“Aneh! Kok jadi kamu yang marah?!”
Arya kesal karena melihat Kinar dari tadi cemberut wajahnya, setiap kali Arya bertanya Kinar malah membuang mukanya. Arya benar-benar jengkel, apalagi kalau ingat Kinar selalu membangkang dan tidak menghargainya padahal Kinar sedang numpang di rumahnya.
“Ni bocah ngga tahu terima kasih banget sih!” gumam Arya dalam hati.
“Aku ngga marah!” jawab Kinar.
“Kalau ngga marah kenapa dari tadi ditanya diem aja?!”
“Ya karena aku sebel aja sama kamu!” jawab Kinar ketus.
“Lha? Ngapain juga sebel?! Harusnya aku yang sebel sama kamu, tau?!”
Kinar tidak bisa menahan kemarahannya dan menunjukkan ekspresi muka jelek ke arah Arya. Arya melotot dan mendesis dengan wajah kejam.
Mereka sudah sampai di rumah Arya, Kinar turun dari mobil mendahului Arya. Arya segera menyusul Kinar dan menarik lengannya. Kinar terkejut…
“Aduh! Apa-apaan sih!”
“Aku tahu Ibuku kasih semuanya gratis buat kamu. Tapi aku tetap akan menuntut bayaran!”
Kinar meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Arya semakin kuat.
“Aku harus bayar berapa?”
“Ngga pakai uang!” jawab Arya.
Kinar langsung berpikiran yang tidak-tidak dengan kalimat yang baru saja diucapkan Arya.
“Trus?” Kinar mengerutkan dahinya.
“Habis makan malam kamu harus lembur! Selesaikan pekerjaan yang harusnya kamu selesaikan di situs hari ini! Aku tahu banyak yang belum kamu kerjakan!”
Arya melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Kinar lalu masuk ke dalam rumah mendahului Kinar.
Saat Kinar masuk ke dalam rumah, Ibu Ningsih sudah menyambut Kinar layaknya menyambut anak gadisnya pulang kerja.
“Sini, Kinar!”
Bu Ningsih menepuk kursi kosong yang ada di samping Arya. Kinar memandang Arya, Arya sepertinya sengaja mengabaikan keberadaannya. Kinar menurut dan duduk di samping Arya.
“Selamat sore, Bu!” sapa Kinar sambil tersenyum.
“Ini, Ibu sudah menyiapkan teh manis hangat buatmu! Kalau Arya sukanya kopi. Ibu juga sudah menyiapkan gorengan buat menemani minum teh.”
Bu Ningsing menyodorkan sepiring gorengan untuk Kinar.
“Ibu, kenapa jadi repot-repot? Saya jadi ngga enak, Bu!”
“Ah! Kenapa merasa tidak enak? Ibu selalu menyiapkan semua ini kalau Arya pulang kerja, kan cuma tinggal nambahin satu gelas teh manis saja sekarang! Masa begitu saja dibilang repot? Nih, ada singkong goreng, bakwan udang, tempe mendoan, sama tahu isi.”
Bu Ningsih kembali menyodorkan gorengan itu kepada Kinar.
“Mas Arya dulu saja, Bu…” Kinar merasa tidak enak.
“Halah, Arya sih sudah ngambil banyak!” jelas Bu Ningsih.
“Terima kasih, Bu.”
Kinar mengambil tempe mendoan yang masih hangat, sepertinya baru saja diangkat dari penggorengan sesaat sebelum Kinar masuk ke dalam rumah. Gorengan itu ternyata lumayan juga untuk mengganjal perut yang lapar di sore hari.
“Bagaimana pekerjaan kalian hari ini?” tanya Bu Ningsih.
Arya dan Kinar hanya diam. Kinar tidak berani menceritakan kalau hari ini dia bertengkar dengan Arya. Sedangkan Arya, dia juga tidak mau menjelek-jelekkan Kinar di depan ibunya.
“Lho! Kok tidak ada yang menjawab?” Bu Ningsih bingung.
“Oh… Ehm… baik kok, Bu!” jawab Arya.
“Syukurlah! Ya sudah, Ibu ma uke dapur dulu ya! Ibu mau bantuin si mbok masak makan malam buat kita!”
Bu Ningsih meninggalkan Arya dan Kinar dalam diam. Arya asyik menyeruput kopinya sambil sibuk memainkan ponselnya. Kinar buru-buru melahap tempe mendoannya biar bisa segera menuju ke kamar.
Arya melihat Kinar mengunyah dengan buru-buru.
“Ngapain makannya buru-buru gitu??”
Kinar hampir tersedak, tapi dia berhasil mengatasinya dengan baik dan buru-buru meminum teh hangatnya.
“Aku mau mandi dulu, baru nanti aku selesaikan pekerjaanku.”
Kinar hendak berdiri dari kursi tempat duduknya, namun dengan sigap Arya menahan Kinar.
“Eitss… mau ke mana?”
“Mau mandi, Mas!” jelas Kinar sebal.
“Duduk!”
Arya menarik lengan Kinar hingga Kinar terduduk.
“Mas Arya nih kenapa sih! Dari tadi main narik lenganku aja! Sakit tau!”
“Duduk aja di sini, abisin gorengannya! Aku yang mandi duluan!”
Arya beranjak dari duduknya dan meninggalkan Kinar.
“Apa??”
Kinar benar-benar kesal pada Arya. Semua yang dilakukannya selalu di atur oleh Arya. Kinar sadar, di sini Kinar hanya menumpang, tapi kalau diatur-atur terus, Kinar mendingan keluar dari rumah Arya dan mencari kos-kosan sendiri.
Kinar membereskan piring gorengan dan gelas-gelas mereka sebelum menuju ke kamarnya. Kinar menunggu sampai Arya selesai mandi karena kamar mandi di lantai dua hanya ada satu jadi harus bergantian.
Setelah hampir setengah jam Kinar menunggu, ternyata Arya tak kunjung keluar dari kamar mandi. Terpaksa Kinar mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
TOK TOK TOK!
“Mas Arya! Kenapa lama sekali sih?!”
“Apa sih, Nar! Ganggu aja!”
“Buruan! Aku kebelet pipis!”
Kinar sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Ya sudah sini masuk! Ngga dikunci kok!” goda Arya sambil terkekeh.
“Hiihh! Mas Arya! Cepetan, ah!” teriak Kinar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Arya yang tidak tahan dengan Kinar yang sangat berisik akhirnya keluar dari kamar mandi. Lagi-lagi Kinar harus menelan ludah melihat tubuh Arya yang bertelanjang d**a dan hanya dibalut handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Arya yang melihat Kinar salah tingkah mengulum senyumnya.
Setelah makan malam, Arya duduk di meja kerjanya dan menyuruh Kinar duduk dihadapannya untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat dokumen untuk dipajang di ruang pameran nantinya.
“Ini, Mas! Aku sudah selesai!” Kinar tampak sangat lelah dan mengantuk saat menyerahkan pekerjaannya kepada Arya.
Arya tampak sedang membaca dengan sangat teliti pekerjaan yang telah selesai dikerjakan oleh Kinar itu. Tiba-tiba wajah Arya memerah.
“Kinar!!” bentak Arya.
“Eh… Iya ada apa, Mas?” jawab Kinar gelagapan.
“Kamu ini sepertinya memang ngga cocok jadi arkeolog! Sudah sana jadi penyanyi aja!” bentak Arya kesal.
“Lho! Ada apa sih, Mas? Tolong beri tahu kalau memang aku ada kesalahan!” protes Kinar.
“Nih lihat! Tahun-tahun sejarah yang penting buat dijelaskan ke publik saja salah! Bagaimana bisa lulus jadi arkeolog?” ejek Arya.
“Mana coba aku lihat!” Kinar tidak percaya.
"Ngga percaya??"
Arya melempar kertas-kertas Kinar dengan kasar ke atas meja. Lagi-lagi Kinar dibuat kesal karena ulah Arya yang sangat jauh dari sopan. Tapi, Kinar masih berusaha bersabar.
Kinar melihat coretan tinta merah yang dibuat Arya pada dokumen pekerjaanya. Memang benar, ada yang salah, diantaranya tahun bersejarah dan penulisan nama tokoh.
“Besok ngga perlu datang ke situs! Kamu lebih baik pergi ke perpustakaan daerah buat baca-baca sejarah biar ngga malu-maluin!” Arya mengkritik Kinar dengan pedas.
Setelah selesai merevisi beberapa kesalahannya, Kinar masih belum yakin dengan apa yang ditulisnya karena Kinar sudah benar-benar mengantuk sekarang ini. Kinar menyadari mungkin dia memang harus melakukan studi lanjut di perpustakaan daerah seperti kata Arya.
tbc