03. canggung

1483 Kata
KEESOKAN harinya, keluarga Fano datang dan menikahkan Asya dengan Fano. Tidak ada pesta, mahar hanya seperangkat alat solat, dan ijab kabul akhirnya selesai. Asya dan Fano sudah sah menjadi suami istri. Asya terkena Drop Out dari sekolah, sedangkan Fano masih tetap melanjutkan sekolah dikarenakan ia masih harus mengejar cita citanya. Fano adalah cucu dari pemilik yayasan, tidak ada alasan ia untuk dikeluarkan. Semalaman Alex terus menghubungi Fano, namun Fano tidak mempedulikannya sama sekali. Bahkan kini dia telah berstatus menikah, ia masih enggan untuk menganggap Alex sebagai temannya lagi. Kini keluarga Fano dan Keluarga Asya tengah berkumpul di ruang tamu rumah Asya. "Sekali lagi kami minta maaf sekeluarga atas kesalahan yang Fano perbuat," ucap Erika, -ibu Fano. "Biarkan dia ikut bersama kami," sambung Devan -ayah Fano, Fano masih setia duduk tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari gadis yang masih terlihat menyedihkan disana. "Silahkan. Lagi pula anak ini sudah melakukan hal yang memalukan keluarga kami. Bawalah! Kami sudah lelah mengurusnya." Ucapan itu keluar dari mulut Sandi yang adalah ayah kandung Asya, Asya yang mendengarnya langsung tertohok. Begitu teganya ia berkata demikian. "Seharusnya anda tidak berkata seperti itu," balas Devan. "Kami pergi. Terima kasih untuk hari ini, anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Bahkan untuk mengatakan itu Devan menahan amarahnya lalu melangkahkan kakinya keluar rumah kediaman Asya tinggal. Diikuti Fano, dan disitu Erika memegang pundak Asya. "Ayo sayang. Kita pulang." Begitu lembutnya suara yang dikeluarkan Erika. Asya mengangguk ragu lalu pergi meninggalkan rumah ibu dan ayahnya. Memang sebaiknya dia pergi. Bahkan untuk berkata baik saja, orangtua Asya tidak sudi. Sandi dan Ayria tidak tahu siapa keluarga Gibadesta. Begitu pun Asya saat ini, dia berdoa semoga keluarga Gibadesta menerimanya dengan suka cita walaupun pada kenyataannya itu cuma dalam mimpinya.   ***   Sesampainya dirumah besar milik keluarga Gibadesta, Asya benar-benar takjub luar biasa. Bahkan rumahnya bisa dikatakan besar, namun ternyata rumah lelaki keluarga ini lebih dari kata mewah. "Sayang, sini," ajak Erika, dengan cepat Asya keluar dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya mendekati Erika seraya menundukkan kepalanya. "Fano," panggil Erika. Fano yang yang hendak naik tangga menuju lantai dua, langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya dan menatap Erika. "Biarkan Syasya tidur dikamarmu,” tutur Erika. Fano terdiam cukup lama lalu mengangguk. "Ya," Singkatnya lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu. Asya menunduk lesu, sepertinya Fano membencinya. Tapi, memang sudah sepantasnya Fano benci padanya. Untuk menyentuhnya saja bahkan Fano mungkin tidak pernah kepikiran. "Kamu sama Fano tadinya pacaran?" Tanya Erika tiba tiba membuat Syasya tersentak. "Aku?" Tanya Asya balik seraya menunjuk dirinya sendiri. Erika tersenyum melihat tingkah Asya. "Iya, kamu pacaran kan?” Dan inilah, mungkinkah Asya harus berbohong atau berkata yang sebenarnya? "Aku sama Fano-" "Asya!" Dan panggilan tersebut membuat Asya refleks menoleh, Fano sudah berada ditangga paling atas menatapnya datar. "Biarin Asya istirahat, Ma," ucap Fano, wajah Asya langsung memanas saat itu juga, kenapa saat mendengar suara lelaki itu, jantungnya langsung berdetak tidak karuan? Sedangkan Erika yang mendengarnya langsung memamerkan gigi putihnya ke arah Fano. "Iya maafin Mama. Ya sudah kamu istirahat sana,” tutur Erika, Asya segera mengangguk lalu dengan setengah hati berjalan menuju Fano. Sedangkan Erika langsung menghampiri suaminya Devan yang sudah berada dikamar dengan perasaan berkecamuk sebab menghadapi begitu banyak masalah bahkan pekerjaan yang belum di selesaikannya.   ***   ASYA POV Aku mengikuti langkah Fano sampai di atas, dan tepat dikamarnya Fano. Entah mengapa aku merasa sangat tidak enak. "Masuklah," ucap Fano tanpa menoleh, lalu dengan segera aku masuk seperti ucapannya. Saat sudah masuk Fano melepas jaketnya dan langsung duduk diatas kasur. Sedangkan aku masih berdiri dan bingung mau melakukan apa. "Asyara Dwista," ucap Fano yang memanggil nama lengkapku. Aku yang baru saja hendak meletakan tas langsung berhenti diatas angin. Aku menoleh dan mendapati Fano yang ternyata sudah menatapku dengan wajah datar. "Kalo laper bilang," kata Fano lalu membaringkan tubuhnya. Dengan segera aku menunduk. "T-terimakasih," jawabku pelan, lalu kembali meletakkan tas yang berisi pakaianku. Aku duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari diriku berdiri. Rasanya aku ingin merebahkan tubuhku, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. "Lo mau tidur di mana?" Tanya Fano. Aku yang hendak memejamkan mata langsung terlonjak dan refleks menegakkan tubuhku. "Ah, apa?" Tanyaku mencoba meminta pengulangan sebab tidak mendengar pertanyaannya. "Lo mau tidur di mana." Aku menatap kasur Fano. Begitu besar, luas, bisa di lihat pasti sangat empuk, sudah begitu di lapisi sprei yang lembut dan- Dengan cepat aku menghilangkan keinginan bodohku. Aku tidak bisa tidur satu ranjang dengan lelaki itu. Pasti dia akan merasa jijik ketika di dekatku. "Kenapa diam?" Suara Fano membuyarkan lamunanku, dengan cepat aku menggeleng. "Aku tidur disofa saja," finalku tanpa melihat orang yang kuajak bicara, Fano menaikkan sebelah alisnya mendengar jawabanku. "Lo yakin?" Tanya Fano. Aku mengangguk seyakin-yakinnya. Lalu Fano berdiri. "Yaudah. Terserah lo aja.” Dan yah, Fano keluar kamar membuatku langsung membuang nafas. Entah mengapa saat diajak bicara Fano, aku langsung tidak bisa bernafas. Rasanya udara langsung menyempit didadaku dan tidak bisa bernafas lega.   ***   Sekarang sudah sore, aku memilih untuk turun dan ingin meminta izin pada tante Erika untuk keluar rumah hanya sekedar mencari udara segar. Dengan hati-hati aku menghampiri perempuan cantik yang tengah memainkan ponselnya saat ini. "Tante," panggilku, seketika Erika menoleh, disitu sudah ada diriku yang tengah menatapnya. Erika yang sedang memainkan ponselnya langsung tersenyum. "Ada apa sayang? Oh ya, jangan panggil aku tante. Panggil aku Mama seperti Fano memanggilku, ya?" Pinta Erika, dengan ragu aku mengangguk. "I-iya, Ma." "Nah gitu dong. Terus kamu mau apa sekarang? Susunya yang dibuat Mama tadi udah diminumkan?" Aku langsung mengangguk cepat. "I-iya, Ma. Ini, boleh nggak aku keluar rumah?" Permintaanku langsung membuat Erika melotot. "Sendiri? Kalo sendiri Mama tidak akan izinkan." Seketika lengosan kecewa keluar dari mulutku. "Kenapa, Ma? Aku bisa jaga diri kok, lagi pula hanya jalan-jalan-" "Kamu mau jalan-jalan?" Sela Erika. Aku mengangguk antusias. "FANO!! FANO!!" Panggilan tiba-tiba dari mulut Erika membuat aku terkejut. Aku memang ingin jalan-jalan, tapi tidak ingin merepotkan Fano. Tidak sama sekali! "Ma, jangan-" "Apa?" Suara berat Fano membuatku langsung lemas seketika. "Ajak Asya jalan-jalan ya,” tutur Erika, Fano terdiam sejenak lalu menatapku membuat bulu kudukku meremang seketika. "A-anu...aku nggak jadi jalan-jalan, Ma. Tiba-tiba perut aku sakit, aku ke toilet dulu ehehe," ujarku cepat lalu melangkahkan kakiku menaiki tangga membuat Erika melongo seketika. Sedangkan Fano langsung mengikuti langkahku. "Ada-ada saja anak itu," gumam Erika seraya geleng-geleng kepalanya heran. Sedangkan aku langsung membaringkan tubuhku di sofa, benar-benar memalukan, aku sama sekali tidak ingin merepotkan Fano. Fano pasti semakin membenciku dan mencapku sebagai gadis yang banyak maunya dan memanfaatkan Mama Erika untuk itu. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku sembari mengusapnya terus menerus. Suara pintu terbuka membuatku terlonjak dan langsung berdiri. Disana sudah ada Fano tengah menatapku. "Lo mau jalan-jalan?" Pertanyaan Fano membuatku refleks menggeleng. "Enggak! Itu...cuma bercanda," jawabku berusaha untuk menghilangkan ke gugupan yang kini menguasaiku. "Kenapa lo disini?" Seketika aku tersentak. Apa Fano mengusirku? Batinku bertanya pada saat mendengar pertanyaan Fano. "Bukannya lo bilang mau ke toilet?" Lanjut Fano lagi membuat wajahku memanas. Dengan segera aku menjawab, Benar juga ya, tadi aku bilang sakit perut, Fano pasti semakin membenciku karna aku seorang pembohong. "Udah ilang sakitnya," alibiku. Fano terdiam sejenak lalu menatapku datar. "Lo aneh," tandasnya membuatku terdiam. Iya benar kata Fano, aku memang aneh, dan bodoh tentunya. "Maafkan aku," ujarku lalu menunduk. Hening sejenak lalu tiba tiba aku merasa tangan seseorang mengelus puncak kepalaku. Dan itu ternyata tangan Fano. "Senin gue udah UN," tutur Fano lalu duduk. Aku yang masih terkejut langsung ikut duduk disamping Fano. "Kamu...nggak belajar?" Dan yah, pentingkah aku bertanya seperti itu?! Syasya yang bodoh. Batinku terus berucap. "Nanti," jawabnya. karna bingung aku hanya ber’oh’ saja. Hening dan tatapan Fano yang begitu datar membuatku benar-benar salah tingkah. Sebaiknya aku cari topik agar menghilangkan ke canggungan ini. "Hm Fano," panggilku, lalu Fano menatapku menunggu kelanjutan dariku. "Kamu tau nggak kalau anak ini-" "Nggak usah dibahas," potong Fano dingin. Membuatku bungkam seketika. Sepertinya aku salah topik, batinku merutuki. "Anggap aja itu nggak pernah terjadi," tambahnya lagi. Membuatku menunduk lesu tanpa terasa air mataku menetes mengingatkan betapa kejinya Alex saat mengambil kehormatanku. Begitu kejam dan memaksa. "Kenapa nangis?" Tanya Fano, aku langsung mengusap air mataku secepatnya. "Aku sedih karna kebodohanku," lirihku. "Lo enggak salah. Itu bukan kemauan lo. Lo dipaksa," koreksi Fano dengan nada tegas. "Kenapa kamu nggak mengelak saat aku nunjuk kamu?" Fano yang ditanya itu langsung tersenyum tipis. Dan yah, itu senyum perdana yang kulihat saat ini. "Nggak seharusnya lo lontarin pertanyaan itu untuk gue," balas Fano, aku langsung merasa bersalah seketika. "Ma-mafin aku." "Kenapa lo minta maaf terus?" "Karna aku banyak salah sama kamu," jelasku apa adanya. Fano hanya tersenyum tipis, lalu kembali menatapku lekat. "Salah lo emang banyak," jawab Fano menanggapi lalu menyenderkan punggungnya pada penyangga sofa. "I-iya," aku ingin berlari sejauh mungkin rasanya dan menenggelamkan kepalaku. Hatiku sedikit nyeri rasanya. "Gue harus belajar," tutur Fano, lalu aku mengangguk pelan Dan akhirnya Fano pergi, entah apa yang harus kulakukan saat ini. Kenapa aku dipertemukan dengan lelaki misterius ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN