94, Kakak 4

1120 Kata

Selesai dengan urusan membersihkan diri, Emran segera menyusul sang istri yang sedang berada di ruang tamu. Melihat Emran yang mendekat dan duduk di sampingnya, Qisya berkata, “Mas tadi aku pindah ke sini karena merinding banget di kamar sendirian,” ucapnya sambil mengusap bagian belakang telinganya. “Oh iya, mungkin karena ada arwah tadi,” sahut Emran sekenanya. Kini mereka kembali terfokus pada gambar yang telah mereka amati sejak tadi. Dahi Emran mengerut dengan rasa curiganya yang bangkit saat melihat gambar anak kecil yang menangis. Sementara itu, di sisi lain, terdapat seorang pria yang membawa sebilah pisau sedang berada di luar. “Apa kamu punya pikiran seperti aku, Sya?” tanya Emran sambil menatap sang istri. “Hmm, mereka adalah korban kekerasan?” tanggap Qisya mempertanyakan p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN