Isak Tangis Rindu Yang Pecah

1351 Kata

Irfan memutuskan untuk menyewa jet pribadi demi memastikan keselamatan Melia dan anak-anak mereka dalam perjalanan kembali ke Bogor. Ia tidak ingin mengambil risiko sedikit pun. Baginya, setelah semua yang terjadi, tidak ada yang lebih penting daripada membawa keluarganya pulang dalam keadaan utuh dan aman. Setibanya mereka di bandara kecil yang cukup terpencil, Emran memandang kagum ke arah pesawat mungil berwarna putih mengilap itu. Ia terkekeh sambil menepuk bahu Irfan. “Luar biasa, Mas. Seumur hidup, aku belum pernah naik jet pribadi,” ucapnya dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan. “Rasanya seperti jadi orang penting.” Irfan tersenyum singkat. “Kita memang penting, Em. Terutama bagi keluarga kita.” Melia melangkah perlahan ke dalam pesawat, matanya berbinar seperti anak kec

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN