Bab 9

1091 Kata
Raka sudah siap dengan kaos pendek warna navy dipadukan dengan celana jeans hitam sebatas lutut. Kacamata hitamnya juga sudah bertengger manis di hidungnya yang mancung. Tak mau berlama-lama, jantungnya sudah meletup-letup bahkan saat pertama kali ia menginjakkan kaki di bandara tadi pagi. Dia akan langsung menemui Tiara di kontrakannya. Gadis itu bisa saja mengabaikan perhatiannya di dunia maya. Namun, Raka ingin tahu, apakah Tiara masih bisa menolaknya jika ancaman tajamnya kembali ia lontarkan. "Kamu mau ke mana, Ka?" "Mau keluar sebentar, Ma." jawab Raka sembari menuruni anak tangga. Menatap sang ibu yang sepertinya baru saja dari kamar. "Mama nebeng, ya?" "Nebeng ...." tutur Raka dengan senyuman aneh. Anak itu selalu saja bisa menggoda sang ibu. Bibir ibu Dina mencebik. "Mama agak nggak enak badan. Mama nebeng ke rumah sakit." "Mama sakit?" tanya Raka mulai khawatir. Sebenarnya ibu Dina tidak mengidap penyakit yang kronis. Hanya setelah anak pertamanya, Raga Abyakta memilih pergi dari rumah. Beliau jadi cepat merasa lelah dan sering tiba-tiba pusing. Tensi darah mendadak naik dan detak jantungnya juga tidak stabil. Saat diperiksa, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan. Entahlah, mungkin jika Raga mau pulang, ibunya itu akan kembali sehat dengan sendirinya. "Mama cuma mau cek kesehatan. Sama mau minta vitamin." jawab ibu Dina dengan senyumannya yang rapuh. Raka mengangguk mantap. "Ya udah, ayo." ××× Ibu Dina menggandeng lengan Raka dengan erat. Ada beberapa dokter yang berpapasan dengan mereka dan beliau selalu menyunggingkan senyum. Pun saat seorang dokter cantik dengan kacamata bingkai hitam itu menyapanya, beliau membalasnya dengan ramah. "Tante, bagaimana kabarnya?" tanya dokter itu dengan senyum manis yang merekah. Ibu Dina balas tersenyum, senyum canggung. "Tante baik. Nak Anggi gimana kabarnya?" "Alhamdulillah baik, Tante, cuma kadang suka kecapekan." ucapnya sambil mengusap perutnya sendiri. Seolah mengabarkan kepada ibu Dina bahwa ia tengah berbadan dua. Ibu Dina cepat tanggap, beliau lalu melihat kearah perut perempuan bernama Anggi itu. "Wah, udah berapa bulan?" tanyanya antusias dengan senyum yang dipaksakan. "Tiga bulan, Tante." jawab Anggi dengan senyum yang tambah merekah. Bagaimanapun juga, ia sudah menganggap Ibu Dina seperti ibunya sendiri. Dia akan mengabarkan kebahagiaannya. "Tante doa-in kamu sama bayimu sehat ya, Nak. Selamat dua-duanya nanti pas lahiran." Ibu Dina mengusap-usap bahu Anggi dengan penuh sayang. Perasaan bersalah itu kembali menyeruak. Sudah terlalu banyak hati yang ia sakiti selama ini. "Aamiin tante. Terimakasih, ya." Ibu Dina mengangguk. "Salam untuk ayahmu, ya, Nak." ucapnya untuk mengakhiri obrolan. Berlama-lama dengan Anggi membuatnya kembali teringat dengan Raga. Dan kerinduan itu rasanya semakin memuncak. "Iya, Tante. Nanti Anggi sampaikan." balas Anggi santun. "Tante mau check up?" Ada jeda saat menunggu jawaban. "Ayo Anggi aja yang antar." lanjutnya setelah ibu Dina mengangguk. Ia menoleh pada Raka seperti meminta persetujuan. "Raka tunggu di sini aja." ucap Raka seperti berkomplot dengan Anggi. Bukan apa-apa, Raka hanya ingin hubungan mamanya dengan Anggi yang notabene adalah sahabat kakaknya itu bisa kembali seperti dulu, Seperti saat sebelum perjodohan itu terikrar. Raka paham dengan ibunya yang seolah menjaga jarak dengan keluarga Anggi setelah kakaknya memilih pergi hingga perjodohan itu otomatis batal. Ibu Dina pasti merasa bersalah. Raka ingin, hubungan ibunya dengan Anggi kembali hangat. "Mama tenang aja, Kak Anggi nggak mungkin kok nyulik Mama." Anggi terbahak dengan candaan Raka. "Kamu apa sih, Ka." Raka melihat punggung keduanya yang perlahan menjauh. Terlihat bagaimana Anggi mencoba mencairkan suasana yang terlanjur membeku diantara mereka berdua. Raka tahu, Anggi yang sudah sejak umur sepuluh tahun ditinggalkan oleh ibunya itu sudah sangat menganggap Ibu Dina seperti ibu kandung sendiri. "Iya, nanti bareng aja." Samar-samar telinga Raka mendengar sebuah suara yang sangat familiar. "Aku balik dulu, ya, mau ganti infus." Pria itu menajamkan indera pendengarannya setelah kembali mendengar suara itu. Raka lalu berbalik badan, menoleh kanan kiri. Dan ... itu dia, gadis yang selalu saja memenuhi pikirannya itu ternyata ada di depan sana. Kalau jodoh, memang tak kemana, begitu batinnya. Raka membuntuti gadis itu. Langkahnya cukup panjang hingga tak membutuhkan waktu lama untuk sampai tepat di belakang gadis berseragam perawat tersebut, dia mulai menyapa. "Permisi, Sus." "Iya. Ada yang bisa saya bantu?" Perawat itu mendongak. Awalnya dia tersenyum manis, tapi sedetik kemudian senyum itu hilang dan digantikan oleh pelototan tajam nan mematikan. "Kamu!" "Sstt, ini rumah sakit. Jangan teriak-teriak." Raka menyentuhkan jari telunjuknya di bibir Tiara saat mengucap kata sstt, dan tentu saja itu membuat Tiara langsung memundurkan kepala. Tiara tak menyahut, gadis itu memilih pergi dari hadapan Raka. "Apa sih!" Tiara mengempaskan lengannya yang ditahan oleh Raka saat kakinya baru akan melangkah lagi. "Cuma mau ngingetin kalau perjanjian kita belum selesai. Jadi jangan coba-coba kabur atau kalau kamu memang lebih senang ada di penjara. Nggak pa-pa, kabur aja." Bibir tajam Raka kembali dengan ancamannya. Dia kembali memakai cara lama karena cara ala drama koreanya sama sekali tak mempan untuk gadis macam Tiara. Tiara menggeleng, dia tidak habis pikir kenapa di dunia ini ada orang macam Raka. "Terserah kamu," ucapnya lalu kembali melenggang pergi. Senyum sinis Raka terpeta. Gua pasti bisa naklukin lo. ××××× Sambil berjalan menjauh, Tiara mengomel dalam hati. Bagaimana bisa Raka menemukannya lagi? Dia sudah tidak membalas atau bahkan membaca semua pesan dari Raka. Pun semua panggilan jarak jauhnya juga ia abaikan. Dia juga tidak mengganti foto profilnya dengan seragam barunya ini. Tapi mengapa pria itu masih bisa menemukannya? Apa mungkin dia mengirimkan mata-mata? Atau mungkin Raka itu cenayang? +6282******** [-Nanti pulang jam berapa, sayang? Aku jemput.] Tiara melihat pesan masuk dari side bar notifikasi saat ia sedang istirahat makan siang. Ia buang wajahnya ke atas permukaan meja kantin. Hidupnya akan kembali kacau balau. "Kenapa, sih?" Teman seperjuangannya bertanya perihal tingkah aneh Tiara. Teman yang satunya mengangguk. "Iya ih, mejanya 'kan kotor. Nanti pipi kamu jerawatan lho." ucapnya seraya melihat pantulan wajahnya sendiri di layar handphone yang hitam. "Bodo." sahut Tiara setengah menggerutu. Rasanya ingin sekali menangis dengan kencang. Sudah terbayang-bayang bagaimana jahilnya Raka nanti saat merecokinya. "Oh iya Ra. Tadi itu cowok kamu, ya?" Masih dengan pipi diatas meja. "Cowok apa sih San?" Tiara malah balik bertanya pada temannya yang postur tubuhnya sedikit agak berisi itu. Namanya Santi. "Tadi lho yang ngejar kamu di lorong." kekeuh Santi karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Gadis yang satunya juga ikut mengangguk. "Iya, aku tadi juga lihat. Ganteng lho, sipit kayak oppa-oppa korea. Hihi." ucapnya diakhiri dengan tawa aneh. "Pikirannya korea mulu." sahut Santi lalu menyedot es teh pesanannya yang kebetulan sudah datang. +6282******** [-Selamat makan....] Tiara spontan menoleh ke arah kanan dan kiri, depan dan belakang. Bagaimana bisa Raka tahu jika ia sedang akan menyantap makan siangnya? Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN