Chapter 6 – Unsettling Demeanor

915 Kata
Begitu pertanyaan tersebut terlontar dari mulutku, Hilary malah tersenyum lebar untuk alasan yang tidak jelas. Ia seolah sudah tahu bahwa kami akan mempertanyakan hal-hal ini kepadanya. Namun, ada sesuatu yang tak biasa dari senyuman gadis itu. Bibirnya memang menyungingkan senyuman hangat, tetapi tatapannya kosong. Kedua matanya menerawang jauh kepada hal-hal yang tak kuketahui apa. “Aku memiliki alasanku sendiri,” ujar Hilary pada akhirnya. “Dan itu adalah?” desakku. Gadis pirang itu membuang napas lelah. “Dengar, akan kujelaskan ini dengan sederhana. Namun, aku tidak akan menceritakan semuanya.” “Tentu saja,” jawab Carlotta. “Kita tidak berhak untuk memaksamu melakukan itu.” Aku mengangguk pertanda setuju. “Jadi, ada apa?” Hilary sempat terdiam sejenak. Tiba-tiba saja wajahnya berubah jadi muram. Ketua kami itu tertunduk dan pandangannya jatuh ke atas jemarinya yang ada di pangkuan. Aku meraih tangannya dan berkata, “Jika terlalu sulit bagimu untuk bercerita, kami tidak—” “TED telah membunuh orang tua teman baikku,” potong Hilary. Untuk kesekian kalinya, aku dan Carlotta terpaku. Tanganku membeku di atas jari-jari Hilary. Carlotta menatap ketua kelas kami itu dengan sorot mata tak percaya. Tanpa kami minta, Hilary sudah melanjutkan, “Setelah orang tuanya meninggal, temanku akhirnya depresi dan bunuh diri. Sejak saat itu, aku bertekad untuk mencari tahu siapa dalang di balik segala tindak kriminal ini. Bahkan, aku sampai rela melakukan hal-hal yang tidak seharusnya aku lakukan. “Aku mengelabui polisi dan mengambil sedikit bubuk Lavender yang ada di TKP. Aku juga menggandakan beberapa foto korban. Hingga saat ini aku masih menyimpannya.” Hilary meraih sejumlah foto yang ada di dalam kotak. Aku langsung ingin muntah menyaksikan apa yang ada di hadapanku. Itu adalah foto-foto korban mutilasi yang dilakukan TED. Di antaranya ada yang tak lagi memiliki kepala; ada yang hanya ditemukan tangan beserta kakinya saja; ada pula yang hanya tersisa kepala dan isi perutnya. Foto usus, jantung, dan otak manusia yang tercerai berai di atas lantai telah Hilary pertontonkan di hadapan kami. Foto-foto tersebut seolah mengabadikan tempat pemotongan. Tempat pemotongan manusia. Begitu melihat sekelebat gambar tersebut, aku langsung memalingkan wajah dan menutup mulutku dengan kedua tangan. Dapat kurasakan makan siangku kini sudah naik ke tenggorokan. Itu semua benar-benar menjijikan. Lain halnya dengan Carlotta. Sejak awal ia sudah melihat ke arah yang berbeda dan aku memakluminya. Visualisasi itu memang terlalu mengerikan untuk ditatap terlalu lama. Bahkan, aku yakin jika aku akan mendapatkan mimpi buruk saat pergi tidur malam ini. “Aku… aku tidak bisa membayangkan jika Joshlah yang ada di dalam gambar-gambar itu,” tutur Carlotta dengan tenggorokan tercekat. Kedua matanya kembali berkaca-kaca. Aku memeluk pundaknya erat-erat. Gadis berambut merah itu segera menenggelamkan wajahnya ke ceruk leherku. Dapat kurasakan tetesan air matanya membasahi gaun seragamku. “Namun, apakah kau yakin ini adalah perbuatan mereka?” tanyaku setelah berhasil menenangkan Carlotta. “Maksudku, pembunuh itu bukan satu-satunya orang yang bisa menabur bubuk Lavender ke jasad korban, kau tahu?” Hilary tersenyum. Ia seolah sudah mengantisipasi pertanyaan ini. Ketua kami pun menjelaskan, “Itu poin yang bagus. Itu juga yang menjadi alasan mengapa kepolisian tidak membeberkan satu fakta ini ke publik. Mereka berusaha mencegah para pembunuh lain untuk meniru gaya khas ini—mereka takut hal itu hanya akan mengacaukan penyelidikan yang mereka lakukan. Bahkan, saat hanya merilis berita bahwa pembunuhan ini selalu disertai dengan ‘pasir’, sudah banyak pembunuh—yang sama sekali tidak berkaitan dengan TED—yang menjiplak ciri khas ini untuk memberikan kesan bahwa itu adalah perbuatan TED, bukannya perorangan. Namun, justru itulah yang membuat kematian Josh aneh.” Carlotta melipat dahi. “Mengapa demikian?” “Bukankah sudah jelas? Jika kepolisian merahasiakan detail tersebut dengan baik, lalu bagaimana bisa jasad Josh ternodai bubuk Lavender? Kalau memang benar ini hanya pembunuhan yang menjiplak?” “Apa kau mengatakan jika ini benar-benar perbuatan TED?” tanyaku. Hilary menggeleng. “Tidak, tentu tidak. Banyak faktor yang masih perlu dipertimbangkan. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan jika TED memang kembali menyerang kota. Aku hanya kecewa jika polisi menyepelekan hal ini. Kau ingat reaksi Scott tadi, Sarah? Bagiku itu bukanlah tindakan yang bijak untuk dilakukan.” “Siapa Scott?” Dahi Carlotta berkerut-kerut. Aku menjawab, “Dia adalah—” “KALIAN TIDAK TAHU SIAPA PEMBUNUHNYA!” pekik suara ini. “KALIAN TAK AKAN PERCAYA SIAPA PEMBUNUHNYA. JADI, HENTIKAN OMONG KOSONG KALIAN!!” Kami bertiga spontan menoleh ke arah sumber suara. Gadis yang sedari tadi meringkuk di atas ranjang itu kini sudah menatap kami dengan sorot mata penuh dendam kesumat. Kedua matanya yang merah membeliak lebar seakan ia ingin menyerang kami saat itu juga. Rambutnya acak-acakan. Tubuhnya yang ringkih malah membuat gadis itu terlihat semakin mengerikan. Ada apa dengan Sheila? “Apa maksudmu?” tanya Hilary segera. “Sheila, ada apa denganmu?” tanyaku, tak kalah khawatirnya. Tanpa banyak bicara, Carlotta sudah beringsut mendekati Sheila. Carlotta mengguncang pundak gadis berkacamata itu kuat-kuat. “Apa maksudmu, Sheila?” tanya Carlotta, menahan air mata. “Apa kau melihat siapa yang membunuh Josh?” Yang diajak bicara sama sekali tak menjawab. Sheila hanya diam dengan sekujur tubuh gemetar hebat. Carlotta tanpa lelah mengguncang pundaknya yang kurus. “Sheila Naylor, jawab aku!” pekik Carlotta frustasi. Sheila menjerit, “Menyingkir dariku!!” Sheila mendorong tubuh Carlotta hingga gadis malang itu tersungkur ke atas lantai. Aku terbelalak dan segera berlari berhamburan ke arah Carlotta. Sedangkan Sheila, ia sudah berlari keluar kamar. Hilary sempat meraih pundaknya, tetapi gadis itu menepis uluran tangan Hilary mentah-mentah. Ketua kelas kami terpaku menerima perlakuan itu. Pada akhirnya ia hanya sanggup membiarkan Sheila pergi. Saat ini Hilary masih terbengong-bengong di dekat pintu, seakan otaknya tak mampu memproses apa yang baru saja terjadi. Hanya hening yang menemani isi kepala kami yang semakin carut-marut. Sesegukan Carlotta telah secara tidak sadar menjadi musik latar bagi segala teror ini. Hingga saat ini, tak ada satu pun dari kami yang mampu berkata-kata. Kami semua terkejut menyaksikan sisi lain seorang Sheila Naylor yang tanpa diduga sangatlah agresif dan menakutkan. Setelah tersadar dari keterkejutannya, Hilary perlahan-lahan mendekati kursi meja belajar yang ada di dekatnya kemudian mengenyakkan tubuh. Masih dengan tatapannya yang kosong, ia berkata lirih, “Apa yang sebenarnya terjadi?” *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN