Epilog

2888 Kata

Masih kutatap lekat bayi mungil yang kini berada di gendonganku. Walau tubuhku masih lemah dan masih terpasang selang oksigen, tak melumpuhkan niatku untuk menatap jagoan kecilku yang baru saja lahir ke dunia ini.    Wajah merahnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, mirip seperti ayahnya.    "Sayang, jangan nangis. Ini udah kesekian kalinya kamu nangis liat anak kita." Mas Bagas menghapus buliran air mataku yang terus terjatuh kala menatap jagoan kecilku.   Kafindra Damarell Hartodirjo. Kami memberinya nama itu.    Putra pertamaku dan Mas Bagas baru saja lahir beberapa jam yang lalu. Dengan persalinan normal, aku cukup bahagia dan bangga pada diriku sendiri. Aku merasa seperti sudah menjadi wanita seutuhnya, bahkan seorang ibu seutuhnya.   "Kafi seperti kloningan kamu ya, Mas."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN