Hari demi hari berganti manjadi minggu lalu bulan sejak kelahiran anak Dewi dan Raga. Tiara menjadi pemurung. Hari-harinya terasa sangat lambat. Banyak kesedihan yang ia pendam sendiri dan hanya membaginya sedikit dengan sang sahabat. Beberapa waktu lalu dia mengunjungi rumah Kinan lagi dan mencurahkan isi hatinya dengan isakan yang tak bisa ditahan-tahan. Sahabatnya itu sudah mencoba menenangkannya, tapi tak cukup berhasil karena pikirannya masih dipenuhi hal-hal negatif yang berujung sama. "Sabar aja, Ra. Kalau udah waktunya nanti juga dikasih sama Allah." Ucapan Kinan yang menghiburnya tetap tidak bisa ia terima. Dia tidak merasa terhibur sedikitpun. Kurang lebih kata-katanya sama dengan ucapan Raka. Bersabar? Apa dia bisa? Bagaimana jika selamanya dia tidak bisa hamil? Bagaimana jika

