21

1144 Kata
Vian tersenyum cerah, matanya berkilat gembira. Tidak bisa Vian jabarkan bagaimana bahagianya dia saat ini menatap pantulan dirinya didepan cermin besar ruang pakaian, rasanya masih tidak nyata. Vian diberikan izin keluar pack! Setelah kejadian mengamuknya Jayden yang mengira Vian akan meninggalkanya, dan Vian yang menjelaskan maksudnya. Akhirnya Jayden memberi izin walau sedikit sulit dan harus dibujuk. "Kau tampak senang dan berbinar binar" ucap Jayden kesal menatap Vian terus saja tersenyum senang, Jayden tidak suka Vian tersenyum karena bisa meninggalkanya. Haruskah Jayden tarik lagi izinnya? "Jangan coba coba menarik ucapan mu lagi Jay!" Ancam Vian yang sadar maksud dari tatapan Jayden. Jayden mendengus tidak suka, mendekat dan memeluk Vian dari belakang "ntah mengapa aku tidak rela kau keluar" guman Jayden teredam di leher jenjang Vian. Cup...cup....cup.... Vian berbalik dan mengecup bibir Jayden beberapa kali, mengesekan hidungnya dengan hidung Jayden "kau mau membuat ku serasa dipenjara Jay?" Tanya Vian melingkarkan tanganya di leher Jayden. "Jika itu membuat mu tetap berada dijangkauan ku mengapa tidak" jawab Jayden bodoh. Vian terdiam sebentar, apa hidupnya akan seperti benar benar dipenjara jika nantinya terikat dengan Jayden? Ia menjadi takut, takut pilihannya yang menyerahkan diri pada Jayden sebuah kesalahan. "Hm...Jay aku lapar" rengek Vian, mengaligkan topik. Jayden yang tidak merasa ada kesalahan, mengiyakan dan mengajak Vian turun untuk sarapan. "Selamat pagi semua, semoga pagi kalian indah" sapa Vian berlebihan pada semua orang yang sudah ada dimeja makan. Uhuk...uhuk... Ken tersedak makanan yang baru saja ia suapkan, apa benar ini sahabat tercintanya? Mengapa terlihat berbeda sekali, lebih ceria dan manusiawi. "Ken kau baik baik saja?" Tanya Eli pada putranya yang masih tersedak makananya sendiri. Ken langsung meraih air yang disodorkan Eli dan meminumnya sampai tandas. "Baby, kau?" Ucapan Ken menggantung, ia tidak berniat melanjutkan kalimatnya melihat tatapan mematikan unclenya. Ken mencibir kesal, apa salahnya sampai ditatap seperti itu? "Jangan merusak mood baik ku" peringat Vian saat melihat mulut Ken akan terbuka, karena jika Ken mulai bersuara Jayden akan menyahut dan Ken akan menyahut lagi jadilah perdebatan tidak henti. ⛩⛩⛩ "Aku tidak menyangka uncle membiarkan mu keluar pack Baby" ucap Ken saat kini mereka telah berada dikelas pertama jam perkuliahan mereka. Mereka mendapat kelas yang sama dihari pertama, Vian tidak jadi mengambil jurusannya yang ia niatkan dan mengambil yang sana dengan Ken. "Lalu apa ia akan mengurungku didalam pack dan mengabaikan pendidikan ku?" "Mungkin saja, melihat sifat posesif uncle Jay yang sangat berlebihan dari yang berlebih hal itu bukan tidak mungkin" Apa yang Ken katakan benar, karena pada awalnya Jayden nggan, tapi Vian berhasil membujuknya. "Sudahlah, jangan bahas lagi. Oh...benar hampir aku lupa, Ken aku akan bertemu teman ku setelah kelas selesai. Kau bisa pulang sendiri lebih dulu" Ken memincingkan mata, siapa gerangan yang akan Vian temui? "Siapa" tanya Ken "apa?" Tanya Vian lagi seakan tidak paham maksud Ken. Tak.... "Aw...sakit Ken" jerit Vian kesal, tapi diabaikan Ken. "Apa selama kau bersama uncle kau berubah menjadi orang bodoh? Begitu saja kau tak paham maksudku" omel Ken. Vian mengerucutkan bibirnya kesal "ya....bersama uncle mu aku jadi bodoh" Ken menggelengkan kepala, Vian seenaknya saja menjawab pertanyaanya. "Kau kekurangan piknik, otak mu jadi sedikit bermasalah" "Hm...tapi aku benar bukan, bersama uncle Jay aku menjadi sosok yang bodoh" Ken berdecak kesal, ada apa dengan sahabat tercintanya ini. Walau Ken merasa ada yang aneh, tapi coba ia tampik. Tidak mungkin bukan unclenya berani membuat Mate nya sengsara. ⛩⛩⛩ "Hu...Max lama sekali" gerut Vian sambil melirik jam tangannya, sudah lebih dari 10 menit ia menunggu Max. Sebenarnya Max sudah mengabarinya jika akan terlambat karena macetnya jalan. Tapi sudah 10 menit lebih, Vian tidak bisa menunggu. "Vivian" panggil seorang pria, Vian tersenyum melihatnya. "Hai, sedang apa kau sendirian disini?" Tanya Pria itu. Pria dengan senyum manis dengan wajah pucat dan bibir kemerahan. "Aku menunggu seseorang Ray" ucap Vian pada pria bernama Raynard itu. Pria yang beberapa hari yang lalu ia temui di acara pertunangan kolega Jayden. "Dengan siapa?" "Max" "Max?" Tanya Ray tidak yakin, walau ia tidak dekat dengan Vian atau pun Ken, tapi Ray tau kabar ketidak sukaan Ken pada mantan senior mereka itu. Apalagi Ken pernah terlibat perkelahian hebat dengan mantan senior mereka itu. "Ken tidak tau?" Tanya Ray membuat Vian mengeleng kiku "jangan beri tau Ken atau siapapun" pinta Vian. Bisa dipastikan Ken akan mengamuk dan mendiaminya jika sampai tau ia bertemu dengan Max. "Tenang saja, aku tidak berencana ikut campur" Vian bernafas lega, untung saja yang bertemu denganya Ray bukan temannya yang lain, jika tidak tamat lah Vian. "Hm...Vian, bisa aku bertanya sesuatu?" Tanya Ray hati hati. Vian mengangguk "jika aku bisa menjawab, bertanyalah" jawabnya. "Siapa yang bersama mu saat di pesta pertunangan beberapa hari yang lalu?" "Hem? Uncle Jay" "Uncle?" "Ah....unclenya Ken" Ray mengangguk penuh makna "Vian mau membantu ku?" Pinta Ray "apa?" Tanya Vian "mau membantu ku membeli kado untuk kakak ku?" Vian berfikir sejenak, tidak ada salahnya ia membantu Ray, Max juga masih lama tiba. "Oke, ayo" ⛩⛩⛩ "Yang ini bagaimana Vian?" Tanya Ray meminta pendapat pada Vian, ia memilih sebuah kalung salib. "Bagus, apalagi kalungnya terlihat indah" puji Vian pada kalung pilihan Ray. "Benarkah? Aku sangat ingin membelikan kakak ku sebuah kalung, dulu ia pernah meminta sebuah kalung sebagai hadiah, tapi aku tidak membelikanya, sekarang saat yang tepat bukan?" Tanya Ray tampa mengalihkan tatapanya dari kalung ditangnya. Vian bisa melihat pancaran kesenangan dan kebahagiaan dari mata Ray, senyum lebar Ray menjelaskan bahwa Ray sangat bahagian membelikan sesuatu untuk kakaknya. "Kau sangat senang?" "Ya...kakak ku akan suka" Begitu beruntungnya kakak Ray memiliki adik seperti Ray, Vian kadang iri pada perempuan yang memiliki adik atau kakak laki laki yang perhatian seperti Ray. "Aku jadi ingin memiliki adik laki laki" guman Vian tidak sadar "hm? Kau bisa menganggap Ken adik bukan?" Ucap Ray menanggapi gumanan Vian. Vian menggelengkan kepala, Ken tidak bisa dianggap adik tapi kakak atau bahkan lebih? Vian sedikit bingung mendeskripsikan Ken dihidupnya. Ada kalanya Ken menjadi sosok kakak bagi Vian, menjadi sosok sahabat, dan kadang kala ia dan Ken lebih terlihat seperti kekasih. "Pilihlah satu barang, aku mentraktir mu" ucap Ray "tidak perlu" tolak Vian. Ia tidak berniat membeli apapun. "Aku tidak menerima penolakan, ambilah satu sebagai ucapan terimakasih ku" Karena tidak enak menolak, Vian memilih salah satu gelang dengan bandul beruang merah sebagai hiasanya. Tampak imut dan mengingatkan Vian pada salah satu tokoh beruang dalam salah satu kartun kesukaanya. "Ray...ak-" Vian menggantungkan ucapanya, tidak berniat memanggil Ray. Padanya hanya tertuju pada apa yang ia lihat saat ini. "Vian, kau sudah dapat barang yang kau mau?" Tanya Ray membuat Vian tersadar dari kebisuannya. "Ah...iya, ayo bayar" jawab Vian gelagapan, bingung dengan tingkahnya sendiri. Walau bingung, Ray mengikuti langkah kecil Vian yang menariknya. Tapi namanya penasaran, Ray menengok apa yang Vian lihat. Satu tarikan nafas, Ray berbalik menarik Vian menuju kasir. "Ayo...aku tau kau pasti harus cepat" ⛩⛩⛩ "Baby, kau baik baik saja?" Tanya Jayden saat Vian memasuki kamar mereka dengan wajah lesu, hari ini ia lebih dulu sampai dirumah dari pada Vian. "Tidak" jawab Vian singkat membuat kebingungan Jayden "Baby, hei are you okey?" Tanya Jayden lagi, menangkup wajah Vian dan meneliti setiap incinya. Tampak guratan lelah disana "biarkan aku istirahat Jay" Vian menyingkirkan tangan Jayden dari wajahnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Jayden merasa aneh dengan sikap Vian yang berbeda 360° dari tadi pagi yang ceria menjadi lesu, seakan ada beton besar yang bersarang dibenaknya. Tbc...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN