKOK

1656 Kata
*** BERBAGAI kasat mata memandangi Ketua OSIS. Kali ini telah berkumpul Ketua OSIS, Wakil Ketua, Sekertaris, dan Bendahara. Yaitu anggota inti OSIS. Anggota inti OSIS memiliki segudang pertanyaan kepada Ketua OSIS yaitu Selena. Mengenai anak baru yang desas-desus nya mulai tersebar ke antero sekolah. Sambil menuangkan teh hangatnya dari teko ke gelas sekertaris, Rina, yang rajin ini menyuguhkan teh dan beberapa kue untuk para anggota inti. Hanya sekretaris saja disini yang rajin dalam hal asupan. Dengan senyuman nya ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan. "Ketua, kau terlihat lebih stress dibanding biasanya. Apakah ada tugas yang menyulitkan? Kau bisa cerita kapan saja kepada kita. Ingat kita sudah berjanji untuk tidak menutupi masalah sekolah satu sama lain." Selena masih tidak bergeming sama sekali. Ia masih sibuk dengan pikiran nya yang kacau akan kehadiran Alfi sang anak baru itu. Kejadian sebelumnya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak bisa melupakan perkataan yang terus menghantui dan ciuman di pipi yang seakan masih menempel. "Ketua, sepertinya kau memang harus beristirahat, mungkin tugas proposal kemarin membuatmu sakit kepala," ucap bendahara sambil menikmati teh dan kue. Bendahara ini bernama Chris. Dia sangat suka makan. Tapi dia sangat ahli dalam keuangan, karena tentu saja dia jurusan IPS. "Ada yang ingin aku ceritakan kepada kalian." tiba-tiba ucapan dari Selena sang Ketua OSIS "Apa itu Ketua? Aku sangat ingin tahu. Berharap cerita tentang kisah cinta atau selain sekolah," kata Zidan sang Wakil OSIS yang humoris dan selalu menjadi hiburan di OSIS. "Heh, tidak boleh gitu. Dasar kepo, itu urusan pribadi ketua," balas Chris kepada Zidan. Chris ini memiliki sifat yang sedikit tegas. Tahu sendiri karena dia Bendahara. Tetapi dia baik dan rajin. "Tahu dari mana kamu kata 'kepo' bahkan itu tidak ada PUEBI" kata Zidan. "Tidak penting itu tahu dari mana. Pokoknya kamu kepo," balas Chris lagi menggoda Zidan. Chris sangat suka menggoda Zidan. Karena Zidan sangat labil dalam emosi. "Cukup semua. Kapan aku diberikan kesempatan untuk bercerita. Atau tidak jadi saja," ucap Selena sambil manyum. Sebenarnya ia tidak begitu serius. "Kau sangat imut ketua ketika ngambek. Mohon maaf ketua. Silahkan cerita," kata Zidan menghibur Rehan. Selena menarik napas panjang lalu menjelaskan. "Mungkin kalian sudah mendengar kabar mengenai anak baru. Kabar itu benar adanya. Kepala Sekolah dan Bu Mina sudah mengadakan pertemuan denganku. Anak baru itu anak Kepala sekolah." Selena menjelaskan panjang lebar mengenai betapa nakalnya Alfi. Bahkan pertemuan yang tidak mengenakan. Tetapi tentu saja Selena tidak akan pernah menjelaskan tentang ciuman pipi itu. Itu akan menjadi rahasia. "Apa sebabnya Pak Kepala Sekolah menaruh anak nakal itu disini? Apakah beliau tidak mempertimbangkan nasib sekolah? Apa kata orang tua murid jika mengetahui ada anak nakal di sekolah ini," ucap Chris dengan ketegasannya. "Benar juga sih. Reputasi sekolah bisa buruk. Apakah anak itu dipindahkan karena dia bandel di sekolah sebelumnya?" Zidan ikut nimbrung. "Aku rasa seperti itu nyatanya. Aku rasa Kepala Sekolah tidak punya pilihan lain. Mungkin anak itu sudah tidak bisa diterima sekolah manapun. Maka ia harus sekolah disini." Selena menjelaskan sebagaimana mungkin. "Kau tahu Ketua. Itu perkataan yang sedikit negatif dari Ketua. Aku baru pertama kali mendengarnya. Tapi aku setuju dengan pendapat ketua," kata Zidan. "Ketua apakah dia tampan?" tanya Rina tiba-tiba. Rina sepertinya tidak memikirkan titik masalahnya. Penampilan selalu jadi yang pertama baginya. Selena tiba-tiba grogi dengan pertanyaan itu. Dia membayangkan wajah Alfi yang satu senti dengannya. Dan masih teringat dengan ciuman pipi yang tidak diketahui sebabnya itu. "Jujur menurut ku lumayan. Tapi itu tidak penting. Perilaku harus selalu jadi yang utama." "Aku sangat tidak menyukai anak itu. Dia sangat kasar dalam ucapannya. Bagaimana caranya aku mengubah nya menjadi baik?" ucap Selena penuh dengan derita. "Sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita di balik pintu itu. Zidan buka pintunya." Chris memliki kepekaan tertentu terhadap sesuatu. Ketika Zidan membuka pintu. Semua terkejut. Anak baru itu berdiri dengan santai. Bahkan dengan penampilan seperti pertama kali bertemu dengan Selena. Apa yang ia lakukan di balik pintu. "Apakah kau menguping anak bandel?" Chris dengan sifat tegasnya. "Siapa yang lu bilang anak bandel?" Mata tajam itu seakan menohok Chris. "Apakah kamu anak baru? Silahkan duduk di sofa. Siapa tau ada yang bisa kita bantu." Zidan selalu membuat suasana cair. Dia memiliki sifat yang positif. Alfi duduk di bangku sambil melipat tangannya. Satu kakinya naik ke atas meja. Semua yang ada di ruangan hanya bisa menatap aneh. Karena ini pertama kalinya bagi siswa SMA Haru Biru melihat siswa semacam ini. Selena menghampiri Alfi dengan lembut ia menaruh kaki Alfi ke bawah. Lalu ia berusaha menaruh perhatian ke Alfi. Bagaimanapun sudah menjadi tanggung jawab Selena untuk mengatasi masalah pada diri Alfi. "Begitulah cara duduk. Kau hanya akan membuat kakimu pegal dengan menaikkan di atas meja. Aku yakin kamu pasti tahu itu. Dan satu lagi rapihkan seragam kamu. Tidak ada salahnya rapih. Bukan masalah dari aturan sekolah. Tapi kerapihan adalah sesuatu yang enak untuk dipandang." Selena sangat sabar mengajarkan pelajaran dasar kepada Alfi. "Alfi, menjadi murid baik itu bukan sesuatu yang dipelajari. Tapi menjadi baik adalah kewajiban bagi kita." Lanjut Selena. "Oke, tapi itu cuma buat penampilan kutu buku. Gua bukan kutu buku kaya lu," kata Alfi menyepelekan ucapan Selena. "Jaga ucapan kamu anak baru. Dia ketua disini. Hargai lah dia. Tidak ada yang berani mengucapkan hal buruk kepada Ketua," kata Chris. Rina hanya bisa pasrah dan kaku. Keadaan seakan menjadi tegang. Perdebatan ini tidak pernah terjadi di ruang OSIS. "Kalian semua yang jaga ucapan. Kalian berbicara hal buruk tentang gua tadi. Dasar manusia laknat. Sok sempurna," kata Alfi. "Baiklah Alfi kita mohon maaf jika membuatmu tersinggung. Mulai besok kau akan aku bimbing Alfi. Sekarang kau boleh balik ke kelas. Jangan buat keributan oke." Selena selalu membuat suasana menjadi lebih baik. Tetapi ketika Selsna mendekati diri ke Alfi. Selena mencium aroma yang sepertinya ia kenal dari seragam Alfi. "Alfi kamu merokok di sekolah?" Selena mencium bau rokok. "Emang gak boleh ya," tanya Alfi sok polos. "Ketua, sita rokoknya. Kita tidak bisa membiarkan dia merokok disini. Gimana kalo murid lain lihat," ujar Chris. "Silahkan," Alfi merentangkan tangannya agar Selena memeriksa. Selena berdekatan dengan Alfi. Ia meraba dikantong Alfi. Tidak ditemukan apapun. Alfi pun berbisik lagi. "Kau ingin kucium lagi?" Selena tiba-tiba mendorong Alfi. Tetapi ia berusaha profesional. "Maaf mendorong kamu. Tidak ada rokok di dirinya." "Lihat, gak ada kan. Kalian cuma bisanya menyalahkan." Kata Alfi. "Mungkin rokoknya ada di dalam tasnya. Ia sudah melanggar peraturan," Chris masih belum bisa mengalah. "Hmm.., sebenarnya. Gua punya lebih dari 60 bungkus. Dan tentu saja. Sudah GUA BAGIKAN KE SELURUH SISWA DI SEKOLAH INI!" Selena langsung terkejut dan melotot. "Alfi... kali ini kau keterlaluan. Semuanya, panggil seluruh anggota OSIS dan Ketua Kelas untuk menyita." Selena langsung berlari. Alfi tertawa sangat kencang. Ketika semua anggota OSIS berlarian panik. "Sungguh menyenangkan sekolah disini! HAHA!" Semua anggota OSIS langsung mengerahkan segala cara agar murid tidak melanggar aturan dengan adanya rokok itu. Anggota OSIS beserta guru ke setiap kelas mensita rokok dari Alfi. Semua sudah disita. Dan jelas saja sosialisasi tentang bahaya merokok, serta aturan merokok di sekolah langsung disampaikan ke setiap kelas. Yang jelas murid dilarang merokok di sekolah beserta para guru atau staff sekolah. Karena merokok memiliki dampak yang berbahaya pada kesehatan. Guru pun juga dilarang merokok di sekolah, sebab guru menjadi cerminan perilaku bagi para muridnya. Pak Kepala Sekolah menerapkan denda 50 juta bagi yang merokok di sekolah. Dan saat itu juga pasti tidak akan ada yang berani untuk melakukannya. Ketika tugas OSIS yang melelahkan. Akhirnya waktunya OSIS menyerbu Alfi. Dia harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Padahal ini adalah hari pertama sekolah di SMA Haru Biru. Alfi langsung diseret dan tangannya diikat. Dia duduk di bangku untuk diinterogasi oleh anggota inti OSIS. Alfi yang memberontak sekarang tidak bisa bergerak sama sekali. "Dengar ini Alfi. Meskipun kamu anak Kepala Sekolah. Bukan berarti kamu bisa seenaknya. Tidak akan ada lagi kejadian seperti tadi," kata Selena sambil mendekati wajah Alfi. "Masih ada banyak hal yang perlu gua tunjukan untuk sekolah ini!" Ujar Alfi. "Berhenti berbuat kegilaan ini oke. Apa susahnya sih jadi murid biasa." balas Selena. "Oke. Tapi lepasin dulu ikatan ini. Gua gak akan mau dengerin sebelum lu lepasin ini." Kata Alfi. Ikatan Alfi dilepaskan oleh Bendahara secara kasar. Tapi dia masih tetap di pegang oleh Chris. Karena takut Alfi akan kabur dan tidak mau mendengarkan Ketua OSIS. "Gua mau dengerin asal kita bicara secara empat mata. Dengan lu ketua!" ucap Alfi menantang Selena. "Oke. Kita bicara dimana?" "Di atap sekolah" Alfi menarik lengan Selena dan membawanya ke atap sekolah. Entah apa yang dipikirkan Alfi untuk mengajak Selena ke atap. Selena hanya bisa mengikuti nya. Mungkin ini akan membantu masalah pada Alfi. Mungkin juga Alfi ingin bicara secara langsung mengenai masalahnya. Alfi mendekati Selena sehingga Selena terpojok di tembok. "Kamu mau apa? Aku udah nurutin kamu untuk ke atap. Sekarang ngapain kamu mojokin saya." Dengan mata tajamnya. Wajah tampan dan tegas dari Alfi mendekati wajah Selena. Selena makin gemetaran. Takut Alfi ini psikopat yang ingin membunuhnya. Tapi jantung Selena berdegup kencang dan tidak bisa menahan nafas ketika berdekatan dengan Alfi ini. Wajahnya berdekatan hanya beberapa milimeter. Hidungnya sudah berpapasan. Nafas Alfi bisa didengar dari telinga Selena. "Gua gak akan pernah bisa jadi anak baik. Jangan halangi gua," bisik Alfi mendekati telinga Selena. "Aku mohon. Untuk diriku. Untuk ayahmu. Dan untuk masa depan kamu. Jadilah murid yang baik," bisik Selena sambil memohon. "Seberapa keras lu berusaha, tidak akan mungkin," balas Alfi. "Aku akan melakukan apapun untuk kamu," Selena memohon kembali. "Yakin, ketua..." bisik Alfi. Selena mengangguk pasrah. Seketika dagu Selena diangkat agar berjajar dengan bibir Alfi. Alfi bernafas dengan ringan. Mendekati bibir Selena yang semerah buah ceri. Perlahan mendekat. Bibir mereka bersentuhan. Alfi bisa merasakan bibir Selena yang lembut. Selena hanya bisa terdiam. Tetapi ia juga memiliki hasrat yang belum pernah ia rasakan. Ada apa ini? Mengapa ini terjadi. Dan Selena tidak melawan. Ia malah menikmati nya. Dan kenapa Alfi melakukan ini? *** Uhhh gimana nih? Makin penasaran kan sama kelanjutannya. Jangan lupa untuk VOTE dan komentarnya. Thank you. Sekaligus dua bab untuk memperkenalkan novel ini. Ini novel terkeren yang pernah gua buat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN